Rabu, 23 April 2014

#KuisHariBukuDunia


 
Stasiun Balapan

Mataku liar memandangi segala yang ada di sini dari sudut ke sudut, bahkan hingga celah terkecil sekalipun. Kuhirup udara di tempat ini dengan sangat haus. Dan aku tajamkan telinga, berusaha mendengar dengungan-dengungan suara mirip rombongan lebah yang di hasilkan oleh mulut-mulut manusia yang tengah berjejal. Juga suara bising dari roda besi yang beradu dengan besi. Aku rasakan sensasi yang selalu aku rindukan. Udara pengap, makhluk-makhluk yang berlalu-lalang mengurusi urusannya masing-masing, suara bising, dan apapun yang telah mampu menjadi candu untukku. Candu yang membuatku ketagihan untuk bisa datang ke sini lagi, lagi, dan lagi.
Ini sudah tanggal tujuh belas yang ke tiga puluh enam kalinya, dan aku hanya melewatkan satu kali rotasi bumi ini dengan duduk menekur seorang diri. Ya, tak pernah ku lewatkan sekalipun, sejak tanggal tujuh belas tiga tahun yang lalu. Inilah tempat terakhirku melihatnya dulu. Ketika dia berjanji untuk kembali pada tanggal yang sama. Entah pada tahun yang keberapa, dia tak bisa memastikan. Waktu itu aku hanya mengangguk. Percaya bahwa ia akan kembali. Tak peduli walaupun aku harus menghitung tanggal tujuh belas hingga beratus kali, aku akan tetap menunggunya di sini.
Hingga hari ini, aku sedang melakukan ritual yang sama seperti tanggal tanggal tujuh belas sebelumnya. Tak peduli tatapan sinis para petugas yang silih berganti berjalan di depan atau di belakangku. Aku hanya terduduk, terpaku sembari melihat ular-ular besi mega besar itu berseliweran di depan mataku. Aku pandangi setiap manusia yang keluar dari perut-perutnya, siapa tahu dia muncul dengan sorotan matanya yang bagai rembulan gading itu . Namun hingga detik ini sudut-sudut mataku belum juga menemukan sosok gagah itu.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan gontai menyusuri area ini. Kupasrahkan kemanapun kakiku akan berpijak dan membawaku pergi. Otakku sudah terlalu lelah untuk berfikir, hati ini sudah terlalu lelah untuk merasa, dan mata ini sudah terlalu jenuh untuk meneteskan air mata.
Aku terus berjalan, berusaha mencari kelonggaran hati dan ketenangan fikiran. Hingga langkahku tiba-tiba terhenti tatkala melihat seorang wanita paruh baya tengah menjajakan dagangannya. Dengan tangguh dia menggendong bakul besar yang entah isinya apa, di tangan kanannya dia menenteng keranjang berisi berbagai macam jajanan pasar, dan lagi, tampah dari anyaman bambu itu dengan patuh bertahta di atas kepalanya. Aku mendekat ke arah wanita itu. Kemudian sedikit berlari karena wanita itu hendak meninggalkan tempat itu.
“Bu beli!” sahutku sebelum wanita itu enyah dari pandanganku.
“oh iya neng.” Wanita itu tersenyum dan menurunkan bakulnya kembali ke lantai tatkala iya akan mengangkatnya ke dalam gendongannya. “beli apa neng?” lanjut wanita itu ketika mengetahui aku sudah ada di sampingnya.
“aku beli semua jajanan pasar ini Bu, tapi masing-masing makanan dua ya Bu.” Kataku sembari sibuk mengamati masing-masing dari makanan itu.
“wah kok beli banyak banget neng?” tanya ibu itu penasaran, sembari memasukkan makanan yang tadi aku pesan ke dalam plastik.
“hahaha pacar saya suka banget jajanan pasar Bu.”
“oh berarti pacarmu ada juga di sini.”
“iya.” Jawabku berbohong sembari tersenyum hambar.
Setelah transaksi jual beli itu berakhir, aku putuskan untuk rehat sejenak di sebuah bangku sunyi di sebelah utara rel kereta. Aku buka bungkusan makanan yang baru saja aku beli tadi. Aku ambil salah satunya, serabi. Ahh, ini adalah makanan yang paling dia sukai, dan aku ingat ketika dia mebisikkan sesuatu padaku pada waktu senja di gazebo rumahnya dulu. Kamu tahu nggak, kamu itu layaknya kue serabi ini. Cantik di luar dan nikmat di dalamnya. Nikmatnya bahkan sampai nembus ke hati dan menyeruak ke ubun-ubun. Hmm kamu itu putih, halus, lembut, wangi, dan mempesona seperti serabi ini. hehehe candanya dulu kepadaku.
Aku terus mengunyah serabi ini sedikit demi sedikit. Ketika lidah baru saja mencecap makanan ini memang rasanya begitu manis, namun semakin lama aku mengunyah rasanya semakin hambar bahkan hampir menjurus ke pahit. Ada apa ini? tidak biasanya aku merasakan serabi yang seperti ini, hambar, getir, pahit. Hmmm memang semuanya tak semanis tatkala dia ada di sini. Tiba-tiba ada air bening yang terdorong ingin keluar dari naungannya. Tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku gigit bibirku kuat-kuat agar tangis ini tidak menjadi-jadi, tak peduli jakalau ada darah segar yang mungkin akan membuat bibir pucatku ini menjadi merah. Aku tak ingin ketika dia nanti datang, dia akan melihatku menangis. Aku tak ingin dia berspekulasi bahwa aku telah jemu menantinya.
Berulang kali aku enyahkan bisikan-bisikan setan yang selalu saja menggodaku. Bodoh!! Apa yang kau lakukan? Ini tak ada gunanya! Apakah dengan kau selalu menunggunya, selalu merindunya, dan selalu menangisinya dapat membuat dia segera pulang? Apakah kau tidak sadar, bahwa saat ini dia telah melupakanmu, dia telah bahagia dengan wanita lain yang jauh lebih menarik darimu? Aduhai malangnya kau, menunggu cinta yang tak pasti selama bertahun-tahun. Andaikan kau sadar sedari dulu, tentu kau tak akan merana seperti ini. Bisikan itu terus saja datang, menghujam dan menikam keyakinanku. Kukerahkan seluruh ketulusan perasaanku untuk menghalau bisikan hina itu, namun logikaku terus saja membenarkan bisikan itu dan tak mau bersinergi dengan perasaanku.
Aku tak kuat, aku rapuh. Segera saja kupejamkan mataku. Kuhirup dalam dalam udara pengap ini, mencoba merasakan udara yang sama seperti tiga tahun lalu. Perlahan kubuka kenangan yang terpatri rapi dalam fikiranku. Kuputar kembali rekaman suaranya di memori otakku. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan tiga tahun yang lalu.
Aku berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
Ahhh.. kata-kata itu selalu bisa membuat hatiku ringan, terbang melayang. Aku sibakkan kesedihan yang tengah menggelayutiku. Aku ukir senyum indah di dasar lubuk hatiku. Aku kecanduan. Aku ulangi mengingat kata-kata itu lagi....
Aku berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
dan saat ini aku bayar lunas segala janjiku Putri...
Aku terkejut. Sepertinya ada yang salah dengan otakku. Kenapa ada kata tambahan yang tak pernah ia ucapkan dulu? Ahh mungkin aku mengigau karena terlalu keras berfikir. Aku ulangi sekali lagi mengingat kata-kata itu.
Aku berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
dan saat ini aku bayar lunas segala janjiku Putri...
Kurasakan hembusan hangat di telinga kananku. Bau nafas yang sepertinya aku kenal, sangat kenal. Aku singkap kelopak mataku buru-buru. Aku tengok sesuatu yang ada di atas pundak kananku. Hidungku menyentuh lembut hidungnya yang mancung. Matakku beradu dengan matanya. Senyumnya terkembang, membuat cekungan indah yang ada di pipi kanannya terlihat kentara.
“ROYYYY!!!”  Jeritku menyebutkan namanya. Tak ada balasan suara yang keluar dari mulutnya, hanya tangan kekarnya yang bertindak cepat menarikku ke dalam rengkuhannya. Aku membeku seolah tak percaya. Apakah mataku sudah benar-benar terbuka? Aku takut aku hanya sedang bermimpi dan ketika kubuka mataku, semua ini akan hilang dan kembali seperti sediakala. Tapi, hei lihatlah! Aku bisa merasakan betapa sesak tubuhku dicengkeram oleh tubuhnya. Aku benar-benar bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Ini nyata, ini bukan maya!
“Aku menepati janjiku Putri. Dan sekarang hutangku sudah lunas. Bisiknya kepadaku di sela-sela rengkuhannya.
“Lantas kau mau mengambil kembali jaminannya?” Tanyaku di sela isak tangis.
“Hmm jaminannya nyawaku bukan?” Tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
“Kalau begitu jaminan ini akan ku serahkan padamu saja. Dan tak akan kuambil selamanya. Kau tahu kenapa?” Dia bertanya lagi dan aku hanya menggeleng.
“Karna aku berjanji tak akan pernah lagi meninggalkanmu Putri, karna nyawaku ada pada dirimu.” Tandasnya.
Aku tersenyum mendengarnya, hatiku tersenyum, mataku tersenyum, bahkan ku rasakan semuanya yang ada di tempat ini ikut tersenyum melihat kebahagiaanku.
Aku tak ingin melepasnya lagi. Dan Stasiun Balapan ini menjadi saksi betapa panjang panantianku selama ini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar