Kupu-kupu
Terbang Tak kembali
“Bulan suci Ramadhan sudah tiba.
Maka dari itu kita akan menggelar razia prostitusi, miras, dan perjudian. Razia
ini akan digelar beberapa kali dan di beberapa tempat di Kota Jati ini.
Kita mulai razia prostitusi
malam ini juga. Saya kemarin mendapat laporan dari masyarakat kalau di daerah
Semanggi ada kawasan prostitusi liar. Nanti malam pukul sebelas kita akan
terjun ke lokasi. Ingat usahakan jangan
sampai ada yang kabur,” ucap Pak Triyatno, Kepala Satpol PP daerah Jati pada
apel pagi ini.
Aku hanya bisa menghela nafas
berat. Dari semua tugas-tugasku, inilah tugas yang paling tidak aku sukai.
Berurusan dengan para kupu-kupu malam. Karena itu membuatku teringat tentang
masa laluku.
***
Tepat ketika aku tengah melihat
jam tanganku, mobil Satpol PP yang aku tumpangi telah memasuki jalanan di tengah perkebunan milik warga. Menurut
informasi yang diberikan warga, daerah ini merupakan daerah yang sering
digunakan untuk kegiatan prostitusi liar. Pasukan yang diterjunkan untuk
melaksanakan razia ini ada dua puluh orang. Kami dibagi dalam dua mobil, dan
aku ikut dalam rombongan mobil pertama.
“Itu di sana!” seru salah
seorang teman yang duduk di sampingku. Dia menunjuk sebuah warung kopi remang-remang berdinding anyaman bambu. Gubuk
itu kukira berukuran lima belas kali sepuluh meter.
Ketika mobil berhenti tepat di
depan warung itu, seluruh pasukan dengan
sigap turun dari mobil dan berhamburan masuk ke dalam. Terdengar beberapa
teriakan wanita yang sedang duduk-duduk di dalam warung. Beberapa teman praja
menangkap wanita-wanita itu dan menggelandangnya ke atas mobil. Sedangkan aku
ditugasi untuk menggrebek orang-orang yang sedang melakukan tindakan asusila di
bilik-bilik yang ada di warung ini.
Aku berjalan tergesa masuk ke
dalam sebuah ruangan yang terdiri dari lima bilik yang hanya di sekat dengan
papan tripleks dan berpintu korden. Delapan praja termasuk aku telah bersiap di
depan bilik-bilik ini.
“Kita suruh mereka keluar atau
kita langsung masuk dan grebek mereka?” tanyaku berbisik pada teman praja yang
lain.
“Langsung grebek saja, takutnya
mereka akan kabur lewat pintu darurat yang mungkin sudah mereka buat,” ucap
Anton, sambil berbisik juga.
“Baiklah. Satu! Dua! Tiga!”
hitungku yang langsung merangsek masuk ke dalam bilik yang ada di depanku.
Begitu aku telah berada di dalam
bilik, aku menemukan seorang wanita berbikini merah tengah menindihi seorang laki-laki yang
bertelanjang dada. Mereka tidak
melakukan hubungan intim, belum lebih tepatnya. Hanya saja ketika aku masuk mereka
tengah berciuman. Ciuman yang seketika mereka akhiri ketika mendengar hentakan
kakiku ketika masuk ke bilik. Kedua orang itu menoleh ke arahku.
“Riska!” pekikku ketika melihat
wajah wanita yang menindih laki-laki tadi. Seketika tubuhku bergetar hebat,
jantungku berdegup beberapa kali lebih cepat, kurasakan nyeri yang teramat
sangat di ulu hatiku.
Wanita itu sama terkejutnya
seperti aku. Dia tidak banyak berubah. Hidung bangirnya, kulit putihnya, pipi
tirusnya, tubuh langsingnya, dan ahh bibir merah mudanya masih persis seperti ketika
terakhir kali kulihat.
“Ma..mas Rizal,” ucapnya
terbata. Dengan jelas kulihat bibir tipis itu bergetar ketika mengucap namaku. Bibir
merah muda yang telah dinodai oleh laki-laki bejat di sampingnya itu.
Aku masih diam terpaku. Tak mampu
berucap, pun tak mampu menggerakkan tubuhku. Ini seperti mimpi . Tak mungkin, ini tak mungkin terjadi.
“Ada apa Zal?” tanya Anton
khawatir karena melihatkku seperti orang yang kesurupan. Aku masih diam
mematung, tak menjawab sepatahkata pun. “Hei kalian berdua, cepat keluar dan
ikut kami ke kantor polisi!” hardik Anton sembari memukul dinding tripleks yang
ada di sampingnya.
Mereka berdua lalu bangkit dari
posisinya semula dan beranjak keluar dengan kepala menunduk. Namun sebelumnya Si
laki-laki hidung belang itu mengenakan bajunya terlebih dahulu. Aku dan Anton
menggiring mereka berdua dan pasangan bejat yang lainnya ke luar, untuk
kemudian menaiki mobil Satpol PP. Aku membuntuti Riska tepat di belakangnya. Bahunya
bergetar dan sayup-sayup kudengar suara sesenggukan. Oh Tuhan Riska menangis. Kutatap nanar punggung putih mulus yang
bergetar itu.
“Woi! Yang pakai baju merah
kabur!” seru salah seorang teman yang membuyarkan lamunanku. Sejak detik itu aku sadar bahwa Riska telah kabur.
Sekelebat aku masih bisa melihat
Riska yang berlari menuju kebun milik warga. “Biar aku saja yang ngejar!”
ucapku pada teman praja yang lain. Dengan sigap aku berlari sekencang yang aku
bisa agar tidak kehilangan jejak Riska.
Awalnya aku memang kehilangan
jejak wanita itu karna di kebun ini tak
ada lampu yang menerangi. Hanya temaram cahaya bulan yang memberiku sedikit
pencerahan. Namun beberapa saat aku mencari, ujung mataku menemukan sesuatu
berwarna merah yang bersembunyi dibalik pohon asem. Kupelankan langkahku agar
tidak terdengar olehnya. Dan hap! Kuraih tangannya dan kutarik ia ke dalam
pelukanku. Pelukan yang sangat erat, seakan ia tak akan pernah kulepaskan.
Tangisnya pecah dipelukku. Aku semakin
mengencangkan rengkuhanku. Kuciumi ubun-ubunnya. Kuelus lembut rambutnya.
“Kamu ke mana saja Ris? Setahun ini
aku mencari kamu. Kenapa kamu malah menghilang dan membuatku jadi gila setengah
mati?” ucapku dengan suara parau, ada air yang menggenangi bola mataku.
Tak ada jawaban. Dia hanya
menangis dan terus menangis, membuatku semakin merasa iba.
“Apa ini pekerjaanmu sekarang? Ini
pekerjaan keji dan penuh dosa! Segeralah
bertobat Ris selagi ini bulan puasa, bulan penuh pengampunan. Kembalilah padaku
dan kita mulai semuanya dari awal lagi. Hapus semua kesalahan kita yang dulu,
yaa.”
Mendengar perkataanku seketika dia
meronta dan mendorong tubuhku ke belakang. Tak ayal aku terpaksa melepaskan
rengkuhanku.
“Hah dosa? Keji? Puasa? Bulsyit Mas!
Dasar munafik! Kamu sekarang bisa bilang begitu sama aku? Terus perbuatan kamu
yang dulu itu harus dibilang apa?” ucap Riska setengah berteriak. Matanya nyalang,
emosinya meletup-letup tak terkendali.
“Ta..tapi Masmu ini sudah tobat
Ris, aku sudah bukan Rizal yang dulu. Aku berjanji untuk tidak mengulangi itu
semua. Aku ingin menjalani bulan Ramadhan ini secara damai, dengan kamu
tentunya. Aku ingin bisa tadarus, sholat berjamaah, dan sahur bersama kamu Ris.
Aku ingin kamu kembali seperti Riska yang dulu, istriku yang manis dan
sholekhah.” Tangisku benar-benar berderai.
“Hahaha dasar bodoh kau Mas! Kamu
tidak ingat ya, siapa yang meninggaalkan aku ngaji, sholat, buka, dan sahur
sendirian di rumah? Bahkan kamu pernah
seminggu tidak pulang demi bercumbu dengan banyak kupu-kupu malam, haa?
Dasar laki-laki bodoh! Bahkan aku
menjadi seperti sekarang ini karena aku iri dengan wanita-wanita jalang itu
yang selalu mendapatkan cintamu, sedangkan aku? Hah kurasa kau pun sama sekali
tak pernah mencintaiku Mas.”
Segala ucapan Riska telah mampu
membuatku bertekuk lutut di depannya. Semua yang dia katakan begitu menohok dan
memang semua itu benar.
“Riska.. mas minta ma..af.”
“Tak perlu minta maaf Mas karna
semuanya sudah terlambat. Cukup kau biarkan aku bebas menikmati duniaku yang sekarang,
aku bahagia seperti ini,” ucap Riska dan kemudian dia berlari masuk ke dalam
rimbunnya semak-semak hingga tak terlihat lagi oleh mataku. Meninggalkanku bersimpuh
sendirian dengan setumpuk penyesalan.
Kini
kupu-kupu manisku telah pergi jauh ke dunia gelap yang menenggelamkannya ke dalam
lumpur dosa dan kenistaan.
Diikutkan dalam tantangan menulis @KampusFiksi #EkspresiPuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar