Minggu, 08 Juni 2014

#DioramaKematian


NYAWA DIBALAS NYAWA

Aku mencintainya. Entah berapa kali aku harus mengucap syukur karna akhirnya dia dapat kumiliki. Aku tak peduli meskipun dia adalah duda beranak satu yang baru saja ditinggal mati istrinya. Yang jelas aku tak ingin segala pengorbanan dan penantianku selama bertahun-tahun ini berakhir sia-sia.
Cintaku memang buta. Tak peduli jika caraku salah, tak peduli jika orang tuaku tak mau lagi menganggapku anak karena telah memilih dia. Aku tak peduli semua itu, aku bahagia hidup bersamanya. Setidaknya beberapa tahun sebelum dia berubah.

***

Aku tengah berdiri diambang pintu kamar tatkala Johan-suamiku-duduk di kursi balon yang terletak di dekat jendela sembari memegangi figura berukuran besar. Dia ciumi foto di dalam figura itu. Dia belai lembut dan dia pandangi dengan saksama setiap lekuk tubuh seseorang di foto itu. Aku mulai muak dengan tingkahnya. Dengan dada panas, aku banting pintu keras-keras dan dengan langkah pasti aku menghampirinya.
“Sudah kubilang berapa kali Mas, aku tak suka kau masih menyimpan segala hal tentang kenanganmu yang dulu. Dahlia sudah mati. Jangan kau ingat-ingat lagi!” teriakku dengan suara bergetar. Johan hanya memandangku sekilas, lalu kemudian memusatkan perhatiannya kembali pada figura yang ada di hadapannya.
Hatiku sudah mulai mendidih. Emosiku sudah tidak dapat dibendung lagi. Dengan sigap aku  raih figura besar itu dan aku banting sekuat tenaga ke lantai. “PYARRRR!” suara kaca yang beradu dengan porselin mengeluarkan bunyi yang membuat hati miris.
“Kurang ajar kau Inggrit! Lancang sekali kau!” tangan kekar Johan dengan sigap terangkat dan mendarat dengan kasar di pipi kananku, menyebabkan aku tersungkur ke lantai. Kulit yang beradu dengan kulit, membuat pipiku terasa panas luar biasa, namun hatiku jauh lebih panas.
“Ka..kau.. lebih memilih foto itu daripada aku? Iya mas? Lalu kenapa dulu kau menikahi aku jika sampai sekarang kau masih terus saja mencintai Dahlia? Sadarkah kau Mas, aku sangat mencintaimu melebihi Dahlia-Dahliamu itu?” jeritku dengan suara parau.
Johan seketika berjongkok tepat di depanku sembari tersenyum. Dia belai lembut rambut hingga pipiku. Namun dalam sepersekian detik berikutnya dia telah menjambak rambutku dengan sangat kasar. Dia dekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang panas dan memburu.
“Dengar Inggrit sayang. Aku memang mencintaimu, tapi aku jauh lebih mencintai Dahlia. Sampai kapanpun tak akan ada yang bisa menggantikan dia di hatiku. Termasuk kamu.
Jadi kuperingatkan sekali lagi padamu.  Jangan pernah kau mencampuri urusanku dengan Dahlia. Jika kau masih saja lancang, aku tak segan-segan membuat perhitungan denganmu!” ucap Johan sembari melepas cengkraman tangannya dari rambutku. Tanpa merasa bersalah sedikitpun dia langsung berdiri dan berjalan ke luar kamar tanpa menoleh ke arahku.

***

“AMPUN MAS!” ucapku mengiba setiap kali kepalaku muncul ke permukaan air.
“BLUP...BLUP...BLUP...” suara gelembung yang tercipta dari udara yang berhembus di dalam air tatkala kepalaku tenggelam di dalamnya. Bak mandi ini menjadi saksi bisu betapa biadapnya suamiku menyiksaku tanpa ampun.
Nafasku mulai sesak, kepalaku sakit tiada tara, dan aku sudah mulai lemas. Ucapan ampun terus saja kulontarkan demi mengais sedikit rasa kemanusiaan yang mungkin masih dimiliki suamiku. Namun percuma saja. Kurasa orang yang dulu sangat aku cintai ini telah berubah menjadi manusia separuh serigala.
Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Tatkala kesadaranku hampir hilang, tiba-tiba Johan menarikku dari dalam air dan menyandarkanku ke dinding dengan kasar.
“Kenapa kau tak bunuh aku sekalian?” ucapku terbata-bata. Dadaku naik turun mengatur nafas. Aku melihat Johan dengan pandangan sedikit agak kabur. Namun aku dapat melihat bahwa kini dia tengah tertunduk dengan tangan masih mencengkeram erat di kedua bahuku. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dia fikirkan sekarang. Yang jelas aku ingin segera pergi dari psikopat ini.
“kenapa kau diam Mas? Hah apa kau tidak cukup jantan untuk membunuhku!” mendengar perkataanku, Johan langsung mendongakkan kepalanya. Menampakkan wajah garang dan jengkelnya kepadaku. Namun demikian ternyata saat ini dia tengah menangis.
“DIAM KAU WANITA JALANG!!” teriaknya tepat di depan wajahku.
“PLAKKK!” kini tak hanya mulutnya yang berbicara, namun tangannya pun seakan tak mau tinggal diam.
Kurasakan tubuhku menegang. Aku mengerang kesakitan. Sekujur tubuhku bergetar tiada tara. Aku sudah tak sanggup lagi merasakan semuanya.
“Aku mencintaimu Inggrit. Tapi kenapa harus kamu yang melakukan semua itu? Kenapa harus kamu yang membunuh Dahlia? Kenapa?” tak kusangka Johan mengucapkan hal itu. Sejak kapan dia tahu tentang penyebab kematian Dahlia? Mungkinkah ini yang menjadi penyebab Johan menyiksaku selama ini?
Belum sempat aku menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu, Johan telah melepaskan cengkeramannya dari bahuku dan berbalik badan untuk meninggalkanku. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku raih pipa peralon besi yang bersandar di pojok kamar mandi tak jauh dai tempatku berdiri. Aku melangkah lebih mendekat kepada Johan.
Kuayunkan pipa itu tinggi-tinggi. Dan “BUKKKK!” keseimbangan tubuh dan tenaga yang sudah hilang membuatku terjatuh dan membentur tepi bak mandi sebelum aku sempat memukul kepala Johan. Darah segar keluar dari pelipis kananku. Kurasakan tubuhku berguncang hebat. Aku kejang-kejang.
“INGGRITTTT!” aku sempat mendengar suara Johan yang bergetar memanggil namaku sebelum sedetik kemudian yang kulihat hanyalah awan hitam pekat yang menarikku menuju lubang yang begitu menakutkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar