Kamis, 19 Juni 2014

Kumpulan Beberapa Catatan Editor untuk Penulis



Editor membuat beberapa catatan untuk penulis. Nah, ini semacam kumpulan beberapa catatan editor utk penulis.
1.       Prolog. Idealnya, prolog itu 1-2 halaman. Jangan setengah halaman, atau malah 5 lembar. Biasanya ada jeda waktu antara isi prolog dengan bab pertama. Misalnya, pada prolog menceritakan tokoh berpisah dengan saudaranya ketika masih kecil. Pada bab pertama, si tokoh sudah remaja.
2.       Bedakan awalan dan imbuhan. Kalau awalan, mengacu kata tempat, jadi dipisah, misal "di sana", "di Surabaya", "ke tempat sampah", dsb. Kalau imbuhan, digabung, misal dilarang, dipisah, diganti, diculik, dsb.
3.       Untuk menekankan kalimat atau kata, tak perlu pakai huruf kapital semua. Mainkan tanda baca untuk dramatisasi. Misal, untuk menekankan kata ‘sakit’. "Hatiku sakit mendengarnya. Sakit!"
4.       Dalam satu dialog, tidak boleh ada penumpukan tokoh. Misal, "Ve, gimana perusahaan truk molenmu?" tanya Misni. Ve bergeming, tak mendengar ucapan Misni lantaran syok melihat foto pacar absurdnya Ita.
5.       Kata asing di-italic. Kalau kata asing itu gabung dengan kata berbahasa Indonesia, dikasih tanda hubung, misal: feeling (italic) -ku.
6.       Kalimat yang diucapkan tokoh di dalam hati juga di-italic.
7.       Hati-hati dengan tanda koma karena bisa mengubah makna. Misal, "Ayo, makan, Geri!" (yang ini nyuruh Geri makan). "Ayo, makan Geri!" (yang ini si Geri yang dimakan). :D
8.       Untuk pembentukan kalimat, jangan kaku, S-P-O-K. Variasikan dengan keterangan didepan, dsb. Pun, jangan terlalu banyak kehilangan subjek. Apalagi kalau tokohnya banyak, jadi bingung.
9.       Hati-hati dengan logika cerita. Contohnya, ketika mengangkat setting tahun 80-an, para tokohnya jangan pakai gadget. #ParahAbis
10.   Kalau pakai sudut pandang orang pertama (aku), artinya penulis harus memposisikan diri sebagai tokoh. Jadi, tokoh aku nggak mungkin tau isi hati tokoh lain atau yang diperbuat tokoh lain di tempat lain. Kecuali, kalau si aku ini cenayang! :D
11.   Bedakan kata sapaan dan kata bermakna kepemilikan. Kalau sapaan, pakai huruf kapital. Misal, "Aku sayang Mama." Kalau bermakna kepemilikan, pakai huruf kecil. "Aku sayang mamaku."
12.   Hindari kalimat nggak efektif. "Aku sungguh teramat sangat benci sekali padanya!" <-- saking bencinya. Ckp, "Aku benci sekali padanya!"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar