NYAWA DIBALAS NYAWA
Aku mencintainya. Entah
berapa kali aku harus mengucap syukur karna akhirnya dia dapat kumiliki. Aku tak
peduli meskipun dia adalah duda beranak satu yang baru saja ditinggal mati
istrinya. Yang jelas aku tak ingin segala pengorbanan dan penantianku selama
bertahun-tahun ini berakhir sia-sia.
Cintaku memang buta. Tak
peduli jika caraku salah, tak peduli jika orang tuaku tak mau lagi menganggapku
anak karena telah memilih dia. Aku tak peduli semua itu, aku bahagia hidup
bersamanya. Setidaknya beberapa tahun sebelum dia berubah.
***
Aku tengah berdiri
diambang pintu kamar tatkala Johan-suamiku-duduk di kursi balon yang terletak
di dekat jendela sembari memegangi figura berukuran besar. Dia ciumi foto di
dalam figura itu. Dia belai lembut dan dia pandangi dengan saksama setiap lekuk
tubuh seseorang di foto itu. Aku mulai muak dengan tingkahnya. Dengan dada
panas, aku banting pintu keras-keras dan dengan langkah pasti aku
menghampirinya.
“Sudah kubilang berapa
kali Mas, aku tak suka kau masih menyimpan segala hal tentang kenanganmu yang
dulu. Dahlia sudah mati. Jangan kau ingat-ingat lagi!” teriakku dengan suara
bergetar. Johan hanya memandangku sekilas, lalu kemudian memusatkan perhatiannya
kembali pada figura yang ada di hadapannya.
Hatiku sudah mulai
mendidih. Emosiku sudah tidak dapat dibendung lagi. Dengan sigap aku raih figura besar itu dan aku banting sekuat
tenaga ke lantai. “PYARRRR!” suara kaca yang beradu dengan porselin
mengeluarkan bunyi yang membuat hati miris.
“Kurang ajar kau
Inggrit! Lancang sekali kau!” tangan kekar Johan dengan sigap terangkat dan
mendarat dengan kasar di pipi kananku, menyebabkan aku tersungkur ke lantai. Kulit
yang beradu dengan kulit, membuat pipiku terasa panas luar biasa, namun hatiku
jauh lebih panas.
“Ka..kau.. lebih memilih
foto itu daripada aku? Iya mas? Lalu kenapa dulu kau menikahi aku jika sampai
sekarang kau masih terus saja mencintai Dahlia? Sadarkah kau Mas, aku sangat
mencintaimu melebihi Dahlia-Dahliamu itu?” jeritku dengan suara parau.
Johan seketika
berjongkok tepat di depanku sembari tersenyum. Dia belai
lembut rambut hingga pipiku. Namun dalam sepersekian detik berikutnya dia telah
menjambak rambutku dengan sangat kasar. Dia dekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat
aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang panas dan memburu.
“Dengar Inggrit sayang.
Aku memang mencintaimu, tapi aku jauh lebih mencintai Dahlia. Sampai kapanpun
tak akan ada yang bisa menggantikan dia di hatiku. Termasuk kamu.
Jadi kuperingatkan sekali
lagi padamu. Jangan pernah kau
mencampuri urusanku dengan Dahlia. Jika kau masih saja lancang, aku tak
segan-segan membuat perhitungan denganmu!” ucap Johan sembari melepas
cengkraman tangannya dari rambutku. Tanpa merasa bersalah sedikitpun dia
langsung berdiri dan berjalan ke luar kamar tanpa menoleh ke arahku.
***
“AMPUN MAS!” ucapku
mengiba setiap kali kepalaku muncul ke permukaan air.
“BLUP...BLUP...BLUP...”
suara gelembung yang tercipta dari udara yang berhembus di dalam air tatkala
kepalaku tenggelam di dalamnya. Bak mandi ini menjadi saksi bisu betapa
biadapnya suamiku menyiksaku tanpa ampun.
Nafasku mulai sesak,
kepalaku sakit tiada tara, dan aku sudah mulai lemas. Ucapan ampun terus saja
kulontarkan demi mengais sedikit rasa kemanusiaan yang mungkin masih dimiliki
suamiku. Namun percuma saja. Kurasa orang yang dulu sangat aku cintai ini telah
berubah menjadi manusia separuh serigala.
Aku benar-benar sudah
tidak kuat lagi. Tatkala kesadaranku hampir hilang, tiba-tiba Johan menarikku
dari dalam air dan menyandarkanku ke dinding dengan kasar.
“Kenapa kau tak bunuh
aku sekalian?” ucapku terbata-bata. Dadaku naik turun mengatur nafas. Aku melihat
Johan dengan pandangan sedikit agak kabur. Namun aku dapat melihat bahwa kini
dia tengah tertunduk dengan tangan masih mencengkeram erat di kedua bahuku. Aku
tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dia fikirkan sekarang. Yang jelas aku
ingin segera pergi dari psikopat ini.
“kenapa kau diam Mas? Hah
apa kau tidak cukup jantan untuk membunuhku!” mendengar perkataanku, Johan
langsung mendongakkan kepalanya. Menampakkan wajah garang dan jengkelnya
kepadaku. Namun demikian ternyata saat ini dia tengah menangis.
“DIAM KAU WANITA
JALANG!!” teriaknya tepat di depan wajahku.
“PLAKKK!” kini tak
hanya mulutnya yang berbicara, namun tangannya pun seakan tak mau tinggal diam.
Kurasakan tubuhku
menegang. Aku mengerang kesakitan. Sekujur tubuhku bergetar tiada tara. Aku sudah
tak sanggup lagi merasakan semuanya.
“Aku mencintaimu
Inggrit. Tapi kenapa harus kamu yang melakukan semua itu? Kenapa harus kamu
yang membunuh Dahlia? Kenapa?” tak kusangka Johan mengucapkan hal itu. Sejak kapan
dia tahu tentang penyebab kematian Dahlia? Mungkinkah ini yang menjadi penyebab
Johan menyiksaku selama ini?
Belum sempat aku
menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu, Johan telah melepaskan
cengkeramannya dari bahuku dan berbalik badan untuk meninggalkanku. Dengan sisa-sisa
tenaga yang kumiliki, aku raih pipa peralon besi yang bersandar di pojok kamar
mandi tak jauh dai tempatku berdiri. Aku melangkah lebih mendekat kepada Johan.
Kuayunkan pipa itu
tinggi-tinggi. Dan “BUKKKK!” keseimbangan tubuh dan tenaga yang sudah hilang
membuatku terjatuh dan membentur tepi bak mandi sebelum aku sempat memukul
kepala Johan. Darah segar keluar dari pelipis kananku. Kurasakan tubuhku
berguncang hebat. Aku kejang-kejang.
“INGGRITTTT!” aku
sempat mendengar suara Johan yang bergetar memanggil namaku sebelum sedetik
kemudian yang kulihat hanyalah awan hitam pekat yang menarikku menuju lubang
yang begitu menakutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar