Minggu, 29 Juni 2014

#NarasiSemesta


Menghangatkanmu

Sampai detik ini aku tak mengetahui alasan aku diciptakan. Untuk apa aku dimunculkan ke semesta ini?
Aku pernah mendengar makhluk bernama manusia berkata bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan. Dan di lain hari aku juga mendengar bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kata-kata itu selalu membingungkanku. Apakah aku juga harus beribadah kepada Tuhan, sedangkan aku sendiri pun tak mengetahui makhluk seperti apakah aku? Dan akankah aku bisa merasakan mati, sedangkan diriku sendiri juga tak pernah mengetahui, aku ini hidup atau mati.
***
Benda berbentuk lingkaran dengan dua tangan yang tidak sama panjang itu kini  telah tak bernyawa. Padahal kemarin aku masih melihat tangannya bergerak mengelilingi sebuah poros dan membelai lembut angka-angka yang mengelilinginnya. Aku sering melihat nenek tua yang tinggal bersamaku sering menatap benda itu. Seakan benda itu adalah benda ajaib yang mampu mengabulkan segala pintanya. Entahlah, yang jelas kini Nenek tak akan lagi menatap benda itu penuh harap karena benda itu kini telah sekarat.
Cahaya di tempat ini begitu temaram. Aku hanya mampu melihat sekelilingku samar-samar. Angin malam yang begitu menusuk iga telah menelusup melalui celah-celah di dinding bambu yang telah rapuh. Aku termangu sendiri. Kesepian dan rasa sedih kembali menyayat hati.
Cahaya semakin menghilang, suara panggilan untuk menghadap Tuhan-itu yang ku ketahui dari nenek-telah berdengung di berbagai penjuru semesta. Biasanya pada saat seperti ini Nenek akan membuka pintu di depanku itu.
“Ngeeeeeek!” suara pintu itu berdecit ketika seorang wanita tua muncul dari balik tubuhnya. Aku bersorak girang, walau mungkin tak ada satu pun yang mampu mendengarnya. Entahlah kenapa aku bisa begitu bahagia tatkala dia datang. Mungkin karena sekarang aku tak lagi kesepian. Andaikan bisa, aku ingin menyambut kedatangannya dengan senyuman dan pelukan terhangatku. Namun apa dayaku, bahkan untuk berpindah satu senti dari posisiku saat ini pun aku tak mampu.
Nenek itu berjalan terbungkuk mendekati sebuah botol kaca berisi minyak tanah. Dengan gemetar Nenek mengambil pemantik api yang ada di samping botol itu dan menyulutkan api ke sumbunya. Kembali aku tersenyum. Berkat botol berkepala api itu, kini tempat ini tak lagi gelap, udara pun tak lagi terlalu dingin.
Ahh, senangya ketika Nenek berjalan pelan ke arahku. Mengambilku dengan sentuhan lembut. Dia membiarkan ku untuk memeluknya. Sungguh ini yang aku harapkan setiap saat. Walaupun aku harus merasakan perih karena tertusuk peniti berkarat di beberapa bagian tubuhku. Dan meskipun aku harus menahan jijik karena mencium bau amis dan kecut yang berasal dari tubuh renta Nenek. Tapi inilah yang membuatku merasa hidup. Merengkuh tubuh tuannya, mendengar dengusan nafasnya yang putus-putus dari dekat.
Begitu lama Nenek berkomat-kamit mengucapkan mantra dan melakukan ritual yang aneh. Tapi biarlah. Semakin lama dia melakukan hal itu, semakin lama pula aku bisa merengkuhnya dalam hangatku.
Aku mencintaimu Nek, walau aku tak tahu arti dari kata mencintai. Aku hanya mengikuti kata-kata cucumu dulu, yang kini telah sangat lama tak pernah mengunjungimu.
***
Aku masih merengkuh Nenek seperti saat-saat sebelumnya. Hanya saja kini posisinya tengah berbaring di dipan kayu yang selalu berdecit itu. Tubuhnya panas, menggigil begitu hebat. Sekuat tenaga aku kerahkan seluruh dayaku untuk menghangatkannya, tapi kurasa itu tak berguna. Nenek tetap menggigil, tubuhnya bagian atas terasa begitu panas, namun kakinya sangat dingin. Aku mampu merasakannya karena tubuhku melingkupi seluruh tubuhnya. Bau badannya kini semakin tak enak, mungkin karena beberapa hari ini dia tak mandi.
Mak Ijem-tetangga sebelah rumah Nenek-kini tengah memijiti kaki Nenek yang gemetar. Dengan sabar dia terus melafalkan kata la illahailallah berulang kali. Entahlah apa artinya kata-kata itu tapi yang pasti bibir pucat Nenek dengan setia mengikutinya meski tertatih.
“minum!” kata Nenek tiba-tiba. Mak Ijem mengambilkan gelas kaca berisi air putih dan memasukkannya ke mulut Nenek.
“sudah?” tanya Mak Ijem ketika Nenek telah berhenti menelan air itu. Nenek pun mengangguk. Lagi, Mak Ijem memijiti kaki Nenek dan menyenandungkan kata-kata itu.
“assalamuallaikum!” terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
“tolong bukain pintu Jem! Aku mendengar ada yang mengucap salam.” kata Nenek terbata-bata. Mak Ijem tak langsung beranjak dari posisinya. Dia hanya terdiam sembari menatap Nenek bingung.
“aku tidak mendengar ada yang mengucap salam. Mungkin kau mengigau.” Wajah Mak Ijem masih terlihat bingung.
Tidak. Tidak. Nenek benar, karna aku juga mendengarnya. Ayolah Mak, lekas buka pintu itu.
“sudahlah kau buka saja pintu itu! aku yakin ada orang di luar sana.” kata Nenek dengan nafas tersengal-sengal.
Mak Ijem berjalan menuju pintu itu. Pintu dibuka dan benar, tak ada orang di luar. Mak Ijem melangkahkan kakinya ke luar rumah guna memastikan benar-benar tidak ada orang di sekeliling rumah.
Mak Ijem kembali masuk ke dalam rumah dan menggelengkan kepalanya. “tak ada orang sama sekali di luar.” Katanya.
“yasud....” kata-kata Nenek terhenti. Seluruh badannya kurasakan menegang. Peluhnya seketika bercucuran. Nafasnya tersengal-sengal.
“ASTAGFIRULLAH!! ISTIGFAR MBAH ISTIGFAR! UCAP LAILLAHAILALLAH!” seru Mak Ijem gelagapan.
Aku bingung apa yang sedang terjadi pada Nenek. Kurasakan dingin mulai menjalari tubuh Nenek. Perlahan tapi pasti, mulai dari kaki naik terus hingga pada akhirnya seluruh  tubunya dingin. Aku tak lagi mendengar irama nafas dan degup jantung Nenek. Aku tak tahu  apa yang kini terjadi padanya. Kenapa Nenek sekarang tak bergerak? Dan kenapa Mak Ijem menangis tersedu-sedu memanggil-manggil Nenek?
Yang aku tahu ketika Nenek mengucapkan kata la illahailallah yang terakhir kalinya, ada makhluk besar yang berdiri di samping tubuh nenek.
***
Aku berjanji untuk terus menghangatkan Nenek sampai kapanpun. Untuk itulah aku masih setia menemani Nenek yang terus saja diam membisu di dalam ruangan yang sangat gelap dan pengap ini. Aku benci tempat gelap, tapi mau bagaimana lagi, hanya dengan ini aku bisa memeluk Nenek.
Kami berdua meringkuk dalam diam. Aku mencoba mengajaknya bicara, namun percuma karna memang aku tak bisa bicara. Aku menyerah. Aku pandangi seluruh ruangan ini. aku tak bisa melihat apapun karena memang sangat gelap. Hingga tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara hentakan kaki yang sangat keras.
Nenek seketika terbangun karena hentakan itu. Matanya menyiratkan ketakutan. Aku terus memeluknya erat-erat.
man Rabbuka?” salah satu dari makhluk super besar di depanku ini bertanya pada Nenek. Kata-kata yang mampu membuatku bergetar hebat.
Allah Rabbuka!” jawab Nenek lantang. Sebersit senyuman kini merekah di bibirnya. Entahlah apa yang dia katakan, yang jelas aku kini terus memeluknya.







Diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi  #NarasiSemesta (sudut pandang benda mati).

Selasa, 24 Juni 2014

#cerpen

Waktu yang Salah

Seperti hari-hari sebelumnya, aku masih setia duduk di bangku panjang ini. Rutinitas yang mungkin  membuat banyak orang menganggap aku sudah gila. Tapi beginilah kenyataanya, setiap jam kosong atau jam istirahat tiba aku selalu duduk di atas bangku panjang di depan kelasku. Duduk sembari memandang lurus-lurus ke arah sebuah kelas yang berdiri angkuh di seberang lapangan basket itu. Tentu bukan untuk memandangi bangunannya, aku tidak  sebodoh itu menghabiskan waktu hanya untuk meratapi  sebuah bangunan kelas. Tidak, satu-satunya alasan kenapa aku kini bertingkah begitu absurd adalah penghuni kelas itu. Satu dari tiga puluh sembilan orang penghuni kelas yang telah begitu mempesonaku.
Aku benar-benar ingin menghampirinya, namun terasa begitu sungkan. Ahh, biarlah saja aku tunggu dia di sini hingga dia keluar. Menunggu lama pun tak apa, hanya memandang dari jauh pun juga tak apa.
Sejenak aku kedipkan mataku untuk me-refresh mata yang mulai kering. Mungkin  karena sedari tadi aku terus saja memandang lurus-lurus pada satu titik fokus tanpa jeda, tanpa kedip. Kualihkan pandanganku sekilas ke lapangan basket yang dijejali anak-anak kelas sebelah yang sedang bermain sepak bola. Namun baru saja pandanganku beralih dari pintu itu, ujung mataku telah menangkap  suatu pergerakan pada pintu itu. Kulempar pandanganku ke arah pintu kelas itu lagi. Benar saja, cewek bertubuh tinggi  dengan rambut sebahu itu tengah berada di luar kelas. Cewek berkaca mata dengan frame hitam merah itulah yang selama ini membuatku jadi gila. Kini dia tengah duduk di bangku luar kelas sembari  membaca sebuah buku yang kurasa itu adalah novel. Ahh memang itulah hobinya,  membaca novel di waktu luang seperti ini.
Aku terus saja memandanginya tanpa jeda. Sungguh demi apapun aku tak bisa menarik mataku sendiri untuk berpaling darinya. Hingga tak kusadari seseorang telah duduk di sampingku dengan pandangan takjub.
“HOYYY!!! Bengong aja kerjaannya. Ngeliatin apa sih kamu Han?” tanya temanku-Gilang-yang  berhasil membuyarkan konsentrasiku. Aku tatap dia sekilas dengan pandangan tidak suka. Lalu kualihkan pandanganku lagi pada gadis berkaca mata itu.
Gilang memandang kedua mataku lalu menarik garis lurus untuk mengikuti ke mana arah pandanganku. “Oh pantes! Ada dia toh. Dasar secred admirer, cuman berani mandang dari jauh doang, nggak berani nembak!” Kata-kata Gilang ini benar-benar menusukku.
“Aku belum siap aja. Aku takut dia  nggak suka sama aku. Aku takut dia nolak aku,” aku mendesah berat. Aku malu pada diriku sendiri yang tak pernah bisa jujur tentang perasaanku pada gadis itu.
“Kamu laki-laki apa bukan haa? Masak kamu takut ditolak cewek? Kalau kamu beneran gentle, harusnya kamu berani mengungkapkan perasaanmu pada cewek itu. Urusan kamu diterima atau ditolak itu urusan belakangan. Yang penting dia sudah tahu tentang perasaanmu, dan memang dia harus  tahu.” Gilang mencerocos panjang lebar, membuat kupingku terasa panas. Kata-kata Gilang begitu memojokkanku dan membuatku seolah seperti pesakitan. Namun, yang aku benci, semua kata yang dia ucapkan memang benar.
“Tapi, apasih yang kamu suka dari dia Han? Menurutku dia nggak cantik, dia juga bukan anak populer. Dia itu anak kutu buku, mana mungkin dia bisa pacaran?
Lagian jauh lebih cantik si Seila. Bahkan sampai sekarangpun dia masih mengharapkan kamu. Kenapa kamu nggak sama Seila saja Han?”  Gilang terus saja berarguentasi tanpa meberiku kesempatan untuk mengajukan pembelaan.
Bola matakku berputar tiga ratus enam puluh derajat. Aku hirup udara banya-banyak dan kuhembuskan kuat-kuat. Aku semakin tak suka dengan apa-apa yang dia katakan.
“Akankah cinta butuh alasan? Jika cinta beralasan, maka jika alasan itu hilang maka bukankah cinta itu juga akan ikut hilang?” aku bangkit dari bangku itu dan berjalan masuk ke dalam kelas meninggalkan Galang sendirian. Ketika kakiku telah menjejak di ambang pintu kelas, aku membalikkan badan menghadap ke arah Gilang yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
“Mungkin bagimu dia nggak istimewa, dia nggak sempurna. Tapi asal kamu tahu, aku suka sama dia bukan karna dia sempurna ataupun karna dia istimewa. Tapi karna aku mencintainya, dia jadi istimewa.” Pungkasku yang langsung masuk ke dalam kelas.

***

“Aku tahu pasti kamu akan mengatakan itu dek,” aku tatap wajahnya sekilas, dan aku paksakan mengukir senyuman di bibirku. Namun kurasa semua itu tak mampu menutupi gemuruh hatiku. Detik ini aku benar-benar merasa diriku begitu munafik. Aku paksakan diriku untuk terlihat tegar di depannya, namun sungguh saat ini hatiku benar-benar begitu rapuh. Rasanya aku ingin menangis, namun kehormatanku sebagai laki-laki mencegahku untuk melakukannya.
“Maafkan aku mas....” bibir tipisnya bergetar ketika mengatakan itu.
Ahh, itu bukan salahmu dek. Gumamku dalam hati.
“tak apa dek, aku paham.” Kataku kemudian.
Sepersekian puluh detik keheningan tercipta di antara kami berdua. Suara gemericik air dan gesekan dedaunan kian menambah syahdu suasana di tempat ini. Memang  taman belakang aula sengaja kupilih untuk mengungkapkan rasa ini pada Disya. Aku butuh suasana tenang agar rasa grogiku tidak semakin  menjadi-jadi. Lagi pula suasana di tempat ini begitu romantis. Aku tahu benar ini tempat favorit dia ketika ada di sekolah. Maka tak salah jika aku memillih tempat ini untuk menjadi saksi bisu peristiwa maha penting ini.
“Kenapa Mas?” ucapnya memecah keheningan di antara kami.
“Kenapa apanya?” tanyaku bingung.
“Kenapa kamu suka sama aku?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu.”  Aku mengedikkan bahu pertanda tak mengerti.
“Loh kok gitu mas?” tanyanya heran.
“Cinta itu tak beralasan dek. Cinta tidak bisa ditanyakan dengan kata mengapa. Jika cinta beralasan, maka jika alasan itu hilang, cintanya juga ikut hilang bersamanya.” aku ulus mengatakan itu.
  Disya diam terpaku meresapi kata-kataku. Sejenak hening kembali merasuk di antara kami. Lama kami saling diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing. Hingga kuberanikan diri menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di hati.
“Kamu suka sama orang lain ya? Apa sama sekali nggak ada harapan untuk aku?” tanyaku akhirnya.
“bukan, mas. Aku... aku cuman nggak mau pacaran dulu. Aku pengen sekolah dulu, nggak mau mikirin yang aneh-aneh. Aku pengen ngejar cita-citaku dulu.”
Aku menghela nafas panjang. Benar juga kata Gilang, Disya tipe cewek yang nggak bisa pacaran. Tapi ya sudahlah, aku lega karna telah mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku lega karena Disya telah mengetahui semuanya. Dan anehnya, rasa malu yang aku takutkan akan muncul tatkala  aku mengungkapkan semuanya, kini nyatanya tidak ada. Yang ada hanya rasa lega, dan puas. Walau tak dapat dipungkiri, sakit hati itu pasti ada.
“Ehmmm... baiklah, aku bakal nunggu kamu sampai kamu siap buat nerima aku. Sampai lulus SMA, atau bahkan sampai kamu lulus kuliah pun aku bakal tetep nunggu kamu dek.” Jawabku mantap sembari tersenyum dan membelai rambutnya lembut. “Tapi kamu janji, kalau cita-cita kamu udah kesampaian, kamu harus kembali ke aku. Janji?” kataku sembari mengangkat jari kelingkingku. Disya tak menjawab, dia terdiam beberapa saat.
“Janji!” jari kelingkingnya cepat menyambar jari kelingkingku. Ada seulas senyum yang kulihat di bibirnya. Seperti pelangi yang kini menggantung memayungi kami berdua.
***
Mataku nanar menatap kenyataan pahit yang terpampang jelas di depan mataku. Betapa tidak, di depan aula Disya kini tengah duduk bercanda dengan akrapnya bersama dua cowok yang sangat aku kenal. Bian dan Tama, dua anak kelas XI IPS 3 yang bisa dibilang anggota genkku.
Sedang apa mereka bersama Disya? Aku tahu benar Disya bukanlah tipe cewek yang mudah akrap dengan cowok, tapi ini dia begitu akrap dengan Bian dan Tama. Apa jangan-jangan twitt di twitternya kemarin itu memang untuk salah satu dari mereka berdua?
@dI_Sya17
Hanya ingin melihatmu dari dekat, mencecap manisnya senyumanmu, menyapu  indahnya parasmu dengan sepasang mataku. J BSP.
Apa mungkin Disya suka sama Bian? Bian Satya Pambudi?
***
Kudengar suara riuh rendah tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan ini. Dengan langkah gemetar aku mendekat ke depan,  ke arah kerumunan orang dan wartawan yang sibuk menyiramkan blitz kameranya ke arah seseorang di depan sana. Aku berhasil menembus barikade manusia itu. Kini aku berapa pada barisan paling depan, dengan sangat jelas aku dapat melihat seseorang yang tengah duduk di dipan sana.
Aku menelan ludah dengan sangat haus. Membuat jakunku bergerak naik turun. Dia, dia kini yang duduk di atas panggung itu, masih sama seperti dia yang kulihat lima tahun yang lalu. Hanya  mungkin bedanya kini dia telah mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya, membuatnya semakin terlihat anggun.
Dia sedang membawa sebuah buku dan mengoceh ngalor-ngidul yang mungkin aku tidak paham maksutnya. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu tinggi dalam bidang sastralah yang paham apa yang dia katakan. Mataku tak henti memperhatikan setiap lekuk siluet wajahnya. Aku benar-benar merindukannya. Dia yang telah membuatku gila. Pun demikian saat ini rasa itu juga masih ada.
Hatiku bergetar, inilah mimpinya yang dulu sempat ia ceritakan padaku. Mimpi yang akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Betapa dulu dia begitu menggebu-nggebu menceritakan semua tentang cita-citanya padaku. Aku masih ingat sorot matanya yang tajam dan begitu bersinar acapkali dia mengatakan “aku ingin jadi novelis terkenal mas”. Dan kini aku kembali mampu menatap mata itu, mata yang tajam dan bersinar. Sorot mata yang mengisyaratkan kebahagiaan luar biasa.
Nampaknya aku terlambat menghadiri acara ini. Memang di undangan seminar yang dia kirimkan ke rumahku tertera waktu pelaksaan dimulai pukul tujuh malam. Sebenarnya aku pun telah siap sedari sebelumnya, namun ada suatu hal yang membuatku terlambat menghadiri acara ini.
Aku melihat dia telah turun panggung, disambut riuh tepuk tangan hangat dari para hadirin yang datang. Aku membalikkan badan, berniat hendak ke luar dan bergegas untuk pulang.
“Mas Handi!” kudengar ada yang memanggilku. Aku membalikkan badan dan ahh....
“Hai Mas, apa kabar?” ucapnya sembari tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku lemah.
Aku hanya bisa tersenyum kikuk, tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Melihat senyumnya saja sudah mampu membuat mulutku terbungkam.
“Mas!” hentaknya menyentuh tangan kiriku, membuatku sedikit terlonjak kaget.
“Ohh, eh.. Disya, ehmm a..ku baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?” jawabku dengan sangat gugup. Canggung luar biasa tengah merambati seluruh tubuhku.
“Hahaha, aku baik Mas. Mas lihat ini,” ucapnya sembari mengulurkan sebuah novel sekuel dan selembar piagam Khatulistiwa Literary Award yang sudah terlaminating.
Aku mengambil novel-novel itu dari tangannya. Membolak-baliknya dan membaca blurbnya sekilas. “Ini keren dek. Salut deh sama kamu, akhirnya kamu dapat mewujutkan mimpi kamu ya.” Aku tersenyum sembari mengangkat satu jempolku untuknya.
“Itu buat mas Handi.” Katanya, ringan. Masih dengan senyum yang terus saja merekah. Aku tak menduga aku akan mendapatkan karya terbaiknya ini dengan cuma-cuma. Tak perlu harus mengantri di toko buku, ataupun harus berdesakan untuk sekedar meminta tanda tangan di cover depannya. Trilogi novel plus tanda tangan ini free untukku. Ya untukku.
“Serius dek ini buat aku?” tanyaku masih tak yakin. Dia tak menjawab, hanya anggukan kecil yang begitu meyakinkan.
“makasih ya Dek.” Hanya kata itu yang keluar. Aku mengutuki diriku sendiri yang terlihat begitu bodoh di depannya.
“Justru novel ini aku berikan sebagai ucapan terimakasih buat kamu Mas. Kamu sudah banyak memberikan dukungan untuk aku. Kamu yang selalu memberikan semangat untukku. Kamu sudah berkorban banyak kurasa, Mas.” Ucapnya tulus. Kurasa ada gurat penyesalan yang terpancar dari sorot matanya.
“tak masalah Dek. Sampai kapan pun aku akan tetap dukung kamu. Kamu jangan patah semangat ya, aku berdiri di belakangmu,”
“Ehmm, soal janjiku ke kamu waktu itu...”
“Janji apa dek?”
“janji waktu di taman belakang aula sekolah dulu,”
Aku berusaha mengingat ingat janji apa yang pernah dia ucapkan di taman sekolah lima tahun yang lalu. Hingga akhirnya aku kembali ingat...
“M as Handi! Kamu di sini juga? Eh ini novelnya Mbak Disya kok bisa kamu bawa? Kamu dikasih Mbak Disya ya Mas?” seorang wanita berkulit putih dan berambut panjang kini tengah merangkulkan tangannya ke pinggangku. Sebenarnya ini sudah biasa kuaalami di depan umum, namun kali ini aku merasa risih, mungkin karena aku tak enak pada Disya.
“Rere, kamu kenal mas Handi juga?” tanya Disya dengan polosnya, membuat diriku semakin bersalah saja.
“Ya kenal lah Mbak, diakan pacar saya. Iya kan Mas?” Rere mengeratkan rengkuhannya di di pinggangku, membuatku semakin tidak nyaman.
“Apa-apaan sih kamu ini,” kilahku. Aku yakin benar saat ini Disya tidak nyaman dengan pemandangan yang terhampar di depan matanya.
“Ya biarin to. Yaudah aku kenalin kalian aja. Mbak Disya, ini Mas Handi pacar saya, dan Mas Handi ini Mbak Disya senior aku di kampus.” Aku memalingkan muka, terlalu muak dengan penjelassan Rere.
“hahaha bahkan kami sudah saling kenal sebelum ini Rere.” Disya tertawa hambar, bukan tawa riang yang biasa aku dengar darinya.
“loh kalian sudah kenal? kok nggak bilang-bilang?” Rere melepaskan tangannya dari pinggangku dan menatap aku dan Disya bergantian.
“Bahkan lebih dari sekedar kenal. Dek aku pergi dulu ya,” ucapku pada Disya. Aku menggamit tangan Rere dan menariknya menuju keluar gedung ini tanpa menoleh lagi ke arah Disya.
***
Aku sungguh lupa jika Disya satu universitas dengan Rere. Dan aku tak menyangka ternyata Rere juga menghadiri acara itu. Sungguh, aku tak suka acara ‘reoni’ku dengan Disya harus diganggu dengan datangnya Rere. Aku masih ingin berlama-lama berbincang dengan Disya, namun sayang Rere menghancurkan semuanya.
Kini aku tengah berbaring di tempat tidurku sembari memandang lurus-lurus ke luar jendela yang terbuka. Ini bulan ke limabelas, bulan purnama. Lama aku memandangi rembulan itu hingga aku teringat pada paket novel yang diberikan Disya padaku tadi pagi.
Ahh ya itu dia, paperbag yang terbuat dari karton tebal ini di luarnya tertulis tulisan besar-besar, SANDILANA. Itu merupakan judul novel pertama dari trilogi novel yang dia tulis. Aku membuka paperbag itu dan mengeluarkan ketiga novel dari dalamnya. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang terjatuh dan menyentuh kakiku. Ternyata sebuah kertas berwarna coklat kemerahan dan telah terlipat rapi. Aku mengambilnya dari lantai dan membukanya.


Dulu aku bercerita kepadamu tentang fajar dan senja,
tentang bumi yang terus berputar
dan tentang aku yang ingin berlari mengejar matahari.
Akulah si gadis pengembara perengkuh mentari yang setia.
Kini aku sejenak pulang, tuk menepati sebuah janji yang dulu sempat kuucapkan.


Disya
089697575876
(Hubungi aku mas )


Tanganku bergetar, air mataku hampir-hampir mau menetes. Aku dekap kertas itu kuat-kuat. Ada nyeri di dadaku setelah membaca surat ini. Dengan gusar aku menyambar hanphone yang tergeletak di atas tempat tidurku. Aku menekan angka-angka yang tertera pada surat Disya. Lama kudengar RBT Disya mengalun menemani kegundahanku. aku mencintaimu Disya! Aku mencintaimu! Pekikku dalam hati.
Setelah aku mengulang menekan nomor itu beberapa kali, tiba-tiba ada suara lembut yang menyembul dari ujung telephone sana.
“Hallo!” katanya lembut, membuat jantungku serasa ingin mencelos keluar.
Hampir saja aku menjawab ‘hallo’, seketika aku teringat sesuatu. Aku langsung menutup telephone itu secara sepihak.
“Arrrrggg kenapa baru sekarang kamu kembali Disya? Andaikan kamu datang lebih awal sedikit saja, pasti kejadiaannya tak akan sepelik ini. Dan andai aku bisa bertahan menunggumu sedikit saja lebih lama.“
Aku angkat jemari tangan kiriku ke depan muka, dan menemukan cincin perak tersemat di jari manisku. Cincin pertunanganku dengan Rere minggu lalu.

END

Minggu, 22 Juni 2014

#FiksiBangunTidur


Bayonet

Antara sadar dan tidak, aku merasakan sakit di kepalaku, membuatku tak bisa membuka mata. Fikiranku kosong, otakku tak kuasa bekerja. Untuk beberapa saat aku tak tahu aku siapa.
Aku  merasakan ada cairan kental  yang menjalari seluruh tubuhku. Aku tidur terlentang, dan cairan itu kurasakan mengalir dari atas membasahi rambutku dan terus merembes mengenai baju hingga celanaku. Indra penciumanku yang berangsur-angsur berfungsi normal agaknya langsung dapat menangkap bau aneh yang menguasai udara di ruangan ini. Bau ini, bau anyir darah. Mataku langsung membelalak dan aku terlonjak.
Betapa terkejutnya aku ketika kudapati ujung bayonet yang berkilat-kilat diacungkan ke arahku. Sedikit saja aku tadi maju ke depan, maka kupastikan aku akan kehilangan mataku karena tertusuk bayonet itu.
“Sudah bangun Kau Supardi? Bagaimana tidurmu, enak?” aku yang masih sibuk menata jantungku yang naik turun, kembali dikejutkan oleh tawa renyah seseorang yang kurang fasih berbahasa Indonesia.
“Raymond Paul Pierre Westerling!” pekikku melihat siapa yang ada di hadapanku.
“Hahaha, tak usah menyebut nama panjangku, panggil saja aku Westerling.” Dia menyeringai. Tawanya renyah, seperti tawa kemenangan karena telah mampu membuatku menjadi pesakitan. Dia kini duduk di kursi kayu yang berada di pojok ruangan dekat pintu. Di hadapannya ada meja kayu dan dia meletakkan senapan LE (Lee Enfield) nya di sana.
Aku masih bingung dengan ini semua. Kenapa aku bisa berada di ruangan pengap bersama dengan iblis ini?  Yang kuingat kemarin malam aku bersama Letnan Kusuma mendapat tugas dari Letnan Sanjoto untuk menangkap Westerling.
Pukul 19.00 kami mengendarai jip Willys, mendatangi Westerling. Rencananya, kami  akan mengajak dia ngobrol sebentar, lalu aku menembak Westerling, dan Letnan Kusuma meledakkan granat.  Sebelum rencana terlaksana, Westerling  malah menghampiri kami, mengajak kami minum bir. Kami tak kuasa menolak, dan setelah itu aku tak ingat kejadiannya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kuangkat kedua tanganku. Aku ingat benar bahwa kemarin aku mengenakan baju lengan panjang berwarna putih, namun sekarang yang kulihat bajuku telah berubah warna menjadi merah darah. Aku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
“Kang Andi Tonran! Kang Anas! Letnan Kusuma!” pekikku menyebut nama masing-masing mayat yang bergeletak bersimbah darah di sekitarku. kerongkonganku tercekat, jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat. Mereka, orang-orang yang kurasa baru kemarin berjuang bersamaku kini telah terbujur kaku di bawah kaki Westerling.
“Hahaha panggil teman-temanmu sekeras mungkin Supardi! Panggil sampai mereka bangun! Panggil sampai kerongkonganmu putus dan kamu pun akan menyusul mereka.”  tawanya begitu licik, membuat amarahku benar-benar memuncak.
“Kenapa kau membunuh teman-temanku Bangsat? Apa yang kau inginkan dari kami? Kenapa kau tak membunuhku saja sekalian?” kalau saja antek-antek Westerling yang bertubuh tinggi tegap ini tidak mengacungkan bayonetnya tepat di depan wajahku, tentu aku sudah berlari mencekik Westerling hingga sekarat.
“Mauku? Aku hanya ingin menjaga stabilitas negara ini dari rongrongan teroris dan pemberontak seperti kalian.”
“Cuih! Itu cuman omong kosongmu yang kau katakan kepada setiap orang. Hah aku selalu heran, apakah orang biadap sepertimu yang telah membunuh empat puluh ribu orang di Sulawesi yang tak berdosa dan ratusan Divisi Siliwangi dengan cara tak manusiawi itu, masih bisa disebut sebagai manusia?
Hai binatang, apa kau tidak takut terhadap Tuhan haa? Apa kau tak memikirkan, orang tuamu akan sangat kecewa melihat anaknya telah menjadi jaggal yang biadap? Kau...”
“Aku tak percaya terhadap Tuhan.” Kata Westerling menyela kata-kataku. Tawanya kini lenyap digantikan dengan raut muka yang mengerikan.
“Hah kau memang pantas disebut binatang. Kau pun tak percaya dengan Tuhan.”
“Jika Tuhan memang ada, tentu Dia akan menolongku ketika orang tuaku meninggalkanku sendirian di Istambul tanpa seorang pun yang aku kenal. Oh ya, dan kurasa aku tak memiliki orang tua. Adakah orang tua yang tega meninggalkan anaknya yang masih berumur lima tahun sendirian, dan terpaksa harus tinggal di panti asuhan?
Aku tak butuh Tuhan, aku tak butuh orang tua! Aku hanya bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Tak ada seorang pun yang mampu menolongku kecuali diriku sendiri.” Kata Westerling panjang lebar. Mulutku seketika terbungkam mendengar kata-katanya. Ternyata masa lalunya yang kelamlah yang menyebabkan masa depannya kini juga menjadi kelam.
“Hai Supardi! Kenapa kau diam? Apa kau sedih mendengar cerita masa kecilku? Hah tak perlulah, aku bukan orang yang pantas untuk kau kasihani. Justru dirimu sendirilah yang seharusnya dikasihani. Lihatlah dirimu sekarang, begitu menyedihkan. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menatap getir  tanpa memiliki kekuatan untuk menyelamatkan teman-temanmu. Sungguh malangnya kau ini!” Westerling menyeringai, membuatku semakin geram dan segera ingin membunuhnya.
“Sebenarnya apa yang kau mau dariku?”
“Hem, mudah saja. Aku ingin membunuh  Sultan Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta. Kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu bunuh mereka dan aku akan membebaskanmu. Bagaimana?
Tapi tentunya kau memilih untuk membunuh dua orang tak penting itu kan, dari pada nyawamu harus melayang seperti teman-temanmu yang malang itu.” sontak ucapan Westerling membuatku terkejut. Ternyata dia memang terlahir menjadi jaggal sejati. Belum puas membunuh puluhan ribu warga tak berdosa, kini dia kembali berencana untuk membunuh Hamengkubuwono IX dan Moh. Hatta.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Tentu masih dengan sikap waspada karena bayonet itu masih saja bercokol di hadapanku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Mati tentu bukan pilihan yang bijak. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar tetap hidup untuk membela negara tanpa harus membunuh pemimpin yang aku cintai.
“Hai supardi! Apa yang kau renungkan? Cepat katakan ‘ya’ atau kepalamu akan aku lubangi dengan senapan ini.” katanya menggertak sembari mengambil senapannya dengan sigap.
“Baik! Aku akan turuti perintahmu,” kataku mantap. Kulihat sekilas seringainya yang licik. “tapi ada satu syarat. Aku akan membunuh mereka menggunakan caraku sendiri.”
“Baiklah, apa rencanamu?” Westerling meletakkan senjatanya. Aku memberikan isyarat untuk mendekat kepada Westerling. Dia menggerakkan tangannya sekilas sebagai pertanda antek-anteknya harus melepaskanku dari bayonetnya.
Dengan sedikit sempoyongan aku melangkah ke arah Westerling. Setelah sampai di depan mejanya, dengan sigap aku keluarkan pistol dari dalam saku celanaku dan mengacungkannya ke arah Westerling.
“DOR! DOR! DOR!” aku terjatuh. Tiga peluru panas menembus punggungku. aku merasakan ajal telah menjemputku. Namun sekilas aku dapat mendengar teriakan Westerling yang menyumpahiku karena telah berkhianat. Bodohnya aku yang lupa bahwa isi mortilku telah habis.
Aku tersenyum sekilas. Aku lebih suka tertidur panjang, dan tak akan terbangun lagi dari pada harus melihat wajah Westerling ketika aku membuka mata.