Minggu, 06 Juli 2014

#DramatisasiPolitik


Siapa yang Waras?

Saat ini aku memacu motor Tiger-ku pelan, membelah jalanan kota yang mulai sepi. Pikiranku buncah, tak tahu harus pergi ke mana sekarang. Biasanya jika aku memiliki suatu masalah, maka berbicara dengan istriku merupakan jalan keluar yang tepat. Namun saat ini tidak. Aku bahkan hampir bersitegang dengan istriku karena paham kami berbeda.
Masalah yang benar-benar menguras emosi. Aku harus segera menentukan pilihan yang sulit. Tak hanya aku dan istriku yang tak saling sependapat, tapi bahkan aku sendiri pun bingung harus memilih yang mana. Keduanya sama-sama berat.
Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. Hmm ternyata sudah tengah malam. Gumamku. Sebenarnya aku sudah sangat lelah dan ingin istirahat, namun aku sedang tak ingin ada di rumah. Takut dihujani pertanyaan oleh istriku yang menuntutkku segera menentukan keputusan.
Aku memacu motorku pelan. Jika tadi aku berkeliling pusat kota yang masih terlihat sibuk, kini aku belokkan halauan ke arah gang kecil di sebuah perkampungan. Di belokan pertama ada gapura masuk kampung tersebut. Aku disambut oleh dua orang laki-laki yang tengah mabuk di pos ronda. Aku mengira mereka baru setengah mabuk. Aku putuskan untuk menghentikan motorku di depan pos ronda itu dan turun menghampiri mereka.
“Permisi Mas, boleh saya numpang istirahat di sini?” tanyaku berhati-hati. Dua orang itu memelototiku dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki. Aku memiringkan kepalaku bingung dengan apa yang mereka lakukan.
“Bawa ciu1  enggak?” tanya salah satu yang bertubuh kerempeng.
“Hmm maaf saya nggak bawa ciu, saya hanya bawa kacang ini.” Aku mengangsurkan satu bungkus besar kacang kulit yang sengaja aku bawa dari rumah, untuk berjaga-jaga jika aku harus terdampar di pinggir jalan semalaman ini.
“Ahh yowes, lumayan buat ngemil,” ujar yang satunya lagi. Dia bertubuh gempal dan mempunyai tato naga di tangan kirinya.
Aku tersenyum, kemudian membaringkan tubuhku di dekat mereka yang masih terduduk memegang gelas ciu mereka masing-masing. Aku mencoba memejamkan mata untuk sejenak merenggangkan otot dan syarafku yang sedari tadi menegang.
“Mau rokok Mas?” tanya Si Gempal sembari mengangsurkan satu bungkus rokok yang isinya tinggal separuh kepadaku. Aku menggeleng.
“Hahaha wong lanang kok nggak mau rokok, nggak mau ciu, apa ya pantes dibilang laki-laki tulen.” Dua orang itu terpingkal, membuatku sedikit geram, namun kubiarkan saja.
Aku masih memejamkan mataku ketika aku mendengar tayangan berita dini hari yang ditayangkan salah satu stasiun televisi. Pos ronda ini memang dilengkapi sebuah televisi berukuran empat belas inci dengan teralis besi yang melindungi tv ini dari tangan-tangan penjarah.
Aku sebenarnya tak benar-benar tidur, hanya sekedar memejamkan mata. Aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang disiarkan oleh reporter berita itu dan celotehan nggak jelas dari dua orang yang tengah mabuk ini.
“Sudarto Kartosuwiryo telah resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus mengadaan buku gratis Kementrian Pendidikan, karena telah menggelapkan  uang negara senilai tiga puluh milyar. Jaksa Penunutut Umum menuntut Sudarto harus dipenjara minimal dua puluh tahun dan denda minimal lima puluh milyar,” kata pembawa acara di tv itu.
“Halah wong pejabat itu semuanya maling. Nggak buku, nggak raskin semua dikorupsi. Wong kaya kok mental kere!” Si Gempal berkata begitu menggebu.
“Itu presidennya gimana kok anak buahnya korup semua? Kalau nggak bisa jadi presiden jangan jadi presiden. Ngatur anak buah sendiri aja nggak bisa, mana mungkin bisa ngatur rakyat segini banyak?” kata Si Kerempeng. Sesaat aku heran kenapa dia bisa berkata kritis padahal dia sedang mabuk.
“Hahaha, Ndul..Ndul. Emang kamu bisa apa kalau jadi presiden? Palingan kamu malingnya lebih banyak.” Si Gempal menimpali.
“Ya Saya bakal mendirikan pabrik-pabrik ciu dan lokalisasi di seluruh pelosok negri ini sebagai wujud ekonomi berdikari dan agar tercipta swasembada pangan di negri ini.” mendengar perkataan Si Kerempeng aku langsung terkekeh. Dia mengacungkan tangan ke atas persis seperti capres  yang sedang berorasi.
“Hahaha dasar bocah gemblung! Presidenya modelnya kayak kamu gini negara hancur Le,” Si Gempal tertawa sembari meminum ciunya, menyebabkan hujan lokal di mana-mana alias muncrat.
“La kalau Sampean yang jadi presiden, Sampean mau ngapain Mas?” tanyaku pada Si Gempal. Haha aku sudah seperti moderator handal yang ingin tahu visi misi kedua capres gila ini.
“Kalau saya jadi presiden, saya akan cari istri sebanyak banyaknya! Bila perlu Sarah Azhari dan Julia Perez akan saya jadikan istri saya!” ujarnya sembari mengangkat botol ciu layaknya mikrofon dan mengangkat tangannya yang dikepalkan tinggi-tinggi. Sontak aku dan Si Kerempeng tergelak.
Kuambil beberapa kacang kulit dan memakannya sembari menonton berita tengah malam ini.
“Walikota Serengan, Anwar Santoso Adi mengaku tidak memikirkan masalah wacana tentang pencalonan dirinya menjadi Presiden dari partai PHP. Menurudnya dia ingin fokus menata kota Serengan menjadi kota yang lebih baik lagi. Inilah keterangan yang disampaikan Anwar ketika ditemui wartawan di sela kesibukannya,” ucap pembaca berita berbibir tipis itu. Beberapa saat kemudian muncul tayangan tentang wawancara si walikota nyentrik itu.
“Saya nggak mikirin masalah copras-capres itu. Biar mereka yang lebih pinter dari saya yang maju jadi presiden. Wong ndeso kayak saya kok dicalonkan jadi presiden, yo ngawur Sampean,” ucap seseorang bertubuh ceking dan tinggi yang ada di tv itu.
“Orang bodoh ya gitu itu. Lawong kebanyakan orang pengen jadi presiden kok dia yang dicalonkan malah nggak mau. Tuh liat, rakyat pada dukung dia buat jadi presiden tapi dia nggak mau. Dasar goblok! Kalau rakyat mendukung dia berarti dia emang pantes jadi presiden,” ujar Si Kerempeng mengebu-nggebu.
“Heh, sejak kapan otakmu bener Ndul? Minum ciu malah otakmu jadi bener, kalau nggak minum malah konslet, mending kamu minum terus saja hahaha,” ucap Si Gempal.
Seketika aku beranjak dari dudukku dan segera menaiki motorku. Kini aku tahu apa yang harus aku pilih. Aku tahu jalan keluar dari semua masalahku.
“Mau ke mana Mas?” tanya Si Gempal yang terheran melihat aku yang tiba-tiba hendak meninggalkan mereka.
“Mau jadi presiden. Daripada yang jadi presiden nanti orang yang suka menggalakkan ciu, lokalisasi, dan poligami, mending saya saja yang jadi presiden, hahaha.” Perkataanku sontak membuat mereka bingung, namun seketika tergelak sendiri. Sebelum aku menghidupkan mesin motorku, aku sempat mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Dia siapa sih Mbloh?”
“Goblok! Dia itu Anwar, calon presiden yang kamu goblok-goblokin tadi,”
“Goblok! Kok kamu nggak bilang aku Mbloh?”
“Lawong aku juga goblok, hahahaha.” Tawa mereka meledak mengiringi senyum dan deru mesin motor yang aku pacu.
***

1) Ciu adalah minuman keras dalam bahasa Jawa (Solo).

NB: Menjawab tantangan Mimin @KampusFiksi tentang politik. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar