Minggu, 29 Juni 2014

#NarasiSemesta


Menghangatkanmu

Sampai detik ini aku tak mengetahui alasan aku diciptakan. Untuk apa aku dimunculkan ke semesta ini?
Aku pernah mendengar makhluk bernama manusia berkata bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Dan di lain hari aku juga mendengar bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kata-kata itu selalu membingungkanku. Apakah aku juga harus beribadah kepada Tuhan, sedangkan aku sendiri pun tak mengetahui makhluk seperti apakah aku? Dan akankah aku bisa merasakan mati, sedangkan diriku sendiri juga tak pernah mengetahui, aku ini hidup atau mati.
***
Benda berbentuk lingkaran dengan dua tangan yang tidak sama panjang itu kini  telah tak bernyawa. Padahal kemarin aku masih melihat tangannya bergerak mengelilingi sebuah poros dan membelai lembut angka-angka yang mengelilinginnya. Aku sering melihat nenek tua yang tinggal bersamaku sering menatap benda itu. Seakan benda itu adalah benda ajaib yang mampu mengabulkan segala pintanya. Entahlah, yang jelas kini Nenek tak akan lagi menatap benda itu penuh harap karena benda itu kini telah sekarat.
Cahaya di tempat ini begitu temaram. Aku hanya mampu melihat sekelilingku samar-samar. Angin malam yang begitu menusuk iga telah menelusup melalui celah-celah di dinding bambu yang telah rapuh. Aku termangu sendiri. Kesepian dan rasa sedih kembali menyayat hati.
Cahaya semakin menghilang, suara panggilan untuk menghadap Tuhan-itu yang ku ketahui dari nenek-telah berdengung di berbagai penjuru semesta. Biasanya pada saat seperti ini Nenek akan membuka pintu di depanku itu.
“Ngeeeeeek!” suara pintu itu berdecit ketika seorang wanita tua muncul dari balik tubuhnya. Aku bersorak girang, walau mungkin tak ada satu pun yang mampu mendengarnya. Entahlah kenapa aku bisa begitu bahagia tatkala dia datang. Mungkin karena sekarang aku tak lagi kesepian. Andaikan bisa, aku ingin menyambut kedatangannya dengan senyuman dan pelukan terhangatku. Namun apa dayaku, bahkan untuk berpindah satu senti dari posisiku saat ini pun aku tak mampu.
Nenek itu berjalan terbungkuk mendekati sebuah botol kaca berisi minyak tanah. Dengan gemetar Nenek mengambil pemantik api yang ada di samping botol itu dan menyulutkan api ke sumbunya. Kembali aku tersenyum. Berkat botol berkepala api itu, kini tempat ini tak lagi gelap, udara pun tak lagi terlalu dingin.
Ahh, senangya ketika Nenek berjalan pelan ke arahku. Mengambilku dengan sentuhan lembut. Dia membiarkan ku untuk memeluknya. Sungguh ini yang aku harapkan setiap saat. Walaupun aku harus merasakan perih karena tertusuk peniti berkarat di beberapa bagian tubuhku. Dan meskipun aku harus menahan jijik karena mencium bau amis dan kecut yang berasal dari tubuh renta Nenek. Tapi inilah yang membuatku merasa hidup. Merengkuh tubuh tuannya, mendengar dengusan nafasnya yang putus-putus dari dekat.
Begitu lama Nenek berkomat-kamit mengucapkan mantra dan melakukan ritual yang aneh. Tapi biarlah. Semakin lama dia melakukan hal itu, semakin lama pula aku bisa merengkuhnya dalam hangatku.
Aku mencintaimu Nek, walau aku tak tahu arti dari kata mencintai. Aku hanya mengikuti kata-kata cucumu dulu, yang kini telah sangat lama tak pernah mengunjungimu.
***
Aku masih merengkuh Nenek seperti saat-saat sebelumnya. Hanya saja kini posisinya tengah berbaring di dipan kayu yang selalu berdecit itu. Tubuhnya panas, menggigil begitu hebat. Sekuat tenaga aku kerahkan seluruh dayaku untuk menghangatkannya, tapi kurasa itu tak berguna. Nenek tetap menggigil, tubuhnya bagian atas terasa begitu panas, namun kakinya sangat dingin. Aku mampu merasakannya karena tubuhku melingkupi seluruh tubuhnya. Bau badannya kini semakin tak enak, mungkin karena beberapa hari ini dia tak mandi.
Mak Ijem-tetangga sebelah rumah Nenek-kini tengah memijiti kaki Nenek yang gemetar. Dengan sabar dia terus melafalkan kata la illahailallah berulang kali. Entahlah apa artinya kata-kata itu tapi yang pasti bibir pucat Nenek dengan setia mengikutinya meski tertatih.
“minum!” kata Nenek tiba-tiba. Mak Ijem mengambilkan gelas kaca berisi air putih dan memasukkannya ke mulut Nenek.
“sudah?” tanya Mak Ijem ketika Nenek telah berhenti menelan air itu. Nenek pun mengangguk. Lagi, Mak Ijem memijiti kaki Nenek dan menyenandungkan kata-kata itu.
“assalamuallaikum!” terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“tolong bukain pintu Jem! Aku mendengar ada yang mengucap salam.” kata Nenek terbata-bata. Mak Ijem tak langsung beranjak dari posisinya. Dia hanya terdiam sembari menatap Nenek bingung.
“aku tidak mendengar ada yang mengucap salam. Mungkin kau mengigau.” Wajah Mak Ijem masih terlihat bingung.
Tidak. Tidak. Nenek benar, karna aku juga mendengarnya. Ayolah Mak, lekas buka pintu itu.
“sudahlah kau buka saja pintu itu! aku yakin ada orang di luar sana.” kata Nenek dengan nafas tersengal-sengal.
Mak Ijem berjalan menuju pintu itu. Pintu dibuka dan benar, tak ada orang di luar. Mak Ijem melangkahkan kakinya ke luar rumah guna memastikan benar-benar tidak ada orang di sekeliling rumah.
Mak Ijem kembali masuk ke dalam rumah dan menggelengkan kepalanya. “tak ada orang sama sekali di luar.” Katanya.
“yasud....” kata-kata Nenek terhenti. Seluruh badannya kurasakan menegang. Peluhnya seketika bercucuran. Nafasnya tersengal-sengal.
“ASTAGFIRULLAH!! ISTIGFAR MBAH ISTIGFAR! UCAP LAILLAHAILALLAH!” seru Mak Ijem gelagapan.
Aku bingung apa yang sedang terjadi pada Nenek. Kurasakan dingin mulai menjalari tubuh Nenek. Perlahan tapi pasti, mulai dari kaki naik terus hingga pada akhirnya seluruh  tubunya dingin. Aku tak lagi mendengar irama nafas dan degup jantung Nenek. Aku tak tahu  apa yang kini terjadi padanya. Kenapa Nenek sekarang tak bergerak? Dan kenapa Mak Ijem menangis tersedu-sedu memanggil-manggil Nenek?
Yang aku tahu ketika Nenek mengucapkan kata la illahailallah yang terakhir kalinya, ada makhluk besar yang berdiri di samping tubuh nenek.
***
Aku berjanji untuk terus menghangatkan Nenek sampai kapanpun. Untuk itulah aku masih setia menemani Nenek yang terus saja diam membisu di dalam ruangan yang sangat gelap dan pengap ini. Aku benci tempat gelap, tapi mau bagaimana lagi, hanya dengan ini aku bisa memeluk Nenek.
Kami berdua meringkuk dalam diam. Aku mencoba mengajaknya bicara, namun percuma karna memang aku tak bisa bicara. Aku menyerah. Aku pandangi seluruh ruangan ini. aku tak bisa melihat apapun karena memang sangat gelap. Hingga tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara hentakan kaki yang sangat keras.
Nenek seketika terbangun karena hentakan itu. Matanya menyiratkan ketakutan. Aku terus memeluknya erat-erat.
man Rabbuka?” salah satu dari makhluk super besar di depanku ini bertanya pada Nenek. Kata-kata yang mampu membuatku bergetar hebat.
Allah Rabbuka!” jawab Nenek lantang. Sebersit senyuman kini merekah di bibirnya. Entahlah apa yang dia katakan, yang jelas aku kini terus memeluknya.







Diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi  #NarasiSemesta (sudut pandang benda mati).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar