8 Kesalahan Penulisan
Novel
Ada 8 Kesalahan Penulisan
Novel yang umum dilakukan oleh penulis, walaupun sudah beberapa kali
menghasilkan novel. Jangan khawatir, kesalahan itu bisa dihindari, atau
diperbaiki, kok. Namun, ada 1 kesalahan
fatal yang kamu lakukan saat menulis novel, yaitu gagal menyelesaikannya. Yeap, kesalahan yg lainnya dpt diperbaiki,
kecuali satu itu. Gagal menyelesaikan cerita novel.
1. Kamu mencoba mengetik dan mengedit pada saat yang sama.
Saat
kamu menulis, di otak kamu direcoki oleh berbagai aturan, jangan ini, lakukan
itu, dll. Semua aturan itu menggerogoti tulisanmu. Jadi, saat kamu menulis, tulis saja. tinggalkan saja
aturan-aturan itu, tinjau lagi saat proses editing. Memang ada beberapa penulis
yang bisa mengedit selagi menulis. Ini tergantung gaya penulismu, sih. Pilih
mana yang sesuai dengan gayamu.
2. Tidak ada konfilk. Semua tokohmu baik-baik saja. Kisahnya lemper--eh lempeng aja.
Dalam
novel Anna Karenina, Tolstoy mengawali: Keluarga bahagia semua serupa, setiap
keluarga tak bahagia, tak bahagia dalam jalannya sendiri. Orang bahagia, tak
peduli betapa bagusnya mereka dalam dunia nyata, namun dalam fiksi itu
membosankan. Jika semua tokoh dalam novelmu bahagia, para pembaca tak punya
alasan untuk membacanya. Tentu saja boleh memiliki akhir bahagia, tapi pastikan
bahwa karaktermu menderita, buat mereka berusaha meraih kebahagiaannya. Sesuatu
yang layak untuk diperjuangkan. Dan bagaimana mereka meraihnya. Seperti dalam
kehidupan nyata, tak peduli betapa pun kita menyayangi orang, meski demikian
kita terkadang jengkel pada mereka. Pikirkan hubunganmu dengan saudara, atau
kekasihmu. Berapa sering kamu setuju pada setiap tindakan dan ucapan mereka?
3. Novelmu mudah ditebak.
Beberapa
waktu lalu, dalam fiksi roman, kisah idol jatuh cinta dengan penggemarnya
sedang in. Kalau ingin tulis novel bertema kayak gini, lakukan. Namun, ingat
pembaca roman fiksi, mereka pasti banyak baca cerita serupa. Mereka tahu
kecenderungan kisah novel seperti itu. Berilah kejutan pada kisah novelmu.
4. karakter tokohmu klise, atau stereotipikal
Dalam
setiap genre dalam fiksi pasti punya kekliseannya. Hindarilah, jika bisa. namun
terkadang mereka tak terelakkan. Apa jadinya teenlit tanpa tokoh ketua OSIS,
pemain basket, gadis super populer dan gadis culun, lugu? Jika kamu harus
menggunakan karakter tokoh yang klise, buatlah tokohmu itu klise tapi spesial.
5. Karakter utamamu nyebahi, nyebelin.
Jika
karakter utama novelmu perengek, penggerutu, pembaca akan lempar novelmu ke
dinding. Karakter utamamu punya kualitas yang bisa dibanggakan. beri masalah
yang berat pada karaktermu dan kekuatan untuk mengatasinya. Dalam dunia nyata,
kualitas seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia menghadapi masalah, cara
dia mengatasi masalah itu. Begitupun dalam fiksi.
6.
Kamu menulis
saat kamu bosan.
Well,
saat kamu bosan dengan naskahmu, para pembacamu kemungkinan besar juga akan
bosan.
7. Kamu menulis apa yang tak kamu baca, apa yang tak kamu kuasai.
Menggiurkan
untuk beralih pada genre yang kini sedang in, apa pun itu. Kalau kamu nggak
bisa—suka—baca kisah genre fantasy, kamu nggak akan menulis kisah bergenre
fantasy. Jika memang kamu ingin menulis sebuah tema yang tidak kamu kuasai,
maka pelajari dulu, riset, tanya pada orang yang lebih tahu. Lewat data yang
lengkap dan komprehensif, maka tulisanmu akan hidup.
8. Semua karakter tokoh-tokohmu serupa.
Dalam
naskah pertama, tugasmu adalah menulis hingga novelmu selesai.
Naskah
kedua, sudah waktunya berpikir tentang karakter2 tokoh dan pastikan setiap
karakter bertindak dan berbicara seperti dirinya sendiri. Perhatikan dalam
setiap dialog antar tokoh.
Menulis novel memang pekerjaan yang besar, namun hasilnya sepadan. Mudah banget bikin kesalahan saat menulis. Segera setelah kamu menyadarinya, lakukan yang terbaik untuk memperbaikinya. Mudah banget bikin kesalahan saat menulis, Segera setelah kamu menyadarinya, lakukan yang terbaik untuk memperbaikinya. Oke?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar