Senin, 19 Mei 2014

Secarik Kertas Untuk Pangeran


Kini ku berjalan menjauh
Meninggalkan sebersit kenangan indah yang baru saja kulalaui
Aku merutuki kebodohanku sendiri
Yang bisa dengan mudahnya terjatuh dalam waktu sesingkat ini
Kau yang ku lihat dengan mataku hanyalah kau
Salahku adalah mengizinkan mata hati ku melihat terlalu dalam ke hatimu
Hati yang sederhana, berwibawa , ceria dan apa adanya
Wahai engkau yang selalu bisa membuat hati ini bergetar
Apakah kau mendengar suara gemertak pilu kaca yang retak itu
Ketahuilah, kaca yang selalu tampak jumawa dan berkilau di hadapanmu itu
Sebenarnya dia rapuh dan mudah patah
Apakah kau mendengar tangisan bunga layu yang terhujam bulir-bulir tajam air hujan
Ketahuilah, bunga-bunga yang selalu nampak indah dan ceria di hadapanmu itu
Sebenarnya layu dan merana
Dan apakah kau mendengar suara rintihan malam yang kesepian ditinggal sang bintang
Ketahuilah malam yang selalu terlihat perkasa dan tegar di hadapanmu
Sebenarnya dia kesepian dipeluk awan hitam yang angkuh

Aku hanya bisa terdiam, namun hatiku terus saja berbisik
Sanggupkah kau menjawab semua itu
Atau harus kah aku berteriak memecah lautan agar kau sadar
Bahwa kaca yang retak, bunga yang layu, dan malam yang merintih itu aku
Tahukah engkau mengapa aku selalu memalingkan diri dari tatapanmu
Tahukah engkau mengapa aku selalu terdiam tatkala ada di dekatmu
Dan Tahukah engkau mengapa aku selalu menunduk ketika kau tersenyum kepada ku
Ketahuilah, dan bahkan semut-semut hitam itu menjadi saksi
Betapa tatapanmu itu mampu menegangkan nadi dan menggetarkan hatiku
Betapa berada di dekatmu itu telah mampu membuat lidahku kelu
Betapa senyumanmu mampu menggoyahkan akal sehatku

Wahai engkau pangeran bermata layaknya purnama
Maafkan aku yang telah terlalu lancang berkata-kata
Aku si anak ingusan tak selayaknya berkata tentang rasa
Tapi bukankah ada pujangga berkata demikian:
“jangan simpan kata-kata cinta untuk orang tersayang hingga ia meninggal dunia dan kamu terpaksa harus mencatatkan kata-kata cinta itu di atas pusaranya. Ucapkan kata-kata cinta itu sekrang, selagi masih ada hayat.”
Untuk itulah ku beranikan diri menuliskan segala isi hati dengan penaku
Mungkin ini terlihat konyol
Tapi inilah aku yang kau kenal
Gadis pendiam yang lebih senang menari dengan kertas dan penanya daripada banyak berkata-kata
Kau boleh saja menertawakanku
Tapi ketahuilah, di setiap goresan tinta ini terselip luka

Duhai engkau pangeran yang memiliki senyuman emas
Aku tak menuntutmu memiliki rasa seperti apa yang ku rasa
Ini salahku karena menginginkan hati yang telah termiliki
Namun salahkah jika aku ingin belajar untuk jujur
Entahlah, perasaan dan logikaku masih terlalu kecil untuk menafsirkan semuanya
Aku hanya ingin berucap terimakasih atas kebahagiaan yang singkat ini
Maafkan aku yang seakan tak punya harga diri
Aku hanya mencoba berkata dengan bahasa hati
Ku harap kau memahaminya dengan hati pula
Jika tetap tidak faham
Maka abaikanlah saja




                                                      ~lilin kecil~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar