Bayang-bayang Sendu
Tintir itu berliuk-liuk malu disentuh Sang Bayu. Malam telah larut, namun pena ini masih setia menemaniku. Kudengar suara langkah kaki mengiringi bayang-bayang hitam kian mendekat.
Ujung mataku memburu. Sedang
apa sosok itu? Dia duduk di kasurku. Dia belai lembut permukaan kasur tuaku. Dia
termenung.
“maafkan Bapak ya nak tidak bisa membelikanmu
kasur yang empuk. Semoga suatu saat kamu bisa membeli kasur yang lebih empuk.”
Aku terdiam, terpana
dengan apa yang ku lihat dan ku dengar. Mulutku terbekap, tak mampu berkata
apa-apa. Dalam hati aku bergumam.
Oh
Bapak,, bahkan engkau hanya tidur beralaskan tikar pandan yang telah koyak sana
sini ,tidur diantara tumpukan kardus yang pengap itu. Namun kenapa engkau malah
menangisi aku yang tidur di atas kasur yang lebih nyaman daripada tempat
tidurmu?
Terinspirasi lagunya Didi Kempot_Bapak #FiksiLaguku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar