Minggu, 04 Mei 2014

#Maliobaru


                                                 Temaram di Malioboro

Mati!!! Baru sepersekian detik aku mengalihkan pandanganku pada sebaris pernak-pernik yang tertata rapi di atas meja berukuran satu kali satu setengah meter di emperan toko itu, aku sudah kehilangan jejak teman-temanku. Aku mulai panik. Walaupun ini bukan kali pertamaku menjejaki tanah para pelajar ini tapi aku tetap saja tak tahu arah jalan. Segera saja aku ambil hp dari saku jinsku, berusaha mencari nomer telefon teman-temanku. Aku tekan tombol call  berkali-kali pada beberapa nomer, namun tetap saja nihil. Aku berusaha berjalan pelan sembari melihat ke kanan dan ke kiri secara awas. Aku raba wajah orang-orang yang ada di sini dengan sorot mata menelisik.
Suasana sore di Malioboro memang menjadi candu bagi para wisatawan. Tak heran jika saat ini begitu banyak manusia berjejal menyesaki tempat ini,  membuatku sulit mencari wajah-wajah yang aku kenal. Aku telusuri sepanjang jalan Malioboro ini. Di sepanjang jalan, terus saja kudengar banyak Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang menjajakan dagangannya padaku, seakan tak peduli  kepanikanku saat ini.
Jean.. Fanny.. Doni.. kalian di mana? Bisikku dalam hati. Aku hampir frustasi. Berkali-kali aku telfon mereka, namun tetap saja misscalled. Aku berhenti termangu di depan sebuah toko  batik. Di teras toko itu banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya secara lesehan. Aku hirup nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa panikku. Namun bukannya ketenangan yang aku dapatkan, malahan paru-paruku sesak karena kemasukan asap rokok yang dihembuskan seorang sopir dokar yang mangkal di tak jauh dariku.
Aku hembuskan nafas berat. Aku berusaha menenangkan fikiranku untuk mencari jalan keluar. Ahhh!! Kenapa aku nggak ke pos polisi saja?  Pekikku dalam hati. Aku hendak membalikkan badan dan menuju ke arah selatan menuju pos polisi yang ada di perempatan jalan. Namun tiba-tiba aku merasakan pundakku disentuh sebuah tangan kekar. Seketika bulu romaku meremang. Aku langsung membalikkan badan.
“DONIIII???” pekikku seketika tatkala  melihat siapa yang tadi menyentuhku. Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Tapi... hey sebentar, ku rasa tadi ketika terakhir kali aku melihat Doni, dia memakai sweter belang abu biru tua, tapi kenapa dia sekarang memakai kaos kuning yang dibalut jaket jins kumal? Apa dia benar Doni? Tapi wajahnya benar-benar mirip. Untuk beberapa detik mataku lurus mengamati seluruh tubuh laki-laki yang ada di hadapanku ini. belum sempat aku menemukan jawaban, laki-laki itu telah angkat bicara.
“kamu pasti Rena kan? Pacarnya Doni?” kata laki-laki itu sembari tersenyum. Aku mengerutkan kening semakin tak faham.
“hahaha. Jangan bingung gitu dong. Kenalkan aku Alifan, sepupunya Doni. Kamu pasti bingung karna aku mirip banget sama Doni.” Kata laki-laki itu lagi masih dengan senyuman  yang aku tak faham maksudnya.  Aku mengangguk. Aku benar-benar tak tahu Doni punya saudara sepupu yang semirip ini.
“hmmm kayaknya aku harus cerita banyak hal ke kamu tentang Doni, aku, keluarga kita, dan masa lalu...” dia menekankan pada kata ‘masa lalu’. “ayo kita singgah ke rumahkku!” ajak Alifan sembari menarik tanganku begitu saja tanpa merasa perkewuh.
“ta..tapi..” aku tak yakin apakah aku harus mengikuti laki-laki yang baru saja kukenal ini.
“jangan takut. Kamu pasti tersesat kan? Dan Kamu kebingungan nyari Doni?” kata Alifan  yang seperti mampu membaca fikiranku. “tenang. Doni dan teman-temannya udah sampai duluan di rumahku. Kata dia, kamu hilang. Dia sekarang lagi nyariin kamu, dan dia juga minta aku buat bantu nyari  kamu.” Kata Alifan lembut. Aku bingung. Dengan segala tanda tanya yang masih menyumpal di kepala, aku ikuti saja apa mau Alifan.
Kami berdua menyusuri jalanan Malioboro ini dengan diam. Aku sedikit terseok mengikuti langkah kakinya yang panjang dan juga cepat. Baru beberapa menit kami berjalan, tiba-tiba dia berhenti mendadak.  Membuat aku menabrak punggungnya yang lebar dan berotot. Tanpa basa-basi dia menggamit lenganku untuk menyeberangi jalan Malioboro ini.
“kita mau ke mana?” tanyaku yang sudah tak kuat lagi menahan rasa penasaran. Alifan menatapku dan tersenyum sekilas kepadaku. Telunjuknya dengan cekatan menunjukkan arah yang akan kita tuju. Aku tarik garis lurus dari telunjuk itu ke sebuah bangunan yang berjarak tidak jauh dari tempat kami sekarang berdiri.
“kita mau ke musium?” tanyaku tatkala aku telah melihat bangunan apa yang ditunjuk Alifan.
“hahaha.” Dia tertawa sekilas, menunjukkan barisan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. “bukan! Kita akan pulang ke rumahku.” lanjutnya dengan muka serius yang mengerikan.
“hah rumah? Kok aneh gitu bentuknya?” komentarku apa adanya.
“nanti aku jelaskan!” serunya ketus sembari menarik tanganku dan berjalan cepat ke arah bangunan tua itu.
Setelah aku berdiri tepat di depan gedung itu, ada sensasi aneh yang menggelayutiku. Gedung itu merupakan sebuah rumah berbentuk Joglo . bangunan ini berdiri tepat di depan Malioboro. Halamannya bersentuhan langsunng dengan jalan Raya Malioboro. Aku pandangi bangunan ini seinci demi seinci. Bangunan ini lebih tinggi dari jalan raya. Ada kisaran sepuluhan anak tangga yang tersusun untuk mencapai pintu masuk rumah ini.
“ayo masuk.” Kata Alifan yang berjalan menaiki anak tangga di depanku. Aku menelan ludah, sedikit tidak yakin untuk memasuki bangunan tua ini. Namun apa boleh buat, sudah kepalang tanggung aku ikuti saja Alifan.
Satu demi satu aku menaiki anak tangga yang terbuat dari batu marmer berwarna gading ini. “KREKKKKK!!” terdengar suara pagar kayu yang berderit. Di tangga paling atas terdapat pagar kayu berukuran setengah badan orang dewasa yang mengelilingi teras rumah. Aku melihat Alifan berjalan dengan santainya membelah ruang teras ini. Aku perhatikan ruang ini. Di sudut kanan ruangan ini terdapat seperangkat meja kursi berukiran dari kayu jati, dan di atasnya ada sebuah lampu petromaks yang sudah sangat usang. Sedangkan atap teras ini sendiri ditopang empat pilar kayu ukuran sedang yang di cat dengan warna hijau tua. Sisi-sisinya penuh dengan ukir-ukiran bercat emas.
Di ujung sana Alifan tengah sibuk mencari sesuatu, kurasa dia sedang mencari kunci. Benar saja, setelah dia menemukan kuncinya dia langsung membuka pintu dan memberikan sebuah kode dengan kepalanya, menyuruhku untuk masuk. Aku berjalan dengan waspada, takut akan terjadi sesuatu.
“duduklah di sini dulu! Aku akan ambilkan minuman. Kamu mau minum apa?” tanya Alifan sembari menyalakan lampu bolam 10 watt yang tergantung di tengah ruangan.
“apa aja deh.” Kataku sembari memaksakan sebuah senyuman untuknya.
“oke! Tunggu ya!” katanya kemudian, sembari berlalu pergi.
Aku ambil hpku yang sedari tadi hanya aku taruh di dalam tas. Aku buka kuncinya dan kudapati di pojok kiri atas layar hp itu tak ada satupun garis yang muncul. Itu artinya di sini tidak ada sinyal. Aku letakkan kembali hpku pada posisinya semula. Untuk mengusir rasa jenuh, aku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan yang temaram ini. Ruang tamu ini tak seluas ruang teras yang ada di depan. Hanya ada satu seat meja kursi tamu berukuran kecil, sebuah dipan kecil di bawah jendela, dan dua buah lukisan berfigura yang lumayan besar. Perhatianku terpusat pada dua lukisan itu. Aku berdiri dan berjalan ke arah salah satu lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan seorang kakek yang duduk di kursi goyang sembari  memegang sebuah tongkat. Aku bisa melihat dari sorot matanya yang tajam dan terkesan angkuh, kakek ini  pasti memiliki sifat yang jumawa.  Perhatianku beralih pada sebuah lukisan yang satunya. Lukisan dua pasang suami istri yang berdiri berjajar. Sedangkan di depannya ada dua bocah laki-laki yang berdiri saling berangkulan. Dahiku berkerut melihat dua bocah laki-laki itu.
“astaga! Doni, Alifan!” pekikku tiba-tiba saat mengetahui bahwa dua bocah di lukisan itu adalah Doni dan Alifan.
“iya, memanng itu aku dan sepupuku Doni.” Alifan tiba-tiba menyahut, dia letakkan dua cangkir teh yang dia bawa di atas meja. Dia lalu mendekat ke arahku dan menghadap lukisan  itu juga.
“ini ketika kami masih berumur tiga tahun. Yang di sebelah kanan itu Ibu dan Ayah Doni, mereka Budhe dan Pakdheku. Nah, yang di sebilah kiri itu Ibu dan Ayahku.” Kata Alifan sembari menunjuk masing-masing orang di foto itu.
“kalo itu siapa?” tanyaku sembari menunjuk dengan daguku lukisan kakek tua itu.
Alifan tertawa kecil lalu melanjutkan tuturannya. “dia kakekku. Aku sayang banget sama dia. “ raut muka Alifan berubah menjadi mendung.
“maaf. Kakekmu masih hidup atau...?” aku tak berani melanjutkan pertanyaanku, takut menyinggung perasaanya.
Dia menatapku lekat-lekat, membuatku harus mengalihkan pandanngan darinya. “bahkan aku belum pernah sama sekali bertemu kakekku. Dia meninggal sebelum aku lahir.” Perlahan air mata Alifan jatuh di kedua pipinya. Aku merasa bersalah telah menanyakan sesuatu yang membuatnya bersedih.
Aku belai lembut bahu Alifan. “aku juga sayang banget sama kakekku. Aku juga baru saja kehilangan beliau. Beberapa minggu lalu kakekku meninggal. Jadi kamu nggak sendiri Alifan.” Aku beranikan diri mengucap seperti itu kepada Alifan.
Alifan menghentikan tangisannya. Seketika dia memandangku lekat-lekat. “kakekmu seorang TNI?” tanyanya kemudian yang sedikit membuatku terheran. Aku lantas mengangguk.
Dia mengibaskan tanganku yang masih merangkul bahunya. Dengan tiba-tiba dia memegang kedua pundakku dan melemparkanku ke kursi ruang  tamu. Dia mendekat dengan tatapan mata yang mencekam. Dia berlari ke arahku seperti orang yang kesetanan.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!! KAU MAU APA ALIFAN? APA YANG KAU LAK....” suaraku tercekat karena tangan Alifan mencekik leherku sekuat tenaga. Aku berontak, namun tetap saja tenaganya jauh lebih kuat dari tenagaku. Aku terus saja berontak sekuat tenaga. Aku tendang perut Alifan dan dia terdorong ke belakang, sekonyong-konyong aku bangkit dan berlari menuju pintu. Namun sial, pintunya terkunci.
“TOLOOOOOOOOOOOOOONG!!!” aku berteriak sekeras mungkin. Aku yakin pasti ada orang yang mendengarku karna di depan adalah Malioboro yang sangat ramai. Namun berkali-kali aku berteriak, tetap saja tak ada satu orangpun yang mendekat. Ada apa dengan ini sebenarnya?
Aku masih menggedor-gedor pintu sembari berteriak tatkala Alifan telah bangkit dan tersenyum licik kepadaku. Tangannya dengan sigap membuka laci meja di sampingnya. Dia mengambil sebuah pisau tajam . Mataku terbelalak, jantungku berdegup beribu kali lebih cepat.
“kau harus mati  Rena!!” teriak Alifan.
“ke..kenapa? bahkan ak..aku baru saja mengenalmu.” Aku rasakan sekujur badanku bergetar hebat.
“hah!! Ini semua untuk membayar dendam kakekku yang mati di tangan kakekmu!”
“maksudmu?” aku benar-benar tidak paham dengan apa yang dibicarakan Alifan. Rasa takut benar-benar membuntu otakku untuk berfikir.
“kakekmu adalah tentara yang telah membunuh puluhan PKI, dan salah satunya adalah Kakekku!” jeritnya disela isak tangisnya. Aku hanya bisa termangu mendengar semua penjelasan Alifan.
“ta..tapi. ke.na.pa Doni tidak pernah cerita semua ini? dan kenapa dia justru memacariku?”
“hahaha. Itu dia lakukan demi membalaskan dendam kami semua kepada kakekmu. Namun sayang Doni begitu lamban. Mungkin memang harus aku yang turun tangan membunuhmu Rena!” tanpa banyak bicara lagi, Alifan berlari ke arahku dan bersiap menghujamkan pisaunya ke arahku.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!” seketika aku terjatuh dan semuanya menjadi gelap.
***
“Ren! Rena! Bangun ren!” sayup-sayup kudengar sebuah suara. Samar-samar aku melihat bayangan beberapa orang yang mengerubungiku. Aku kerjap-kerjapkan mataku untuk memulihkan segenap kesadaranku.
“Rena kamu nggakpapa kan?” kudengar suara seorang laki-laki yang sepertinya sudah familiar di telingaku.
“Doni!!!” aku memeluk laki-laki yang ada di  depanku ini. Aku lihat sekelilingku. Banyak orang-orang yang mengerubungiku. Aku bingung sebenarnya ada apa ini?
“ada apa ini Don?” tanyaku setelah kesadaranku benar-benar pulih.
“kamu tadi hilang dari rombongan. Kita nyariin kamu tapi nggak ketemu-ketemu. Tiba-tiba ada warga yang lapor polisi, katanya ada wanita pingsan di dalam Pasar Bringharjo.” Mendengar penjelasan Doni, aku tiba-tiba tercekat. Teringat sesuatu yang baru saja aku alami.
“aku tadi ketemu dengan sepupumu, namanya Alifan.” Kataku dengan suara bergetar.
Mendengar pekataanku, kening Doni berkerut, seakan memikirkan sesuatu. “aku memang punya saudara sepupu namanya Allifan, tapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena bunuh diri.” Jelas Doni yang membuatku termangu beberapa waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar