Bayonet
Antara sadar dan tidak, aku merasakan sakit di
kepalaku, membuatku tak bisa membuka mata. Fikiranku kosong, otakku tak kuasa
bekerja. Untuk beberapa saat aku tak tahu aku siapa.
Aku merasakan
ada cairan kental yang menjalari seluruh
tubuhku. Aku tidur terlentang, dan cairan itu kurasakan mengalir dari atas
membasahi rambutku dan terus merembes mengenai baju hingga celanaku. Indra
penciumanku yang berangsur-angsur berfungsi normal agaknya langsung dapat
menangkap bau aneh yang menguasai udara di ruangan ini. Bau ini, bau anyir
darah. Mataku langsung membelalak dan aku terlonjak.
Betapa terkejutnya aku ketika kudapati ujung bayonet
yang berkilat-kilat diacungkan ke arahku. Sedikit saja aku tadi maju ke depan,
maka kupastikan aku akan kehilangan mataku karena tertusuk bayonet itu.
“Sudah bangun Kau Supardi? Bagaimana tidurmu, enak?”
aku yang masih sibuk menata jantungku yang naik turun, kembali dikejutkan oleh
tawa renyah seseorang yang kurang fasih berbahasa Indonesia.
“Raymond Paul Pierre Westerling!” pekikku melihat
siapa yang ada di hadapanku.
“Hahaha, tak usah menyebut nama panjangku, panggil
saja aku Westerling.” Dia menyeringai. Tawanya renyah, seperti tawa kemenangan
karena telah mampu membuatku menjadi pesakitan. Dia kini duduk di kursi kayu
yang berada di pojok ruangan dekat pintu. Di hadapannya ada meja kayu dan dia
meletakkan senapan LE (Lee Enfield) nya di sana.
Aku masih bingung dengan ini semua. Kenapa aku bisa
berada di ruangan pengap bersama dengan iblis ini? Yang kuingat kemarin malam aku bersama Letnan
Kusuma mendapat tugas dari Letnan Sanjoto untuk menangkap Westerling.
Pukul 19.00 kami mengendarai jip Willys, mendatangi
Westerling. Rencananya, kami akan
mengajak dia ngobrol sebentar, lalu aku menembak Westerling, dan Letnan Kusuma
meledakkan granat. Sebelum rencana
terlaksana, Westerling malah menghampiri
kami, mengajak kami minum bir. Kami tak kuasa menolak, dan setelah itu aku tak
ingat kejadiannya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kuangkat kedua
tanganku. Aku ingat benar bahwa kemarin aku mengenakan baju lengan panjang
berwarna putih, namun sekarang yang kulihat bajuku telah berubah warna menjadi
merah darah. Aku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
“Kang Andi Tonran! Kang Anas! Letnan Kusuma!” pekikku
menyebut nama masing-masing mayat yang bergeletak bersimbah darah di sekitarku.
kerongkonganku tercekat, jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Mereka,
orang-orang yang kurasa baru kemarin berjuang bersamaku kini telah terbujur
kaku di bawah kaki Westerling.
“Hahaha panggil teman-temanmu sekeras mungkin Supardi!
Panggil sampai mereka bangun! Panggil sampai kerongkonganmu putus dan kamu pun
akan menyusul mereka.” tawanya begitu
licik, membuat amarahku benar-benar memuncak.
“Kenapa kau membunuh teman-temanku Bangsat? Apa yang
kau inginkan dari kami? Kenapa kau tak membunuhku saja sekalian?” kalau saja
antek-antek Westerling yang bertubuh tinggi tegap ini tidak mengacungkan
bayonetnya tepat di depan wajahku, tentu aku sudah berlari mencekik Westerling
hingga sekarat.
“Mauku? Aku hanya ingin menjaga stabilitas negara ini
dari rongrongan teroris dan pemberontak seperti kalian.”
“Cuih! Itu cuman omong kosongmu yang kau katakan
kepada setiap orang. Hah aku selalu heran, apakah orang biadap sepertimu yang
telah membunuh empat puluh ribu orang di Sulawesi yang tak berdosa dan ratusan
Divisi Siliwangi dengan cara tak manusiawi itu, masih bisa disebut sebagai
manusia?
Hai binatang, apa kau tidak takut terhadap Tuhan haa?
Apa kau tak memikirkan, orang tuamu akan sangat kecewa melihat anaknya telah
menjadi jaggal yang biadap? Kau...”
“Aku tak percaya terhadap Tuhan.” Kata Westerling
menyela kata-kataku. Tawanya kini lenyap digantikan dengan raut muka yang
mengerikan.
“Hah kau memang pantas disebut binatang. Kau pun tak
percaya dengan Tuhan.”
“Jika Tuhan memang ada, tentu Dia akan menolongku
ketika orang tuaku meninggalkanku sendirian di Istambul tanpa seorang pun yang
aku kenal. Oh ya, dan kurasa aku tak memiliki orang tua. Adakah orang tua yang
tega meninggalkan anaknya yang masih berumur lima tahun sendirian, dan terpaksa
harus tinggal di panti asuhan?
Aku tak butuh Tuhan, aku tak butuh orang tua! Aku
hanya bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Tak ada seorang pun yang mampu
menolongku kecuali diriku sendiri.” Kata Westerling panjang lebar. Mulutku
seketika terbungkam mendengar kata-katanya. Ternyata masa lalunya yang kelamlah
yang menyebabkan masa depannya kini juga menjadi kelam.
“Hai Supardi! Kenapa kau diam? Apa kau sedih mendengar
cerita masa kecilku? Hah tak perlulah, aku bukan orang yang pantas untuk kau
kasihani. Justru dirimu sendirilah yang seharusnya dikasihani. Lihatlah dirimu
sekarang, begitu menyedihkan. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menatap
getir tanpa memiliki kekuatan untuk menyelamatkan
teman-temanmu. Sungguh malangnya kau ini!” Westerling menyeringai, membuatku
semakin geram dan segera ingin membunuhnya.
“Sebenarnya apa yang kau mau dariku?”
“Hem, mudah saja. Aku ingin membunuh Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta. Kamu
tentu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bunuh mereka dan aku akan
membebaskanmu. Bagaimana?
Tapi tentunya kau memilih untuk membunuh dua orang tak
penting itu kan, dari pada nyawamu harus melayang seperti teman-temanmu yang
malang itu.” sontak ucapan Westerling membuatku terkejut. Ternyata dia memang
terlahir menjadi jaggal sejati. Belum puas membunuh puluhan ribu warga tak
berdosa, kini dia kembali berencana untuk membunuh Hamengkubuwono IX dan Moh.
Hatta.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Tentu masih dengan
sikap waspada karena bayonet itu masih saja bercokol di hadapanku. Aku bingung
apa yang harus aku lakukan saat ini. Mati tentu bukan pilihan yang bijak. Aku
terus berpikir bagaimana caranya agar tetap hidup untuk membela negara tanpa harus
membunuh pemimpin yang aku cintai.
“Hai supardi! Apa yang kau renungkan? Cepat katakan
‘ya’ atau kepalamu akan aku lubangi dengan senapan ini.” katanya menggertak
sembari mengambil senapannya dengan sigap.
“Baik! Aku akan turuti perintahmu,” kataku mantap.
Kulihat sekilas seringainya yang licik. “tapi ada satu syarat. Aku akan
membunuh mereka menggunakan caraku sendiri.”
“Baiklah, apa rencanamu?” Westerling meletakkan
senjatanya. Aku memberikan isyarat untuk mendekat kepada Westerling. Dia
menggerakkan tangannya sekilas sebagai pertanda antek-anteknya harus
melepaskanku dari bayonetnya.
Dengan sedikit sempoyongan aku melangkah ke arah
Westerling. Setelah sampai di depan mejanya, dengan sigap aku keluarkan pistol
dari dalam saku celanaku dan mengacungkannya ke arah Westerling.
“DOR! DOR! DOR!” aku terjatuh. Tiga peluru panas
menembus punggungku. aku merasakan ajal telah menjemputku. Namun sekilas aku
dapat mendengar teriakan Westerling yang menyumpahiku karena telah berkhianat.
Bodohnya aku yang lupa bahwa isi mortilku telah habis.
Aku tersenyum sekilas. Aku lebih suka tertidur
panjang, dan tak akan terbangun lagi dari pada harus melihat wajah Westerling
ketika aku membuka mata.
Maaf ini siapa ya? Saya mau kenal, saya cucunya letnan supardi, nama saya abraar, letnan atjep supardi yg dulu tinggal dijalan maluku kan? , ini no telp saya 087821401340, saya juga punya buku karangan kakek saya,atjep supardi...
BalasHapusMaaf mas Abraar bila saya lancang memakai nama kakek anda dalam cerpen saya. Niat saya hanya membuat cerita fiksi, hanya saja saya dapat inspirasi setelah membaca sebuah artikel yang bercerita tentang Westerling dan kakeknya mas Abraar. Saya benar benar minta maaf mas.
HapusOooo. Ya sudahh , tidak apa - apa mbaa, terima kasih
HapusKakek saya meninggal tahun 2001,
BalasHapus