Temaram di Malioboro
Mati!!! Baru sepersekian detik
aku mengalihkan pandanganku pada sebaris pernak-pernik yang tertata rapi di
atas meja berukuran satu kali satu setengah meter di emperan toko itu, aku
sudah kehilangan jejak teman-temanku. Aku mulai panik. Walaupun ini bukan kali
pertamaku menjejaki tanah para pelajar ini tapi aku tetap saja tak tahu arah
jalan. Segera saja aku ambil hp dari saku jinsku, berusaha mencari nomer telefon
teman-temanku. Aku tekan tombol call berkali-kali pada beberapa nomer, namun tetap
saja nihil. Aku berusaha berjalan pelan sembari melihat ke kanan dan ke kiri
secara awas. Aku raba wajah orang-orang yang ada di sini dengan sorot mata
menelisik.
Suasana sore di Malioboro memang
menjadi candu bagi para wisatawan. Tak heran jika saat ini begitu banyak
manusia berjejal menyesaki tempat ini,
membuatku sulit mencari wajah-wajah yang aku kenal. Aku telusuri
sepanjang jalan Malioboro ini. Di sepanjang jalan, terus saja kudengar banyak
Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang menjajakan dagangannya padaku, seakan tak
peduli kepanikanku saat ini.
Jean.. Fanny.. Doni.. kalian di mana? Bisikku dalam hati. Aku
hampir frustasi. Berkali-kali aku telfon mereka, namun tetap saja misscalled. Aku berhenti termangu di
depan sebuah toko batik. Di teras toko
itu banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya secara lesehan. Aku
hirup nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa panikku. Namun bukannya
ketenangan yang aku dapatkan, malahan paru-paruku sesak karena kemasukan asap
rokok yang dihembuskan seorang sopir dokar yang mangkal di tak jauh dariku.
Aku hembuskan nafas berat. Aku
berusaha menenangkan fikiranku untuk mencari jalan keluar. Ahhh!! Kenapa aku nggak ke pos polisi saja? Pekikku dalam hati. Aku hendak membalikkan
badan dan menuju ke arah selatan menuju pos polisi yang ada di perempatan jalan.
Namun tiba-tiba aku merasakan pundakku disentuh sebuah tangan kekar. Seketika
bulu romaku meremang. Aku langsung membalikkan badan.
“DONIIII???” pekikku seketika
tatkala melihat siapa yang tadi
menyentuhku. Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Tapi... hey sebentar, ku rasa
tadi ketika terakhir kali aku melihat Doni, dia memakai sweter belang abu biru
tua, tapi kenapa dia sekarang memakai kaos kuning yang dibalut jaket jins
kumal? Apa dia benar Doni? Tapi wajahnya benar-benar mirip. Untuk beberapa
detik mataku lurus mengamati seluruh tubuh laki-laki yang ada di hadapanku ini.
belum sempat aku menemukan jawaban, laki-laki itu telah angkat bicara.
“kamu pasti Rena kan? Pacarnya
Doni?” kata laki-laki itu sembari tersenyum. Aku mengerutkan kening semakin tak
faham.
“hahaha. Jangan bingung gitu
dong. Kenalkan aku Alifan, sepupunya Doni. Kamu pasti bingung karna aku mirip
banget sama Doni.” Kata laki-laki itu lagi masih dengan senyuman yang aku tak faham maksudnya. Aku mengangguk. Aku benar-benar tak tahu Doni
punya saudara sepupu yang semirip ini.
“hmmm kayaknya aku harus cerita
banyak hal ke kamu tentang Doni, aku, keluarga kita, dan masa lalu...” dia
menekankan pada kata ‘masa lalu’. “ayo kita singgah ke rumahkku!” ajak Alifan
sembari menarik tanganku begitu saja tanpa merasa perkewuh.
“ta..tapi..” aku tak yakin
apakah aku harus mengikuti laki-laki yang baru saja kukenal ini.
“jangan takut. Kamu pasti
tersesat kan? Dan Kamu kebingungan nyari Doni?” kata Alifan yang seperti mampu membaca fikiranku.
“tenang. Doni dan teman-temannya udah sampai duluan di rumahku. Kata dia, kamu
hilang. Dia sekarang lagi nyariin kamu, dan dia juga minta aku buat bantu nyari
kamu.” Kata Alifan lembut. Aku bingung.
Dengan segala tanda tanya yang masih menyumpal di kepala, aku ikuti saja apa
mau Alifan.
Kami berdua menyusuri jalanan
Malioboro ini dengan diam. Aku sedikit terseok mengikuti langkah kakinya yang
panjang dan juga cepat. Baru beberapa menit kami berjalan, tiba-tiba dia
berhenti mendadak. Membuat aku menabrak
punggungnya yang lebar dan berotot. Tanpa basa-basi dia menggamit lenganku untuk
menyeberangi jalan Malioboro ini.
“kita mau ke mana?” tanyaku yang
sudah tak kuat lagi menahan rasa penasaran. Alifan menatapku dan tersenyum
sekilas kepadaku. Telunjuknya dengan cekatan menunjukkan arah yang akan kita
tuju. Aku tarik garis lurus dari telunjuk itu ke sebuah bangunan yang berjarak
tidak jauh dari tempat kami sekarang berdiri.
“kita mau ke musium?” tanyaku tatkala
aku telah melihat bangunan apa yang ditunjuk Alifan.
“hahaha.” Dia tertawa sekilas,
menunjukkan barisan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. “bukan! Kita akan
pulang ke rumahku.” lanjutnya dengan muka serius yang mengerikan.
“hah rumah? Kok aneh gitu
bentuknya?” komentarku apa adanya.
“nanti aku jelaskan!” serunya
ketus sembari menarik tanganku dan berjalan cepat ke arah bangunan tua itu.
Setelah aku berdiri tepat di
depan gedung itu, ada sensasi aneh yang menggelayutiku. Gedung itu merupakan
sebuah rumah berbentuk Joglo . bangunan ini berdiri tepat di depan Malioboro. Halamannya
bersentuhan langsunng dengan jalan Raya Malioboro. Aku pandangi bangunan ini
seinci demi seinci. Bangunan ini lebih tinggi dari jalan raya. Ada kisaran
sepuluhan anak tangga yang tersusun untuk mencapai pintu masuk rumah ini.
“ayo masuk.” Kata Alifan yang
berjalan menaiki anak tangga di depanku. Aku menelan ludah, sedikit tidak yakin
untuk memasuki bangunan tua ini. Namun apa boleh buat, sudah kepalang tanggung
aku ikuti saja Alifan.
Satu demi satu aku menaiki anak
tangga yang terbuat dari batu marmer berwarna gading ini. “KREKKKKK!!”
terdengar suara pagar kayu yang berderit. Di tangga paling atas terdapat pagar
kayu berukuran setengah badan orang dewasa yang mengelilingi teras rumah. Aku
melihat Alifan berjalan dengan santainya membelah ruang teras ini. Aku
perhatikan ruang ini. Di sudut kanan ruangan ini terdapat seperangkat meja
kursi berukiran dari kayu jati, dan di atasnya ada sebuah lampu petromaks yang
sudah sangat usang. Sedangkan atap teras ini sendiri ditopang empat pilar kayu
ukuran sedang yang di cat dengan warna hijau tua. Sisi-sisinya penuh dengan
ukir-ukiran bercat emas.
Di ujung sana Alifan tengah
sibuk mencari sesuatu, kurasa dia sedang mencari kunci. Benar saja, setelah dia
menemukan kuncinya dia langsung membuka pintu dan memberikan sebuah kode dengan
kepalanya, menyuruhku untuk masuk. Aku berjalan dengan waspada, takut akan
terjadi sesuatu.
“duduklah di sini dulu! Aku akan
ambilkan minuman. Kamu mau minum apa?” tanya Alifan sembari menyalakan lampu
bolam 10 watt yang tergantung di tengah ruangan.
“apa aja deh.” Kataku sembari
memaksakan sebuah senyuman untuknya.
“oke! Tunggu ya!” katanya
kemudian, sembari berlalu pergi.
Aku ambil hpku yang sedari tadi
hanya aku taruh di dalam tas. Aku buka kuncinya dan kudapati di pojok kiri atas
layar hp itu tak ada satupun garis yang muncul. Itu artinya di sini tidak ada
sinyal. Aku letakkan kembali hpku pada posisinya semula. Untuk mengusir rasa
jenuh, aku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan yang temaram ini. Ruang tamu
ini tak seluas ruang teras yang ada di depan. Hanya ada satu seat meja kursi
tamu berukuran kecil, sebuah dipan kecil di bawah jendela, dan dua buah lukisan
berfigura yang lumayan besar. Perhatianku terpusat pada dua lukisan itu. Aku berdiri
dan berjalan ke arah salah satu lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan seorang
kakek yang duduk di kursi goyang sembari
memegang sebuah tongkat. Aku bisa melihat dari sorot matanya yang tajam
dan terkesan angkuh, kakek ini pasti memiliki
sifat yang jumawa. Perhatianku beralih
pada sebuah lukisan yang satunya. Lukisan dua pasang suami istri yang berdiri berjajar.
Sedangkan di depannya ada dua bocah laki-laki yang berdiri saling berangkulan. Dahiku
berkerut melihat dua bocah laki-laki itu.
“astaga! Doni, Alifan!” pekikku
tiba-tiba saat mengetahui bahwa dua bocah di lukisan itu adalah Doni dan
Alifan.
“iya, memanng itu aku dan sepupuku
Doni.” Alifan tiba-tiba menyahut, dia letakkan dua cangkir teh yang dia bawa di
atas meja. Dia lalu mendekat ke arahku dan menghadap lukisan itu juga.
“ini ketika kami masih berumur
tiga tahun. Yang di sebelah kanan itu Ibu dan Ayah Doni, mereka Budhe dan Pakdheku. Nah, yang di sebilah kiri itu Ibu dan Ayahku.” Kata Alifan
sembari menunjuk masing-masing orang di foto itu.
“kalo itu siapa?” tanyaku
sembari menunjuk dengan daguku lukisan kakek tua itu.
Alifan tertawa kecil lalu
melanjutkan tuturannya. “dia kakekku. Aku sayang banget sama dia. “ raut muka
Alifan berubah menjadi mendung.
“maaf. Kakekmu masih hidup
atau...?” aku tak berani melanjutkan pertanyaanku, takut menyinggung
perasaanya.
Dia menatapku lekat-lekat,
membuatku harus mengalihkan pandanngan darinya. “bahkan aku belum pernah sama
sekali bertemu kakekku. Dia meninggal sebelum aku lahir.” Perlahan air mata
Alifan jatuh di kedua pipinya. Aku merasa bersalah telah menanyakan sesuatu
yang membuatnya bersedih.
Aku belai lembut bahu Alifan. “aku
juga sayang banget sama kakekku. Aku juga baru saja kehilangan beliau. Beberapa
minggu lalu kakekku meninggal. Jadi kamu nggak sendiri Alifan.” Aku beranikan
diri mengucap seperti itu kepada Alifan.
Alifan menghentikan tangisannya.
Seketika dia memandangku lekat-lekat. “kakekmu seorang TNI?” tanyanya kemudian
yang sedikit membuatku terheran. Aku lantas mengangguk.
Dia mengibaskan tanganku yang
masih merangkul bahunya. Dengan tiba-tiba dia memegang kedua pundakku dan
melemparkanku ke kursi ruang tamu. Dia mendekat
dengan tatapan mata yang mencekam. Dia berlari ke arahku seperti orang yang
kesetanan.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!! KAU MAU APA
ALIFAN? APA YANG KAU LAK....” suaraku tercekat karena tangan Alifan mencekik
leherku sekuat tenaga. Aku berontak, namun tetap saja tenaganya jauh lebih kuat
dari tenagaku. Aku terus saja berontak sekuat tenaga. Aku tendang perut Alifan
dan dia terdorong ke belakang, sekonyong-konyong aku bangkit dan berlari menuju
pintu. Namun sial, pintunya terkunci.
“TOLOOOOOOOOOOOOOONG!!!” aku
berteriak sekeras mungkin. Aku yakin pasti ada orang yang mendengarku karna di
depan adalah Malioboro yang sangat ramai. Namun berkali-kali aku berteriak,
tetap saja tak ada satu orangpun yang mendekat. Ada apa dengan ini sebenarnya?
Aku masih menggedor-gedor pintu
sembari berteriak tatkala Alifan telah bangkit dan tersenyum licik kepadaku. Tangannya
dengan sigap membuka laci meja di sampingnya. Dia mengambil sebuah pisau tajam
. Mataku terbelalak, jantungku berdegup beribu kali lebih cepat.
“kau harus mati Rena!!” teriak Alifan.
“ke..kenapa? bahkan ak..aku baru
saja mengenalmu.” Aku rasakan sekujur badanku bergetar hebat.
“hah!! Ini semua untuk membayar
dendam kakekku yang mati di tangan kakekmu!”
“maksudmu?” aku benar-benar
tidak paham dengan apa yang dibicarakan Alifan. Rasa takut benar-benar membuntu
otakku untuk berfikir.
“kakekmu adalah tentara yang
telah membunuh puluhan PKI, dan salah satunya adalah Kakekku!” jeritnya disela
isak tangisnya. Aku hanya bisa termangu mendengar semua penjelasan Alifan.
“ta..tapi. ke.na.pa Doni tidak
pernah cerita semua ini? dan kenapa dia justru memacariku?”
“hahaha. Itu dia lakukan demi
membalaskan dendam kami semua kepada kakekmu. Namun sayang Doni begitu lamban. Mungkin
memang harus aku yang turun tangan membunuhmu Rena!” tanpa banyak bicara lagi,
Alifan berlari ke arahku dan bersiap menghujamkan pisaunya ke arahku.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!” seketika
aku terjatuh dan semuanya menjadi gelap.
***
“Ren! Rena! Bangun ren!”
sayup-sayup kudengar sebuah suara. Samar-samar aku melihat bayangan beberapa
orang yang mengerubungiku. Aku kerjap-kerjapkan mataku untuk memulihkan segenap
kesadaranku.
“Rena kamu nggakpapa kan?”
kudengar suara seorang laki-laki yang sepertinya sudah familiar di telingaku.
“Doni!!!” aku memeluk laki-laki
yang ada di depanku ini. Aku lihat
sekelilingku. Banyak orang-orang yang mengerubungiku. Aku bingung sebenarnya
ada apa ini?
“ada apa ini Don?” tanyaku
setelah kesadaranku benar-benar pulih.
“kamu tadi hilang dari
rombongan. Kita nyariin kamu tapi nggak ketemu-ketemu. Tiba-tiba ada warga yang
lapor polisi, katanya ada wanita pingsan di dalam Pasar Bringharjo.” Mendengar penjelasan
Doni, aku tiba-tiba tercekat. Teringat sesuatu yang baru saja aku alami.
“aku tadi ketemu dengan
sepupumu, namanya Alifan.” Kataku dengan suara bergetar.
Mendengar pekataanku, kening
Doni berkerut, seakan memikirkan sesuatu. “aku memang punya saudara sepupu
namanya Allifan, tapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena bunuh
diri.” Jelas Doni yang membuatku termangu beberapa waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar