Kini
ku berjalan menjauh
Meninggalkan
sebersit kenangan indah yang baru saja kulalaui
Aku
merutuki kebodohanku sendiri
Yang
bisa dengan mudahnya terjatuh dalam waktu sesingkat ini
Kau
yang ku lihat dengan mataku hanyalah kau
Salahku
adalah mengizinkan mata hati ku melihat terlalu dalam ke hatimu
Hati
yang sederhana, berwibawa , ceria dan apa adanya
Wahai
engkau yang selalu bisa membuat hati ini bergetar
Apakah
kau mendengar suara gemertak pilu kaca yang retak itu
Ketahuilah,
kaca yang selalu tampak jumawa dan berkilau di hadapanmu itu
Sebenarnya
dia rapuh dan mudah patah
Apakah
kau mendengar tangisan bunga layu yang terhujam bulir-bulir tajam air hujan
Ketahuilah,
bunga-bunga yang selalu nampak indah dan ceria di hadapanmu itu
Sebenarnya
layu dan merana
Dan
apakah kau mendengar suara rintihan malam yang kesepian ditinggal sang bintang
Ketahuilah
malam yang selalu terlihat perkasa dan tegar di hadapanmu
Sebenarnya
dia kesepian dipeluk awan hitam yang angkuh
Aku
hanya bisa terdiam, namun hatiku terus saja berbisik
Sanggupkah
kau menjawab semua itu
Atau
harus kah aku berteriak memecah lautan agar kau sadar
Bahwa
kaca yang retak, bunga yang layu, dan malam yang merintih itu aku
Tahukah
engkau mengapa aku selalu memalingkan diri dari tatapanmu
Tahukah
engkau mengapa aku selalu terdiam tatkala ada di dekatmu
Dan
Tahukah engkau mengapa aku selalu menunduk ketika kau tersenyum kepada ku
Ketahuilah,
dan bahkan semut-semut hitam itu menjadi saksi
Betapa
tatapanmu itu mampu menegangkan nadi dan menggetarkan hatiku
Betapa
berada di dekatmu itu telah mampu membuat lidahku kelu
Betapa
senyumanmu mampu menggoyahkan akal sehatku
Wahai
engkau pangeran bermata layaknya purnama
Maafkan
aku yang telah terlalu lancang berkata-kata
Aku
si anak ingusan tak selayaknya berkata tentang rasa
Tapi
bukankah ada pujangga berkata demikian:
“jangan simpan kata-kata
cinta untuk orang tersayang hingga ia meninggal dunia dan kamu terpaksa harus
mencatatkan kata-kata cinta itu di atas pusaranya. Ucapkan kata-kata cinta itu
sekrang, selagi masih ada hayat.”
Untuk
itulah ku beranikan diri menuliskan segala isi hati dengan penaku
Mungkin
ini terlihat konyol
Tapi
inilah aku yang kau kenal
Gadis
pendiam yang lebih senang menari dengan kertas dan penanya daripada banyak
berkata-kata
Kau
boleh saja menertawakanku
Tapi
ketahuilah, di setiap goresan tinta ini terselip luka
Duhai
engkau pangeran yang memiliki senyuman emas
Aku
tak menuntutmu memiliki rasa seperti apa yang ku rasa
Ini
salahku karena menginginkan hati yang telah termiliki
Namun
salahkah jika aku ingin belajar untuk jujur
Entahlah,
perasaan dan logikaku masih terlalu kecil untuk menafsirkan semuanya
Aku
hanya ingin berucap terimakasih atas kebahagiaan yang singkat ini
Maafkan
aku yang seakan tak punya harga diri
Aku
hanya mencoba berkata dengan bahasa hati
Ku
harap kau memahaminya dengan hati pula
Jika
tetap tidak faham
Maka
abaikanlah saja
~lilin
kecil~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar