Minggu, 22 Juni 2014

#FiksiBangunTidur


Bayonet

Antara sadar dan tidak, aku merasakan sakit di kepalaku, membuatku tak bisa membuka mata. Fikiranku kosong, otakku tak kuasa bekerja. Untuk beberapa saat aku tak tahu aku siapa.
Aku  merasakan ada cairan kental  yang menjalari seluruh tubuhku. Aku tidur terlentang, dan cairan itu kurasakan mengalir dari atas membasahi rambutku dan terus merembes mengenai baju hingga celanaku. Indra penciumanku yang berangsur-angsur berfungsi normal agaknya langsung dapat menangkap bau aneh yang menguasai udara di ruangan ini. Bau ini, bau anyir darah. Mataku langsung membelalak dan aku terlonjak.
Betapa terkejutnya aku ketika kudapati ujung bayonet yang berkilat-kilat diacungkan ke arahku. Sedikit saja aku tadi maju ke depan, maka kupastikan aku akan kehilangan mataku karena tertusuk bayonet itu.
“Sudah bangun Kau Supardi? Bagaimana tidurmu, enak?” aku yang masih sibuk menata jantungku yang naik turun, kembali dikejutkan oleh tawa renyah seseorang yang kurang fasih berbahasa Indonesia.
“Raymond Paul Pierre Westerling!” pekikku melihat siapa yang ada di hadapanku.
“Hahaha, tak usah menyebut nama panjangku, panggil saja aku Westerling.” Dia menyeringai. Tawanya renyah, seperti tawa kemenangan karena telah mampu membuatku menjadi pesakitan. Dia kini duduk di kursi kayu yang berada di pojok ruangan dekat pintu. Di hadapannya ada meja kayu dan dia meletakkan senapan LE (Lee Enfield) nya di sana.
Aku masih bingung dengan ini semua. Kenapa aku bisa berada di ruangan pengap bersama dengan iblis ini?  Yang kuingat kemarin malam aku bersama Letnan Kusuma mendapat tugas dari Letnan Sanjoto untuk menangkap Westerling.
Pukul 19.00 kami mengendarai jip Willys, mendatangi Westerling. Rencananya, kami  akan mengajak dia ngobrol sebentar, lalu aku menembak Westerling, dan Letnan Kusuma meledakkan granat.  Sebelum rencana terlaksana, Westerling  malah menghampiri kami, mengajak kami minum bir. Kami tak kuasa menolak, dan setelah itu aku tak ingat kejadiannya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kuangkat kedua tanganku. Aku ingat benar bahwa kemarin aku mengenakan baju lengan panjang berwarna putih, namun sekarang yang kulihat bajuku telah berubah warna menjadi merah darah. Aku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
“Kang Andi Tonran! Kang Anas! Letnan Kusuma!” pekikku menyebut nama masing-masing mayat yang bergeletak bersimbah darah di sekitarku. kerongkonganku tercekat, jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Mereka, orang-orang yang kurasa baru kemarin berjuang bersamaku kini telah terbujur kaku di bawah kaki Westerling.
“Hahaha panggil teman-temanmu sekeras mungkin Supardi! Panggil sampai mereka bangun! Panggil sampai kerongkonganmu putus dan kamu pun akan menyusul mereka.”  tawanya begitu licik, membuat amarahku benar-benar memuncak.
“Kenapa kau membunuh teman-temanku Bangsat? Apa yang kau inginkan dari kami? Kenapa kau tak membunuhku saja sekalian?” kalau saja antek-antek Westerling yang bertubuh tinggi tegap ini tidak mengacungkan bayonetnya tepat di depan wajahku, tentu aku sudah berlari mencekik Westerling hingga sekarat.
“Mauku? Aku hanya ingin menjaga stabilitas negara ini dari rongrongan teroris dan pemberontak seperti kalian.”
“Cuih! Itu cuman omong kosongmu yang kau katakan kepada setiap orang. Hah aku selalu heran, apakah orang biadap sepertimu yang telah membunuh empat puluh ribu orang di Sulawesi yang tak berdosa dan ratusan Divisi Siliwangi dengan cara tak manusiawi itu, masih bisa disebut sebagai manusia?
Hai binatang, apa kau tidak takut terhadap Tuhan haa? Apa kau tak memikirkan, orang tuamu akan sangat kecewa melihat anaknya telah menjadi jaggal yang biadap? Kau...”
“Aku tak percaya terhadap Tuhan.” Kata Westerling menyela kata-kataku. Tawanya kini lenyap digantikan dengan raut muka yang mengerikan.
“Hah kau memang pantas disebut binatang. Kau pun tak percaya dengan Tuhan.”
“Jika Tuhan memang ada, tentu Dia akan menolongku ketika orang tuaku meninggalkanku sendirian di Istambul tanpa seorang pun yang aku kenal. Oh ya, dan kurasa aku tak memiliki orang tua. Adakah orang tua yang tega meninggalkan anaknya yang masih berumur lima tahun sendirian, dan terpaksa harus tinggal di panti asuhan?
Aku tak butuh Tuhan, aku tak butuh orang tua! Aku hanya bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Tak ada seorang pun yang mampu menolongku kecuali diriku sendiri.” Kata Westerling panjang lebar. Mulutku seketika terbungkam mendengar kata-katanya. Ternyata masa lalunya yang kelamlah yang menyebabkan masa depannya kini juga menjadi kelam.
“Hai Supardi! Kenapa kau diam? Apa kau sedih mendengar cerita masa kecilku? Hah tak perlulah, aku bukan orang yang pantas untuk kau kasihani. Justru dirimu sendirilah yang seharusnya dikasihani. Lihatlah dirimu sekarang, begitu menyedihkan. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menatap getir  tanpa memiliki kekuatan untuk menyelamatkan teman-temanmu. Sungguh malangnya kau ini!” Westerling menyeringai, membuatku semakin geram dan segera ingin membunuhnya.
“Sebenarnya apa yang kau mau dariku?”
“Hem, mudah saja. Aku ingin membunuh  Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta. Kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bunuh mereka dan aku akan membebaskanmu. Bagaimana?
Tapi tentunya kau memilih untuk membunuh dua orang tak penting itu kan, dari pada nyawamu harus melayang seperti teman-temanmu yang malang itu.” sontak ucapan Westerling membuatku terkejut. Ternyata dia memang terlahir menjadi jaggal sejati. Belum puas membunuh puluhan ribu warga tak berdosa, kini dia kembali berencana untuk membunuh Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Tentu masih dengan sikap waspada karena bayonet itu masih saja bercokol di hadapanku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Mati tentu bukan pilihan yang bijak. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar tetap hidup untuk membela negara tanpa harus membunuh pemimpin yang aku cintai.
“Hai supardi! Apa yang kau renungkan? Cepat katakan ‘ya’ atau kepalamu akan aku lubangi dengan senapan ini.” katanya menggertak sembari mengambil senapannya dengan sigap.
“Baik! Aku akan turuti perintahmu,” kataku mantap. Kulihat sekilas seringainya yang licik. “tapi ada satu syarat. Aku akan membunuh mereka menggunakan caraku sendiri.”
“Baiklah, apa rencanamu?” Westerling meletakkan senjatanya. Aku memberikan isyarat untuk mendekat kepada Westerling. Dia menggerakkan tangannya sekilas sebagai pertanda antek-anteknya harus melepaskanku dari bayonetnya.
Dengan sedikit sempoyongan aku melangkah ke arah Westerling. Setelah sampai di depan mejanya, dengan sigap aku keluarkan pistol dari dalam saku celanaku dan mengacungkannya ke arah Westerling.
“DOR! DOR! DOR!” aku terjatuh. Tiga peluru panas menembus punggungku. aku merasakan ajal telah menjemputku. Namun sekilas aku dapat mendengar teriakan Westerling yang menyumpahiku karena telah berkhianat. Bodohnya aku yang lupa bahwa isi mortilku telah habis.
Aku tersenyum sekilas. Aku lebih suka tertidur panjang, dan tak akan terbangun lagi dari pada harus melihat wajah Westerling ketika aku membuka mata.

4 komentar:

  1. Maaf ini siapa ya? Saya mau kenal, saya cucunya letnan supardi, nama saya abraar, letnan atjep supardi yg dulu tinggal dijalan maluku kan? , ini no telp saya 087821401340, saya juga punya buku karangan kakek saya,atjep supardi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf mas Abraar bila saya lancang memakai nama kakek anda dalam cerpen saya. Niat saya hanya membuat cerita fiksi, hanya saja saya dapat inspirasi setelah membaca sebuah artikel yang bercerita tentang Westerling dan kakeknya mas Abraar. Saya benar benar minta maaf mas.

      Hapus
    2. Oooo. Ya sudahh , tidak apa - apa mbaa, terima kasih

      Hapus
  2. Kakek saya meninggal tahun 2001,

    BalasHapus