Pia
"Aku
hamil," katamu sembari tersenyum. Kulihat wajahmu yang ayu itu diselimuti
rasa bahagia luar biasa. Namun tak begitu pula denganku. Apa yang baru saja kau
katakan membuat hatiku menjadi panas. "Akhirnya aku bisa memenuhi kemauan
ibuku,” lanjutmu masih dengan rona kebahagiaan.
Angin berembus kencang di atas kapal feri ini.
Senja di Selat Bali memang tak pernah mengecewakan. Banyak orang yang
berlalu-lalang di lantai bawah, namun hanya kami berdua yang berada di atas dek
ini. "Apa dengan kamu hamil, ibumu akan merestui hubungan kita?"
Mataku tajam menusuk ke dalam mata wanita di depanku ini.
"Hhuhhh.”
Dia mendengus pelan. "Sampai mati pun, ibuku tak akan pernah merestui
hubungan kita." Ada amarah dalam nada suaranya. Aku tersenyum. Ibumu benar.
Hanya ibu gila yang membiarkan anaknya menjalin hubungan tak sehat seperti ini.
"Entah
ibumu setuju atau tidak, aku tak peduli. Aku tidak takut jika ibumu akan
benar-benar membunuhku seperti yang dia ancamkan waktu itu. Justru yang aku
takutkan saat ini adalah kau." Sontak dia menoleh ke arahku. Matanya yang
belok seketika membesar. Raut kebingungan merayapi wajahnya.
"Apa
maksudmu?” Kulihat bibirnya sedikit bergetar. Aku tertawa hambar. Kusulut sebatang
rokok dan mengisapnya berlahan. Asap rokok yang menggumpal kini mengisi
kekosongan di antara kami berdua. Aku masih diam. Terlampau malas membicarakan
ini semua.
"Laras,
jawab aku. Kenapa kau diam saja? " Matanya kembali membulat. Dengan
tatapannya itu seakan dia menuntutku untuk mempertanggungjawabkan apa yang baru
saja aku katakan. Aku memutar badan. Berusaha menatapnya yang kurasa kini tak
lagi sama. Aku merasa dia semakin cantik setelah dijamah oleh laki-laki. Dan
semakin bertambah lagi tatkala dia hamil. "Siapa laki-laki yang kau mintai
sperma untuk membuahi rahimmu? " Puntung rokok yang sedari tadi masih
kuhisap, kusentuhkan pada tangan Pia, membuatnya meringis dan menggigit
bibirnya. Aku sangat suka melihat bibirnya seperti itu. Dan ini sudah sering
aku lakukan padanya.
"Dia Fadil.
Laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu. Dia..."
"Kenapa
harus dia?” Aku membanting puntung rokokku. Kau tahu dia sangat mencintaimu.
Dia bahkan telah berulang kali mencoba membunuhku. Kenapa kau tidak bayar
laki-laki lain saja? Aku bisa mencarikan laki-laki lain kalau kau mau,” ucapku
penuh amarah. Hatiku telah benar-benar panas kali ini. “Ahh, atau jangan-jangan
kau memang telah mencintai dia?”
“Jangan
ngawur kamu ini. Satu-satunya orang yang aku cintai ya hanya kau. Andaikan kamu
bisa menghasilkan sperma, aku pasti akan memintamu untuk melakukan ini semua. Tapi,
aku hanya memberi satu kali saja kesempatan untuk Fadil. Bagaimanapun dia sudah
sangat baik kepadaku.” Dia merangkulku, dan merebahkan kepalanya di dadaku.
Mendengar penjelasannya,
aku terdiam. Menatap lurus ke hamparan laut yang luas. Kubiarkan waktu berlalu begitu
saja dalam dekapanmu. Ku ingin semua ini tak lekas berakhir. Tak peduli ada
beberapa pasang mata yang menatap jijik ke arah kami dan kemudian pergi. Pun,
tak peduli dengan langit yang berubah semakin gelap seiring dengan hawa yang bertambah dingin. “Aku mencintaimu
Pia, sangat mencintaimu,” bisikku di telinganya.
Dia
tersenyum simpul dan semakin mengeratkan dekapannya. “Aku juga mencintamu
Laras. Kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui.” Suaranya yang lembut
benar-benar menggetarkan hatiku. Kubelai rambutnya yang panjang. Kukecup ujung
kepalanya dengan penuh rasa cinta.
“Kau masih
ingat kan dengan kata-kataku dulu, bahwa aku akan membunuhmu jika kau berani
mencintai laki-laki atau wanita selain aku?” Aku mendongakkan wajahnya menghadap
ke wajahku. Aku ingin menatap matanya, agar aku tahu apakah dia jujur atau
tidak.
“Te..tentu
Laras. Aku hanya mencintaimu. Kita telah tidur di ranjang yang sama selama tiga
tahun, apakah itu kurang cukup untuk membuatmu percaya?” Suaranya bergetar, dan
kulihat matanya sedikit berkaca-kaca. Entah mengapa, aku merasakan jika saat
ini dia sedang berdusta.
“Kau tak
main-main kan dengan ucapanmu? Karna sekali pun aku tak pernah bermain-main
dengan ucapanku!” tanyaku dengan tegas dan keras. Dia hanya menggeleng pelan.
Angin semakin
kencang berhembus, membuat rambut dan rok midi yang Pia kenakan berkibaran. Kupandanginya
lekat-lekat. Aku berusaha untuk mempercayai kata-katanya, namun masih saja
sebagian hatiku mengatakan bahwa dia telah berdusta. Di tengah lamunanku,
tiba-tiba ponsel Pia berbunyi. Buru-buru dia lihat ponselnya, namun kemudian
dengan cepat dia tutup kembali ponsel itu. Seketika kuraih ponselnya dengan
cepat.
“Apa-apaan
kamu Ras! Cepat kembalikan ponselku!” teriak Pia sembari berusaha merebut
ponselnya dari tanganku. Sekuat tenaga aku mencegah Pia dan berusaha membaca
SMS yang baru saja masuk.

Tubuhku tiba-tiba
bergetar hebat. Tak kusangka. Belum ada beberapa menit aku memperingatkannya
untuk tidak menghianatiku, tapi sekarang dia telah benar-benar melakukannya.
“Sa...sayang dengarkan aku dulu. Kamu salah
sangka. Ini tidak sep...”
“Plak!!” aku
menampar pipi kanannya dengan keras. “Kau mau mati, ha? Baru saja kuperingatkan
mu, tapi sekarang? Ini sudah cukup menjadi bukti!” Sekuat tenaga kulemparkan
ponsel Pia ke tengah laut. Tak peduli dengannya yang terus menjerit meratapi
ponselnya yang telah mengapung di laut.
“Aku tak
bisa membiarkanmu hidup.”
“Ta..tapi
Ras...”
Kudorong tubuh
Pia ke dek kapal yang tidak memiliki pagar pengaman. Dia terus saja meronta,
membuatku kewalahan. Namun dengan amarah yang memuncak, seakan menambah
tenagaku menjadi beberapa kali lipat. Kita sama-sama wanita, namun aku dapat
mengalahkannya. Sekuat tenaga aku dorong tubuhnya terjun ke laut.
“La..
Laras!! Tolong!!” Pia berteriak dengan keras sebelum akhirnya...
“Byurr!!”
Pia benar-benar jatuh ke laut.
“To...tolong!!”
kulihat kepalanya muncul tenggelam di permukaan air. Beberapa orang yang
melihat kejadian ini sontak ikut menjerit dan berusaha menolong Pia. Namun sayang
mereka terlambat. Tubuh Pia sudah menghilang dari permukaan.
NB: Diikutkan
dalam tantangan #KampusFiksi #ImajinasiPenutup.
Kalimat terakhir
diambil dari novel Istanbul In Love (Putri Indri Astuti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar