Selasa, 24 Juni 2014

#cerpen

Waktu yang Salah

Seperti hari-hari sebelumnya, aku masih setia duduk di bangku panjang ini. Rutinitas yang mungkin  membuat banyak orang menganggap aku sudah gila. Tapi beginilah kenyataanya, setiap jam kosong atau jam istirahat tiba aku selalu duduk di atas bangku panjang di depan kelasku. Duduk sembari memandang lurus-lurus ke arah sebuah kelas yang berdiri angkuh di seberang lapangan basket itu. Tentu bukan untuk memandangi bangunannya, aku tidak  sebodoh itu menghabiskan waktu hanya untuk meratapi  sebuah bangunan kelas. Tidak, satu-satunya alasan kenapa aku kini bertingkah begitu absurd adalah penghuni kelas itu. Satu dari tiga puluh sembilan orang penghuni kelas yang telah begitu mempesonaku.
Aku benar-benar ingin menghampirinya, namun terasa begitu sungkan. Ahh, biarlah saja aku tunggu dia di sini hingga dia keluar. Menunggu lama pun tak apa, hanya memandang dari jauh pun juga tak apa.
Sejenak aku kedipkan mataku untuk me-refresh mata yang mulai kering. Mungkin  karena sedari tadi aku terus saja memandang lurus-lurus pada satu titik fokus tanpa jeda, tanpa kedip. Kualihkan pandanganku sekilas ke lapangan basket yang dijejali anak-anak kelas sebelah yang sedang bermain sepak bola. Namun baru saja pandanganku beralih dari pintu itu, ujung mataku telah menangkap  suatu pergerakan pada pintu itu. Kulempar pandanganku ke arah pintu kelas itu lagi. Benar saja, cewek bertubuh tinggi  dengan rambut sebahu itu tengah berada di luar kelas. Cewek berkaca mata dengan frame hitam merah itulah yang selama ini membuatku jadi gila. Kini dia tengah duduk di bangku luar kelas sembari  membaca sebuah buku yang kurasa itu adalah novel. Ahh memang itulah hobinya,  membaca novel di waktu luang seperti ini.
Aku terus saja memandanginya tanpa jeda. Sungguh demi apapun aku tak bisa menarik mataku sendiri untuk berpaling darinya. Hingga tak kusadari seseorang telah duduk di sampingku dengan pandangan takjub.
“HOYYY!!! Bengong aja kerjaannya. Ngeliatin apa sih kamu Han?” tanya temanku-Gilang-yang  berhasil membuyarkan konsentrasiku. Aku tatap dia sekilas dengan pandangan tidak suka. Lalu kualihkan pandanganku lagi pada gadis berkaca mata itu.
Gilang memandang kedua mataku lalu menarik garis lurus untuk mengikuti ke mana arah pandanganku. “Oh pantes! Ada dia toh. Dasar secred admirer, cuman berani mandang dari jauh doang, nggak berani nembak!” Kata-kata Gilang ini benar-benar menusukku.
“Aku belum siap aja. Aku takut dia  nggak suka sama aku. Aku takut dia nolak aku,” aku mendesah berat. Aku malu pada diriku sendiri yang tak pernah bisa jujur tentang perasaanku pada gadis itu.
“Kamu laki-laki apa bukan haa? Masak kamu takut ditolak cewek? Kalau kamu beneran gentle, harusnya kamu berani mengungkapkan perasaanmu pada cewek itu. Urusan kamu diterima atau ditolak itu urusan belakangan. Yang penting dia sudah tahu tentang perasaanmu, dan memang dia harus  tahu.” Gilang mencerocos panjang lebar, membuat kupingku terasa panas. Kata-kata Gilang begitu memojokkanku dan membuatku seolah seperti pesakitan. Namun, yang aku benci, semua kata yang dia ucapkan memang benar.
“Tapi, apasih yang kamu suka dari dia Han? Menurutku dia nggak cantik, dia juga bukan anak populer. Dia itu anak kutu buku, mana mungkin dia bisa pacaran?
Lagian jauh lebih cantik si Seila. Bahkan sampai sekarangpun dia masih mengharapkan kamu. Kenapa kamu nggak sama Seila saja Han?”  Gilang terus saja berarguentasi tanpa meberiku kesempatan untuk mengajukan pembelaan.
Bola matakku berputar tiga ratus enam puluh derajat. Aku hirup udara banya-banyak dan kuhembuskan kuat-kuat. Aku semakin tak suka dengan apa-apa yang dia katakan.
“Akankah cinta butuh alasan? Jika cinta beralasan, maka jika alasan itu hilang maka bukankah cinta itu juga akan ikut hilang?” aku bangkit dari bangku itu dan berjalan masuk ke dalam kelas meninggalkan Galang sendirian. Ketika kakiku telah menjejak di ambang pintu kelas, aku membalikkan badan menghadap ke arah Gilang yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
“Mungkin bagimu dia nggak istimewa, dia nggak sempurna. Tapi asal kamu tahu, aku suka sama dia bukan karna dia sempurna ataupun karna dia istimewa. Tapi karna aku mencintainya, dia jadi istimewa.” Pungkasku yang langsung masuk ke dalam kelas.

***

“Aku tahu pasti kamu akan mengatakan itu dek,” aku tatap wajahnya sekilas, dan aku paksakan mengukir senyuman di bibirku. Namun kurasa semua itu tak mampu menutupi gemuruh hatiku. Detik ini aku benar-benar merasa diriku begitu munafik. Aku paksakan diriku untuk terlihat tegar di depannya, namun sungguh saat ini hatiku benar-benar begitu rapuh. Rasanya aku ingin menangis, namun kehormatanku sebagai laki-laki mencegahku untuk melakukannya.
“Maafkan aku mas....” bibir tipisnya bergetar ketika mengatakan itu.
Ahh, itu bukan salahmu dek. Gumamku dalam hati.
“tak apa dek, aku paham.” Kataku kemudian.
Sepersekian puluh detik keheningan tercipta di antara kami berdua. Suara gemericik air dan gesekan dedaunan kian menambah syahdu suasana di tempat ini. Memang  taman belakang aula sengaja kupilih untuk mengungkapkan rasa ini pada Disya. Aku butuh suasana tenang agar rasa grogiku tidak semakin  menjadi-jadi. Lagi pula suasana di tempat ini begitu romantis. Aku tahu benar ini tempat favorit dia ketika ada di sekolah. Maka tak salah jika aku memillih tempat ini untuk menjadi saksi bisu peristiwa maha penting ini.
“Kenapa Mas?” ucapnya memecah keheningan di antara kami.
“Kenapa apanya?” tanyaku bingung.
“Kenapa kamu suka sama aku?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu.”  Aku mengedikkan bahu pertanda tak mengerti.
“Loh kok gitu mas?” tanyanya heran.
“Cinta itu tak beralasan dek. Cinta tidak bisa ditanyakan dengan kata mengapa. Jika cinta beralasan, maka jika alasan itu hilang, cintanya juga ikut hilang bersamanya.” aku ulus mengatakan itu.
  Disya diam terpaku meresapi kata-kataku. Sejenak hening kembali merasuk di antara kami. Lama kami saling diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing. Hingga kuberanikan diri menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di hati.
“Kamu suka sama orang lain ya? Apa sama sekali nggak ada harapan untuk aku?” tanyaku akhirnya.
“bukan, mas. Aku... aku cuman nggak mau pacaran dulu. Aku pengen sekolah dulu, nggak mau mikirin yang aneh-aneh. Aku pengen ngejar cita-citaku dulu.”
Aku menghela nafas panjang. Benar juga kata Gilang, Disya tipe cewek yang nggak bisa pacaran. Tapi ya sudahlah, aku lega karna telah mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku lega karena Disya telah mengetahui semuanya. Dan anehnya, rasa malu yang aku takutkan akan muncul tatkala  aku mengungkapkan semuanya, kini nyatanya tidak ada. Yang ada hanya rasa lega, dan puas. Walau tak dapat dipungkiri, sakit hati itu pasti ada.
“Ehmmm... baiklah, aku bakal nunggu kamu sampai kamu siap buat nerima aku. Sampai lulus SMA, atau bahkan sampai kamu lulus kuliah pun aku bakal tetep nunggu kamu dek.” Jawabku mantap sembari tersenyum dan membelai rambutnya lembut. “Tapi kamu janji, kalau cita-cita kamu udah kesampaian, kamu harus kembali ke aku. Janji?” kataku sembari mengangkat jari kelingkingku. Disya tak menjawab, dia terdiam beberapa saat.
“Janji!” jari kelingkingnya cepat menyambar jari kelingkingku. Ada seulas senyum yang kulihat di bibirnya. Seperti pelangi yang kini menggantung memayungi kami berdua.
***
Mataku nanar menatap kenyataan pahit yang terpampang jelas di depan mataku. Betapa tidak, di depan aula Disya kini tengah duduk bercanda dengan akrapnya bersama dua cowok yang sangat aku kenal. Bian dan Tama, dua anak kelas XI IPS 3 yang bisa dibilang anggota genkku.
Sedang apa mereka bersama Disya? Aku tahu benar Disya bukanlah tipe cewek yang mudah akrap dengan cowok, tapi ini dia begitu akrap dengan Bian dan Tama. Apa jangan-jangan twitt di twitternya kemarin itu memang untuk salah satu dari mereka berdua?
@dI_Sya17
Hanya ingin melihatmu dari dekat, mencecap manisnya senyumanmu, menyapu  indahnya parasmu dengan sepasang mataku. J BSP.
Apa mungkin Disya suka sama Bian? Bian Satya Pambudi?
***
Kudengar suara riuh rendah tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan ini. Dengan langkah gemetar aku mendekat ke depan,  ke arah kerumunan orang dan wartawan yang sibuk menyiramkan blitz kameranya ke arah seseorang di depan sana. Aku berhasil menembus barikade manusia itu. Kini aku berapa pada barisan paling depan, dengan sangat jelas aku dapat melihat seseorang yang tengah duduk di dipan sana.
Aku menelan ludah dengan sangat haus. Membuat jakunku bergerak naik turun. Dia, dia kini yang duduk di atas panggung itu, masih sama seperti dia yang kulihat lima tahun yang lalu. Hanya  mungkin bedanya kini dia telah mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya, membuatnya semakin terlihat anggun.
Dia sedang membawa sebuah buku dan mengoceh ngalor-ngidul yang mungkin aku tidak paham maksutnya. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu tinggi dalam bidang sastralah yang paham apa yang dia katakan. Mataku tak henti memperhatikan setiap lekuk siluet wajahnya. Aku benar-benar merindukannya. Dia yang telah membuatku gila. Pun demikian saat ini rasa itu juga masih ada.
Hatiku bergetar, inilah mimpinya yang dulu sempat ia ceritakan padaku. Mimpi yang akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Betapa dulu dia begitu menggebu-nggebu menceritakan semua tentang cita-citanya padaku. Aku masih ingat sorot matanya yang tajam dan begitu bersinar acapkali dia mengatakan “aku ingin jadi novelis terkenal mas”. Dan kini aku kembali mampu menatap mata itu, mata yang tajam dan bersinar. Sorot mata yang mengisyaratkan kebahagiaan luar biasa.
Nampaknya aku terlambat menghadiri acara ini. Memang di undangan seminar yang dia kirimkan ke rumahku tertera waktu pelaksaan dimulai pukul tujuh malam. Sebenarnya aku pun telah siap sedari sebelumnya, namun ada suatu hal yang membuatku terlambat menghadiri acara ini.
Aku melihat dia telah turun panggung, disambut riuh tepuk tangan hangat dari para hadirin yang datang. Aku membalikkan badan, berniat hendak ke luar dan bergegas untuk pulang.
“Mas Handi!” kudengar ada yang memanggilku. Aku membalikkan badan dan ahh....
“Hai Mas, apa kabar?” ucapnya sembari tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku lemah.
Aku hanya bisa tersenyum kikuk, tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Melihat senyumnya saja sudah mampu membuat mulutku terbungkam.
“Mas!” hentaknya menyentuh tangan kiriku, membuatku sedikit terlonjak kaget.
“Ohh, eh.. Disya, ehmm a..ku baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?” jawabku dengan sangat gugup. Canggung luar biasa tengah merambati seluruh tubuhku.
“Hahaha, aku baik Mas. Mas lihat ini,” ucapnya sembari mengulurkan sebuah novel sekuel dan selembar piagam Khatulistiwa Literary Award yang sudah terlaminating.
Aku mengambil novel-novel itu dari tangannya. Membolak-baliknya dan membaca blurbnya sekilas. “Ini keren dek. Salut deh sama kamu, akhirnya kamu dapat mewujutkan mimpi kamu ya.” Aku tersenyum sembari mengangkat satu jempolku untuknya.
“Itu buat mas Handi.” Katanya, ringan. Masih dengan senyum yang terus saja merekah. Aku tak menduga aku akan mendapatkan karya terbaiknya ini dengan cuma-cuma. Tak perlu harus mengantri di toko buku, ataupun harus berdesakan untuk sekedar meminta tanda tangan di cover depannya. Trilogi novel plus tanda tangan ini free untukku. Ya untukku.
“Serius dek ini buat aku?” tanyaku masih tak yakin. Dia tak menjawab, hanya anggukan kecil yang begitu meyakinkan.
“makasih ya Dek.” Hanya kata itu yang keluar. Aku mengutuki diriku sendiri yang terlihat begitu bodoh di depannya.
“Justru novel ini aku berikan sebagai ucapan terimakasih buat kamu Mas. Kamu sudah banyak memberikan dukungan untuk aku. Kamu yang selalu memberikan semangat untukku. Kamu sudah berkorban banyak kurasa, Mas.” Ucapnya tulus. Kurasa ada gurat penyesalan yang terpancar dari sorot matanya.
“tak masalah Dek. Sampai kapan pun aku akan tetap dukung kamu. Kamu jangan patah semangat ya, aku berdiri di belakangmu,”
“Ehmm, soal janjiku ke kamu waktu itu...”
“Janji apa dek?”
“janji waktu di taman belakang aula sekolah dulu,”
Aku berusaha mengingat ingat janji apa yang pernah dia ucapkan di taman sekolah lima tahun yang lalu. Hingga akhirnya aku kembali ingat...
“M as Handi! Kamu di sini juga? Eh ini novelnya Mbak Disya kok bisa kamu bawa? Kamu dikasih Mbak Disya ya Mas?” seorang wanita berkulit putih dan berambut panjang kini tengah merangkulkan tangannya ke pinggangku. Sebenarnya ini sudah biasa kuaalami di depan umum, namun kali ini aku merasa risih, mungkin karena aku tak enak pada Disya.
“Rere, kamu kenal mas Handi juga?” tanya Disya dengan polosnya, membuat diriku semakin bersalah saja.
“Ya kenal lah Mbak, diakan pacar saya. Iya kan Mas?” Rere mengeratkan rengkuhannya di di pinggangku, membuatku semakin tidak nyaman.
“Apa-apaan sih kamu ini,” kilahku. Aku yakin benar saat ini Disya tidak nyaman dengan pemandangan yang terhampar di depan matanya.
“Ya biarin to. Yaudah aku kenalin kalian aja. Mbak Disya, ini Mas Handi pacar saya, dan Mas Handi ini Mbak Disya senior aku di kampus.” Aku memalingkan muka, terlalu muak dengan penjelassan Rere.
“hahaha bahkan kami sudah saling kenal sebelum ini Rere.” Disya tertawa hambar, bukan tawa riang yang biasa aku dengar darinya.
“loh kalian sudah kenal? kok nggak bilang-bilang?” Rere melepaskan tangannya dari pinggangku dan menatap aku dan Disya bergantian.
“Bahkan lebih dari sekedar kenal. Dek aku pergi dulu ya,” ucapku pada Disya. Aku menggamit tangan Rere dan menariknya menuju keluar gedung ini tanpa menoleh lagi ke arah Disya.
***
Aku sungguh lupa jika Disya satu universitas dengan Rere. Dan aku tak menyangka ternyata Rere juga menghadiri acara itu. Sungguh, aku tak suka acara ‘reoni’ku dengan Disya harus diganggu dengan datangnya Rere. Aku masih ingin berlama-lama berbincang dengan Disya, namun sayang Rere menghancurkan semuanya.
Kini aku tengah berbaring di tempat tidurku sembari memandang lurus-lurus ke luar jendela yang terbuka. Ini bulan ke limabelas, bulan purnama. Lama aku memandangi rembulan itu hingga aku teringat pada paket novel yang diberikan Disya padaku tadi pagi.
Ahh ya itu dia, paperbag yang terbuat dari karton tebal ini di luarnya tertulis tulisan besar-besar, SANDILANA. Itu merupakan judul novel pertama dari trilogi novel yang dia tulis. Aku membuka paperbag itu dan mengeluarkan ketiga novel dari dalamnya. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang terjatuh dan menyentuh kakiku. Ternyata sebuah kertas berwarna coklat kemerahan dan telah terlipat rapi. Aku mengambilnya dari lantai dan membukanya.


Dulu aku bercerita kepadamu tentang fajar dan senja,
tentang bumi yang terus berputar
dan tentang aku yang ingin berlari mengejar matahari.
Akulah si gadis pengembara perengkuh mentari yang setia.
Kini aku sejenak pulang, tuk menepati sebuah janji yang dulu sempat kuucapkan.


Disya
089697575876
(Hubungi aku mas )


Tanganku bergetar, air mataku hampir-hampir mau menetes. Aku dekap kertas itu kuat-kuat. Ada nyeri di dadaku setelah membaca surat ini. Dengan gusar aku menyambar hanphone yang tergeletak di atas tempat tidurku. Aku menekan angka-angka yang tertera pada surat Disya. Lama kudengar RBT Disya mengalun menemani kegundahanku. aku mencintaimu Disya! Aku mencintaimu! Pekikku dalam hati.
Setelah aku mengulang menekan nomor itu beberapa kali, tiba-tiba ada suara lembut yang menyembul dari ujung telephone sana.
“Hallo!” katanya lembut, membuat jantungku serasa ingin mencelos keluar.
Hampir saja aku menjawab ‘hallo’, seketika aku teringat sesuatu. Aku langsung menutup telephone itu secara sepihak.
“Arrrrggg kenapa baru sekarang kamu kembali Disya? Andaikan kamu datang lebih awal sedikit saja, pasti kejadiaannya tak akan sepelik ini. Dan andai aku bisa bertahan menunggumu sedikit saja lebih lama.“
Aku angkat jemari tangan kiriku ke depan muka, dan menemukan cincin perak tersemat di jari manisku. Cincin pertunanganku dengan Rere minggu lalu.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar