Minggu, 11 Januari 2015

#KaramDalamKata



Laut Belantara

Lana
Dari dulu aku selalu ingin menjadi seperti Lufi, si bajak laut One Peace. Bisa menjelajahi seluruh lautan di dunia dan bisa hidup bebas di tengah lautan.
Masih kuingat lekat semua keinginanmu dulu yang kau katakan padaku. Dulu mungkin kita masih pubertas dan aku sama sekali tak menganggap semua keinginanmu itu adalah masalah besar.  Hingga saat ini, aku benar-benar mengutuki apa yang kau ucapkan itu. Aku benci laut yang telah menggodamu dan membuatmu selalu ingin bercumbu dengannya.
Kini aku tengah menginjakkan kaki di atas kapal pesiar berbintang lima, JackStar. Selama seminggu aku dan si kapal molek ini akan menjelajahi tubuh salah satu kekasihmu, lautan Hindia. Keberadaanku di atas kapal milik Australia ini untuk menghadiri acara pertemuan para pemegang saham, tapi terlepas dari itu aku juga ingin mencarimu. Kabar yang terakhir aku dengar adalah bahwa kau bekerja di kapal pesiar ini.
Aku berjalan sendirian di atas geladak utama kapal. Kemudian bersandar pada pagar besi pengaman sisi kapal. Kusapu pandangan ke sekeliling. Dan sepanjang mata memandang yang kulihat hanya hamparan lautan. Menyebalkan! Betapa cantiknya kekasihmu ini, pantas saja kau begitu mencintainya.
***
Alan
Masih ada tiga gelas minuman di atas nampan yang aku bawa. Aku masih harus menawarkan minuman ini pada tamu-tamu yang mungkin saja kehausan. Cuaca di samudra Hindia pada puncak musim kemarau seperti ini memang sangat panas.
excuse me miss, do you want to have some drink?” Dengan sopan aku menawarkan minuman pada wanita yang sedang melamun di atas geladak utama. Begitu mendengar suaraku dia langsung berbalik menghadap ke arahku.
Softdrink please...” wanita itu menghentikan kata-katanya mendadak setelah melihatku. Beberapa detik berlalu , namun wanita itu tetap saja diam. Keningku seketika berkerut, dia melihatku seperti bukan melihat manusia.
“Alan...” pekiknya kemudian.
“Anda orang Indonesia? Kok anda tahu nama saya?” Aku bingung apakah aku pernah kenal dengan orang ini sebelumnya atau tidak. Demi dapat mengingat ingat siapa orang ini, mataku menjamahi seluruh senti tubuhnya.
***
 Lana
Aku tak menyangka akan secepat ini bisa bertemu denganmu Alan. Padahal baru saja aku akan bergerak mencarimu, tapi kau malah yang menghampiriku.
“Berarti benar kau Alanku yang dulu?” Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri.
“Alanmu yang dulu? Maksudmu apa?” kebingungan terlihat jelas menguasai raut wajahmu.
“Apa kamu sudah menjadi seperti keinginanmu waktu SMP dulu? Menjadi Lufi yang menguasai lautan?” Kerutan di keningmu semakin kentara. Aku tersenyum kecut.
“Sebenarnya apa yang kamu ka..?” Dia menghentikan kata-katanya. Matanya membulat. “Apa mungkin kamu Lana, sahabatku waktu SMP dulu?”
“Hah, basi. Dari dulu kau selalu menganggapku tak lebih dari sahabatmu.” Aku membuang muka.
***
Alan
Kalau kata orang Biar waktu yang mengubah semuanya, menurutku itu benar. Lihat saja Lana. Dulu dia tidak seperti ini. Dulu panjang rambutnya tak pernah melebihi bahu, dia selalu memakai kaca mata minus dan kulitnya tak sebening seperti sekarang ini. Dia benar-benar berubah.
Kuletakkan nampan berisi minuman tadi di atas meja yang berada tak jauh di belakangku. Aku mengambil dua gelas minuman, yang satu untuk Lana, dan yang satu untukku. Kuangsurkan gelas berisi jus melon kepadanya.
“Apa kabar kamu Lan? Sudah Lama kita tak bertemu.” Kataku basa basi, tapi mungkin ini memang benar-benar basi.
“Apa menurutmu aku akan baik-baik saja setelah ditinggal seseorang tanpa pernah ada kabar?” Dia memandangku lekat. “Ah sudahlah, kamu nggak akan pernah ngerti. Kamu juga nggak akan pernah mengerti isi surat yang aku hanyutkan ke laut dulu.” Lanjutnya sembari menahan tangis.
“Aku tahu isi surat itu. Begitu pula dengan isi hatimu.”
“Apa maksudmu?” tanyanya terkejut.
“Angin yang budiman telah berbaik hati mengantarkan botol berisi surat itu padaku.” Aku tersenyum simpul.
“Kenapa bisa? Bahkan kamu pergi tanpa pernah membalas surat itu jika kamu benar-benar membacanya. Walau aku tahu kamu tak pernah mencintaiku, tapi setidaknya jangan membuatku berharap lebih padamu.” Satu dua tetes airmatanya mulai luruh.
Aku menghela nafas berat. “Aku mencintai laut karna dulu kupikir dia bisa menjadi temanku, tempatku berlari dari kenyataan hidupku yang tidak menyenangkan. Kau tahu sendiri ibuku adalah pelacur, dan ayahku pengangguran kasar yang suka mabuk-mabukan. Aku pikir di sini aku bisa berteman dengan laut dan apapun yang ada di sekitarnya. Tetapi aku salah, ternyata laut sangat kejam. Aku tak punya teman di sini. Sepi dan dingin. Aku kadang merindukan ibu dan ayah. Tapi lebih sering merindukan kamu, Lana.”
***
Lana
Mataku membelalak. Berulang kali memastikan apakah kata-kata itu benar diucapkan Alan. Kukira selama ini dia sangat mencintai lautan. Tapi kenyataannya lautanlah musuh terbesarnya.
“Angin berhembus menerbangkan dedaunan kering kemanapun ia sukai, dan daun kering tak mampu melawannya. Ia hanya mampu pasrah menerima takdir, entah kemana angin akan membawanya. Bila angin itu baik, ia akan membawa daun kering ke taman yang indah. Sedangkan angin yang jahat, dia akan menerbangkan daun kering ke tempat sampah yang sangat menjijikkan. Begitu pula denganku. Angin telah menerbangkanku ke tempat yang sama sekali tak pernah aku ketahui sebelumnya. Pada awalnya kukira angin yang membawaku adalah angin yang baik, namun sayang, angin ini adalah angin jahat yang membawaku jauh dari orang-orang yang aku cintai.” Belum sempat aku menanyakan apa yang baru saja dia katakan, dia kembali berkata panjang lebar.
***
Alan
Aku sebenarnya muak mengatakan ini semua, tapi entah kenapa mata Lana mampu menghipnotisku dan membuatkku mengakui semuanya.
“Apakah salah satu orang yang kamu cintai itu adalah aku?” Pertanyaan yang aku takutkan keluar dari bibir tipisnya, akhirnya terucap juga.
Aku tak kuasa menatap matanya. Aku merasa hina setiap kali ada air bening yang menggenangi matanya. “Ya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu?” Jawabku kemudian.
“Lalu kenapa dulu...” Lana menghentikan kata-katanya, membuatku tak kuasa menolak untuk kembali memandang wajahnya. “Ah sudahlah, tak usah membahas masalah yang lalu. Sekarang kita mulai semuanya dari awal saja. Anggap kita baru saja ketemu dan kita menjalin hubungan yang lebih serius dari awal. Bagaimana?” matanya yang berbinar menyiratkan kebahagiaan yang teramat sangat, kurasa.
“Tidak. Tidak mungkin.”
“Loh kenapa tidak? Kita sama-sama mencintai, apakah tidak mungkin kita bisa sama-sama menjalin cinta yang serius?” Dia memegang lenganku dengan erat.
“Kau tahu Lana, kehidupan di laut itu seperti kehidupan di hutan belantara. Liar, sangat liar seperti hewan.”
“Apa maksudmu?” Dia semakin memburu ku.
“Aku mengidap HIV, dan aku telah berhubungan dengan banyak laki-laki....”



#Diikutkan dalam tantangan menulis Kampus Fiksi #KaramDalamKata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar