“happy b’day to you... happy b’day
to you... happy b’day happy b’day. Happy b’day to you...!” Masing-masing orang
yang berada di dalam ruangan ini bersoraksorai dan bernyanyi sesuai kemauan hati mereka masing-masing. Ya, Saat ini aku
berada di antara euforia sebuah perayaan ulang tahun. Kami bersama-sama
meniupkan ruh kebahagiaan bagi seseorang yang saat ini tengah merayakan hari pertambahan
umurnya. Dia, yang kini sedang berdiri memegang kue tart coklat dan berada satu
garis lurus di depanku itu tengah mengumbar senyum. Aku mencuri sebersit
pandangan kepadanya. Ya, hanya sebersit. Karena memang aku tak mau sampai dia
mengetahui aku sedang memperhatikannya.
Rambut jabriknya yang menjulang
bagai pucuk Monas terlihat begitu mengkilap bermandikan gadsby. Tubuh jangkung
dengan dada bidang membuat siluet tubuh sixpacknya terlihat kentara dalam balutan
hem kotak merah bata yang agak ngepas. Yin dan Yang bagai telah bersinergi menyatukan
diri mereka menjadi bulatan indah yang bersembunyi di balik kaca mata mins tebalnya. Kaki jenjang berlapis celana jens abu-abu dan sepatu fantovel hitam
mengkilap adalah penutup dari keindahan dirinya dari ujung sel hingga ujung sel
yang lain.
Sejak mendapat kejutan ini,
senyumnya yang bagai gula aren murni itu tak pernah lepas dari bibir tipisnya.
Berulang kali kata terimakasih ia lontarkan kepada segenap sahabat yang telah
membuat segala kejutan ini terlaksana. Satu persatu kawan-kawannya menjabat
tangan dan mengucapkan selamat ulang tahun. Namun aku? Aku hanya berdiri
terpekur tanpa memiliki keberanian secuilpun untuk sekedar mengucapkan kata
selamat. Bahkan paperbag yang sedari tadi tergenggam erat di tanganku, aku biarkan
saja menempel permanen di tanganku.
Hadiah yang telah aku persiapkan sejak sebulan yang lalu ini, kini bagaikan sampai
yang kurasa tak pantas aku berikan untuk pangeran seperti dirinya.
Dia masih sibuk membalas segala
ucapan selamat dari segenap teman-temannya. Aku menyerah, mau dipaksakan
bagaimanapun aku tak akan pernah memiliki nyali untuk mengucapkan selamat dan
memberikan hadiah kecil ini. Aku mundur beberapa langkah. Aku balikkan badan
dan berniat kembali ke ruanganku, ruang PKL. Belum sempat langkah pertama aku
jejakkan ke lantai, ku dengar sebuah suara memanggilku.
“EH..DEK PKL!!” aku membalikkan
badan dan kudapati laki-laki itu menatap lurus ke arahku. Dia tersenyum padaku.
Ahhh... senyuman itu, senyuman yang selalu bisa membuat hatiku berdesir keras.
Aku paksakan membalas senyumannya walau agak kikuk. Aku tak percaya, senyuman
yang mampu merontokkan segala akal sehat itu kini khusus ditujukan kepadaku, hanya
untukku! Bagaikan terkena sihir, tubuhku tak mampu merespon segala perintah
otakku. Tubuhku membeku, sampai sepersekian detik aku hanya bisa berdiri
terpaku menatap sepasang mata indah itu lurus-lurus. Lihatlah! Betapa mata itu
mampu membekukan seluruh peredaran darahku dan menghentikan seluruh denyut
nadiku.
Karna aku tak memberikan respon
apapun, dia lalu menghampiriku. Tubuhku
terkesiap, jantungku berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya. Astaga mau apa dia bisikku.
“nih dek buat kamu. Kamu belum
dapet kuenya kan? Oh iya nama kamu siapa?” tanyanya dengan enteng kepadaku
sembari mengangsurkan sebuah piring kertas berisi sepotong tart.
“oh..eh...ehhmm ma..makasih mas.
Namaku Anggun mas.” Jawabku dengan menahan rasa gugup yang amat sangat. Aku
terima tart yang dia berikan untukku dengan tangan yang sedikit bergetar. Aku
tertunduk tak berdaya menahan segala hujaman perasaanku sendiri.
“oh nama kamu Anggun.” Dia
mengangguk-anggukkan kepalanya bertanda paham. “oh iya, itu di kokat kamu ada
namanya ya? Kenapa aku masih tanya ya? Hehehe” tawanya renyah tanpa beban,
seakan tak memperdulikan badai yang saat ini terjadi di dalam ruang hatiku. Aku
hanya membalas guyonannya itu dengan senyum malu.
“yaudah deh dek, dimakan ya
rotinya! Roti enak lho itu, kalau gak mau sini aku aja yang makan hehehe.”
Sekali lagi dia membercandaiku. Dia membalikkan badan tanpa peduli bagaimana
tanggapanku. Aku bagai tersentak. Seketika aku ingat paperbag yang sedari tadi menggantung manis di tanganku. Aku
paksakan suaraku agar keluar dari kerongkongannya.
“MA...MAS ADIT!!!” baru sampai
tiga, empat langkah dia berjalan , dia lalu membalikkan badannya lagi menghadap
ke arahku.
“ada apa dek?” tanyanya dengan
kening agak dikerutkan, membuat ekspresinya menjadi sangat lucu.
Aku berjalan ke arahnya dan
perlahan mengangsurkan paperbag itu
kepadanya. “selamat ulang tahun ya mas. Maaf kalau hadiahnya tidak berharga.” Akhirnya
keberanian itu muncul juga. Aku pejamkan mata, benar-benar tidak siap menerima
tanggapan darinya.
“wah apa ini dek? Hem..hem..
makasih banyak ya dek. Ah kamu ini pakai repot-repot ngasih hadiah segala.”
Senyumnya terkembang lagi, membuat tulang pipinya terlihat jelas dan menghasilkan
siluet wajah yang sangat mengagumkan.
“iya mas sa...” belum sempat aku
melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba aku mendegar suara seorang wanita yang
mendekat.
“hallo sayang!! Maaf ya aku
telat, tadi macet soalnya. Happy birthday ya sayang! Wish you all the best.
Tambah sayang sama aku pastinya!” kata wanita itu merajuk. Tangan kanannya
merangkul leher Mas Adit dan tangan kirinya memegang totebag yang lumayan besar. Semua pemandanngan ini membuat dadaku
terasa sesak, namun anehnya aku sama sekali tak beranjak dari tempat ini.
“hmmmm...nggak mau tahu,
pokoknya aku ngambek!!!” jawab Mas Adit dengan muka cemberut yang dibuat-buat.
Kata-katanya pun juga merajuk. Ah.. hati ini semakin perih saja.
“loh kok gitu sayang? Yaudah deh
aku pulang aja. Hadiahnya gak jadi tak kasihin ke kamu nih.” Kata wanita itu
sembari melepaskan rangkulannnya dari leher Mas Adit dan bersiap untuk pergi.
“eeehhhh!!! Jangan dong, iya iya
deh gak jadi marah. Sini sini hadiahnya mana?” jawab Mas Adit sembari menarik pergelangan
tangan wanita berambut panjang nan berkilau itu.
“halah, kamu ini kalau ada
maunya aja jadi baik. Kalau enggak aja....” wanita itu melirik nakal ke arah
Mas Adit. Matanya yang bening berkilat-kilat diterpa cahaya lampu neon di
ruangan ini. Mas Adit tak menjawab, hanya lirikan tajam yang dia lemparkan.
Kemudian tersenyum.
Mereka terus saja bermesraan
tanpa menganggap ada makhluk hidup yang berdiri tercenung tepat di depan
mereka. Hingga salah seorang staf administrasi sales menegur keduanya.
“woy!!! Jangan pacaran di sini
woy! Ayo kerja..kerja... party nya udah selesai.” Kata admin sales itu.
“yee.. sirik aja kamu mah. Dasar
jones, gak ngenakin orang pacaran aja!” gerutu Mas Adit. Dengan cekatan
tangannya mengenggam tangan wanita yang ada di sampingnya itu dan mengajaknya
untuk keluar dari ruangan kantor. Si admin sales hanya tertawa cekikikan
melihat tingkah temannya itu. Sedangkan aku,, aku masih sama seperti beberapa
menit yang lalu, berdiri terpekur menatap nanar ke arah punggung Mas Adit yang semakin
lama semakin hilang ditelan tembok ruangan. Tatkala Mas Adit benar-benar hilang
dari pandangan, kusapu pandanganku ke seisi ruangan kantor ini. Hingga
pandanganku membentur pada seonggok
benda tak berharga yang tergeletak di bawah kursi tempat Mas Adit tadi duduk. Paperbag itu....
***
Begitu penatnya hari ini karena
tugas-tugas di tempat PKL sangatlah banyak. Tidak heran sebenarnya, karena
memang ini adalah akhir bulan. Waktu di mana segala deatline perusahaan harus terpenuhi sebelum dijatuhkanya sanksi
dari manager berupa pemotongan gaji. Walau kami hanya pelajar lapangan dan
hanya bertugas membantu karyawan, tak ayal kami juga terkena dampak dari
kebiasaan deatliner para karyawan
kantor ini. Karena itulah aku dan teman-teman memutuskan rehat sejenak untuk
melepas lelah dan penat di sebuah kaffe.
Kami mengambil seat di bagian pojok kaffe sisi barat.
Kami duduk di sebuah soffa panjang berwarna kuning gading yang bersanding
dengan meja kaca yang lumayan panjang. Seorang pelayan berjalan ke arah kami
dan setelah sampai sejurus kemudian dia mengangsurkan sebuah daftar menu. Masinng-masing
dari kami memesan makanan yang berbeda-beda. Tujuannya agar kami bisa joinan
makanan satu dengan yang lainya.
Pelayan itu dengan patuh membawa
pesanan kami untuk diserahkan kepada koki. Tinggal menunggu beberapa saat lagi
makanan yang kami pesan akan segera terhidang dengan manis di atas meja. Untuk
membunuh beberapa menit ini, kami menggunakan waktu untuk bercerita tentang segala hal.
Kudengarkan segala celotehan teman-temanku sembari menyisir segala yang ada di
tempat ini. Kali ini memang aku menjadi jauh lebih pendiam dari yang biasanya.
Pikiran dan hatiku berkecamuk akibat peristiwa tadi pagi di kantor.
Aku gelengkan kepala, berusaha
merontokkan segala ingatan pahit yang begitu menyiksaku. Aku tenggelamkan
diriku pada arus perbincangan teman-temanku, namun tetap saja kejadian itu
menjadi topik yang tak dapat dihapus dari memori otakku. Aku edarkan
pandanganku ke seluruh isi ruangan, mungkin dengan aku melihat-lihat seluruh
sudut kaffe bergaya etnik ini mampu menghilangkan sedikit kegundahan hatiku.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan meminta izin kepada teman-temanku bahwa
aku ingin mencari udara segar. Teman-temanku yang tak mencium adanya perubahan
derastis yang terjadi pada diriku mengiyakan saja apa kemauanku.
Aku berjalan pelan dan sesekali
berhenti pada tiap-tiap lukisan klasik yang dipajang di dinding dengan figura
berukir dari kayu jati. Aku mengagumi segala keindahan dan estetika seni, aku
sangat mengapresiasi keseluruhan karya cipta ini, walau sejujurnya aku sama
sekali tak memiliki bakat untuk melukis. Semakin lama aku semakin terhanyut
dalam pengagumanku pada barisan figura yang terpajang rapi di sepanjang dinding
dan di segala sudut kaffe ini. Hingga aku benar-benar lupa dengan rasa perih
yang sejak pagi aku ratapi.
“hai sayang! Udah lama ya nunggu
di sini? Maaf ya, aku tadi ada urusan sama si bodoh Adit itu dulu.” Kudengar
lamat-lamat suara seorang wanita yang nampaknya aku kenal. Aku balikkan badan
mencari dari mana sumber suara. Dan ketika mataku menangkap sesuatu yang
janggal, aku terperanjat. Dia, orang yang telah mendapatkan hati yang begitu
aku dambakan, kini tengah berangkulan dengan laki-laki lain. Betapa biadapnya
dia yang telah menghianati seseorang yang sangat aku cintai. Aku tidak terima
ini, hampir-hampir aku akan bergerak mendekati wanita jalang itu dan
mengguyurkan segelas air yang ada di mejanya. Bila perlu aku ingin membanting
gelas kaca itu tepat di kepalanya agar dia sadar atas apa yang telah dia
lakukan. Namun aku mengurungkan niatku, aku harus melakukan hal lain yang lebih
penting dari sekedar melabrak wanita tak tahu diri itu. Aku harus menelfon Mas
Adit agar dia tahu dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah dilakukan
wanita pujaannya itu di belakangnya.
Aku menekan sebaris nomer
telefon yang sangat aku hafal, walaupun sebenarnya aku sama sekali belum pernah
menelfonnya. Demi apapun aku korbankan segala harga diri dan aku enyahkan anggapan bahwa aku telah mencampuri
urusan orang lain. Semua ini agar Mas Adit tahu tentang sebuah mutiara berkilau
yang sebenarnya busuk.
Aku tekan tombol call berulang kali namun selalu saja misscalled. Mas Adit kemana? Kenapa hpnya
dimatiin? bisikku dalam hati. Di tengah kegusaran hatiku yang kian
membuncah, aku putuskan untuk benar-benar melabrak wanita itu dengan tanganku
sendiri. Namun belum sempat aku menjejakkan kakiku untuk pertamakali, sudut
mataku menangkap bayangan laki-laki yang membuka pintu depan kaffe secara
tergesa dan memasuki ruang kaffe dengan langkah gusar. Dengan cepat laki-laki
itu mengahampiri meja wanita yang hendak aku labrak itu, dan...
“PLAKKKKKK!!!!” terdengar suara
kulit yang beradu dengan kulit. Wanita itu seketika terduduk di kursi memegangi
mukanya yang panas terkena tamparan keras sorang laki-laki yang ternyata adalah
Mas Adit itu.
“HEI COYY!!! JANGAN KASAR SAMA
PEREMPUAN!!!” bentak laki-laki yang tak lain adalah selingkuhan wanita itu.
Laki-laki itu lalu bersiap mengepalkan tinjunya dan sejurus kemudian telah
melayangkannya ke arah muka Mas Adit. Dalam sepersekian detik sebelum tinjuan
itu mengenai kulit ari wajahnya, Mas Adit telah terkesiap dan menangkap kepalan
tangan laki-laki itu dengan tangannya.
“BUKKKKKK!!!!” sekali lagi
terdengar suara debaman keras. Laki-laki asing itu jatuh membentur meja akibat
menerima tinjuan tangan kanan Mas Adit. Pelipis kanannya yang membentur meja
seketika mengeluarkan darah segar. Laki-laki itu ingin membalas namun sudah
tidak memiliki daya sedikitpun untuk mengeluarkan pukulan.
“aku nggak nyangka... aku bener-bener
nggak nyangka kamu tega ngelakuin semua ini ke aku Din. Aku sayang banget sama
kamu, tapi apa balasan kamu ke aku? Cuih, kamu malah selingkuh sama laki-laki
lain setelah mendapatkan semua uang aku.” Mas Adit membuang muka, sekilas
mengedarkan pandangan dan baru tersadar saat ini dia tengah mejadi pusat
perhatian. Matanya kembali tajam menatap ke arah wanita yang sedang tertunduk
menangis di depannya. “terimakasih untuk semuanya!! Aku rasa memang seharusnya
kita berakhir di sini saja.” Mas Adit
berbalik badan dan meninggalkan dua orang pesakitan yang hanya bisa membisu
itu. Ketika Mas Adit telah memegang gagang pintu kaffe, wanita yang ternyata
bernama Dinandra itu berteriak memecah keheningan di tempat itu.
“A....ADITTT,
MAAFIN AKU!!!” suaranya tercekat.
Mendengar
kata-kata itu, Mas Adit menghentikan langkahnya dan seketika melemparkan
sekilas pandangan kepada wanita yang dulu sangat dicintainya itu. “TERLAMBAT!”
balasnya sembari bergegas meninggalkan ruangan itu. Dari pintu kaca kaffe ini,
aku bisa melihat mas Adit menyetarter motor Ninjanya yang terparkir tepat di
depan kaffe. Tanpa berfikir panjang aku berlari keluar dan dengan sigap aku
starter motor Varioku untuk mengikuti Mas Adit yang telah lebih dulu berlalu.
Tak peduli akan sampai manapun aku akan pergi. Yang jelas, yang ada di
fikiranku untuk saat ini adalah aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik
saja.
***
“Plung...plung...”
suara batu yang dilemparkan ke dalam air begitu nyaring menyambut kedatanganku.
Senja telah tiba. Langit jingga yang begitu mempesona bermandikan semburat
cahaya matahari yang keemasan dan serombongan burung-burung yang kembali ke
peraduannya menambah syahdu suasana senja kali ini.
Jembatan ini
begitu sepi karena memang letaknya yang agak jauh dari jalan raya. Di
ujung-ujung jembatan yang membelah sungai kecil ini terhampar taman-taman bunga
yang begitu indah. Sejenak mataku takjub melihat pemandangan yang nampaknya
telah langka di kawasan perkotaan seperti ini. Hingga aku kembali tersadar dan
memusatkan pandanganku pada seorang pria yang tengah terpekur di atas jembatan
itu. Matanya merah dan ada air bening yang menyeruak dari kantung matanya. Dia
menatap nanar ke arah riak-riak kecil air sungai yang mengalir. Sesekali dia
lemparkan beberapa kerikil ke dalam air sungai. Aku memandang miris
terhadapnya. Dia yang aku kenal begitu
gagah dan perkasa, kini begitu lemah dan rapuh oleh takdir cinta yang tak
berpihak padanya.
Dengan ragu, perlahan
aku berjalan mendekat kepadanya. Hampir dekat, tinggal beberapa langkah lagi
aku sampai kepadanya, namun kuurungkan niatku. Kubalikkan badan seketika. Aku
pejamkan mata dengan amat-sangat, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku
begitu ingin memeluknya dan menguatkannya, tapi aku faham posisiku saat ini.
Mungkin sebaiknya aku biarkan dia
menenangkan fikiran dan menyendiri dulu di sini. Cukuplah aku mengamatinya dari
jauh, memastikan bahwa dia baik-baik saja.
“dekkk??!!”
aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. Dia tersenyum kepadaku
dan melambaikan tangannya agar aku mendekat kepadanya. Aku tidak yakin, namun
aku tetap saja menuruti perintahnya.
“aku bodoh ya
dek.” Katanya tiba-tiba tatkala aku telah berada tepat di sampingnya. Aku hanya
terdiam karena tak tahu harus berkata apa.
“aku mungkin
sudah tahu sejak awal bagaimana tabiat dia. Tapi aku tetep kekeuh mempertahankanya.
Aku yakin aku bisa membuatnya berubah. Aku bertahan atas nama cinta. Tapi pada
akhirnya pengorbanan ini harus sia-sia karena aku sudah tidak sanggup
menanggung semua.” Dia terus saja berujar tanpa mengalihkan sedikitpun
pandangannya dari sungai yang ada di depannya.
Sejenak aku
terdiam, berusaha menyelami sisi hati laki-laki yang ada di samapingku ini. aku
ingin benar-benar mengerti segala isi hatinya. “kamu enggak bodoh mas, yang
bodoh itu Dia yang tidak bisa melihat segala pengorbanan dan ketulusanmu.
Bodohnya dia yang malah memberikanmu segelas nila, padahal kamu telah
memberinya satu ember penuh susu. Ck!” aku berdecak. Terdiam untuk beberapa
saat. Entah angin apa yang meniupkan ruh keberanian kepadaku hingga aku bisa berkata seperti itu. “mmmhh.. maafkan
aku Mas. Maafkan kata-kataku yang lancang....”
“enggak dek...
kamu benar. Mungkin dia bukan jodohku yang sebenarnya. Cinta tak bisa
dipaksakan. Sebesar apapun pengorbanan yang aku lakukan, tetap tak mampu
membeli harga sebuah cinta. Haha, ternyata umur tak menentukan tingkat
kedewasaan seseorang.” Ucapnya ringan sembari tersenyum kepadaku. Kurasakan air
mukanya kini tak lagi mendung seperti sediakala. Wajahnya yang tampan terkena
bias cahaya matahari senja yang menjadikan parasnya layaknya patung dewa
bersepuh emas. Aku lega sekaligus bahagia melihat bibir tipisnya itu kini
berukirkan rembulan gading.
“kadang kita
sebaiknya belajar mencintai orang yang mencintai kita daripada mengharapkan
seseorang yang tak pernah mengharapkan kita. Kadang tanpa kita sadari, di
belakang kita saat ini ada seseorang yang dengan segenap ketulusannya
berdiri memasang badan untuk membela kita.
Dan tanpa kita sadari, tatkala kita menangis karena disakiti oleh orang yang
kita cintai, ada seseorang yang hatinya berkali lipat lebih sakit daripada diri
kita sendiri. Kebanyakan orang menyadari hadirnya seseorang itu tatkala dia telah pergi.” Aku terperangah
sejadi-jadinya. Aku tidak menyadari apa yang baru saja terucap dari sepasang
bibirku. Semua ini terjadi begitu saja di bawah alam bawah sadarku. Aku
palingkan muka menghadap ke arah Mas Adit. Dia menukikkan pandangan mata yang
begitu tajam. Antara sorot mata tak mengerti dan menuntut sebuah penjelasan.
“maksudmu apa
dek?” pertanyaannya membuatku tergeragap. Aku benar-benar tak tahu harus
berkata apa.
“emmhh,,
mungkin, suatu hari nanti, setelah orang itu pergi dari belakangmu, kau akan
mengetahuinya mas.” Jawabku singkat dan bergegas meninggalkan Mas Adit yang
masih terheran-heran dengan segala tingkah konyolku. Tapi aku tak peduli,
bagaimanapun bubur tak akan pernah menjadi nasi.
***
Aku
mengendarai motor maticku dengan
perasaan campur aduk, antara gelisah membayangkan tindakan bodohku tadi di atas
jembatan dan ketakutan akan mendapat azab dari Ayah karena telah pulang
terlambat. Pikiranku carut marut, membuat konsentrasi mengemudiku menjadi
pecah. Hingga kurasakan saku blazerku
bergetar keras. Aku menepi dan mengecek hpku. Di layar hp tertera sebaris nomer
telefon yang sudah kuduga akan segera menelfonkku.
Hah...bismillah.. gumamku dalam hati.
Aku angkat telfon itu dan kuucapkan salam.
“Nggun, ini
Ayah sama Ibu mau ke rumah sakit njenguk tetangga yang lagi lahiran. Kamu bawa
kunci rumahkan?” kata Ayahku dari
seberang sana.
“iya Yah,
Anggun bawa kunci rumah.”
“yaudah.
Hati-hati di rumah ya. Assalamuallaikum.”
“waalaikumsalam.”
Terdengar line telefon ditutup dari seberang sana. kulanjutkan perjalananku
pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya hari ini aku tidak
mendapat omelan dari orang tuaku.
Tidak
berselang lama aku telah sampai di depan gang menuju rumahku. Dari kejauhan aku
bisa melihat ada seorang laki-laki berdiri bersandar pada motor ninja hijaunya
tepat di depan gerbang rumahku. Hatiku berdesir. Kutajamkan penglihatanku.
Kupastikan benar-benar siapa orang itu. Ya tak salah lagi.
Motorku
semakin mendekat ke rumahku. Hingga tatkala motorku telah berhenti tepat di
depan motornya, dia tersenyum sumringah kepadaku. Aku balas tersenyum samar.
Senyum yang jelas menyiratkan tanda tanya yang besar.
Tatkala aku
berdiri tepat di hadapannya, dia langsung merengkuhku erat. Seakan aku baru
saja hilang dari negri antah berantah selama berpuluh-puluh tahun dan baru
ditemukan saat ini. Dadaku sesak karena badannya yang begitu tinggi besar merengkuh tubuhku secara haus.
Namun tak dapat kupungkiri, ada rasa hangat yang mengaliri seluruh nadi dan
syarafku. Jantungku berpacu tujuhkali lebih cepat dari biasanya. Mataku basah
oleh genangan air mata. Untuk beberapa saat lamanya aku hanya bisa terdiam tak
memberontak. Di dalam rengkuhanya aku merasakan kenyamanan, sehingga aku tak
ingin melepaskannya. Selamanya tak ingin melepaskannya.
“dek.. maafkan
aku yang telah dibutakan oleh cinta yang fana. Sehingga aku tak sanggup untuk
melihat cinta lain yang sebenarnya begitu besar dan suci. Maafkan aku yang
telah terlalu bodoh mencampakkanmu. Maafkan aku yang bahkan sampai saat ini
tidak bisa mencintaimu. Maafkan aku dek, kumohon... ajari aku tuk
mencintaimu...” kata-kata itu dia ucapkan di sela rengkuhannya. Tepat di
sebelah telinga kiriku, suaranya menjalar ke seluruh tubuhku. Membuat seluruh
bulu romaku berdiri. Aku pejamkan mataku dengan amat sangat, dan kubalas
merengkuh tubuhnya erat-erat. Seerat yang aku bisa. Aku tak ingin
melepaskannya.
“sampai akhir
nafas ini berhembus, aku akan mengajarimu untuk mencintaiku. Dan jikapun tetap
tidak sanggup, aku sudah cukup bahagia karena bisa mencintaimu sepenuh usiaku.”
Kubuka mataku
perlahan, memberanikan diri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Dan
tatakala kubuka mataku, kulihat paperbag itu
tergantung manis di atas montor ninjanya. Ya,, paperbag yang beberapa jam yang lalu pernah ia campakkan....
~END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar