Waktu yang Salah
Seperti hari-hari
sebelumnya, aku masih setia duduk di bangku panjang ini. Rutinitas yang
mungkin membuat banyak orang menganggap aku
sudah gila. Tapi beginilah kenyataanya, setiap jam kosong atau jam istirahat
tiba aku selalu duduk di atas bangku panjang di depan kelasku. Duduk sembari
memandang lurus-lurus ke arah sebuah kelas yang berdiri angkuh di seberang
lapangan basket itu. Tentu bukan untuk memandangi bangunannya, aku tidak sebodoh itu menghabiskan waktu hanya untuk
meratapi sebuah bangunan kelas. Tidak,
satu-satunya alasan kenapa aku kini bertingkah begitu absurd adalah penghuni kelas itu. Satu dari tiga puluh sembilan
orang penghuni kelas yang telah begitu mempesonaku.
Aku benar-benar ingin
menghampirinya, namun terasa begitu sungkan. Ahh, biarlah saja aku tunggu dia
di sini hingga dia keluar. Menunggu lama pun tak apa, hanya memandang dari jauh
pun juga tak apa.
Sejenak aku kedipkan
mataku untuk me-refresh mata yang
mulai kering. Mungkin karena sedari tadi
aku terus saja memandang lurus-lurus pada satu titik fokus tanpa jeda, tanpa
kedip. Kualihkan pandanganku sekilas ke lapangan basket yang dijejali anak-anak
kelas sebelah yang sedang bermain sepak bola. Namun baru saja pandanganku
beralih dari pintu itu, ujung mataku telah menangkap suatu pergerakan pada pintu itu. Kulempar
pandanganku ke arah pintu kelas itu lagi. Benar saja, cewek bertubuh tinggi dengan rambut sebahu itu tengah berada di luar
kelas. Cewek berkaca mata dengan frame hitam
merah itulah yang selama ini membuatku jadi gila. Kini dia tengah duduk di bangku luar kelas sembari membaca sebuah buku yang kurasa itu adalah
novel. Ahh memang itulah hobinya,
membaca novel di waktu luang seperti ini.
Aku terus saja
memandanginya tanpa jeda. Sungguh demi apapun aku tak bisa menarik mataku
sendiri untuk berpaling darinya. Hingga tak kusadari seseorang telah duduk di
sampingku dengan pandangan takjub.
“HOYYY!!! Bengong aja
kerjaannya. Ngeliatin apa sih kamu Han?” tanya temanku-Gilang-yang berhasil membuyarkan konsentrasiku. Aku tatap
dia sekilas dengan pandangan tidak suka. Lalu kualihkan pandanganku lagi pada
gadis berkaca mata itu.
Gilang memandang kedua
mataku lalu menarik garis lurus untuk mengikuti ke mana arah pandanganku. “Oh
pantes! Ada dia toh. Dasar secred
admirer, cuman berani mandang dari jauh doang, nggak berani nembak!”
Kata-kata Gilang ini benar-benar menusukku.
“Aku belum siap aja. Aku
takut dia nggak suka sama aku. Aku takut
dia nolak aku,” aku mendesah berat. Aku malu pada diriku sendiri yang tak
pernah bisa jujur tentang perasaanku pada gadis itu.
“Kamu laki-laki apa
bukan haa? Masak kamu takut ditolak cewek? Kalau kamu beneran gentle, harusnya kamu berani
mengungkapkan perasaanmu pada cewek itu. Urusan kamu diterima atau ditolak itu
urusan belakangan. Yang penting dia sudah tahu tentang perasaanmu, dan memang
dia harus tahu.” Gilang mencerocos
panjang lebar, membuat kupingku terasa panas. Kata-kata Gilang begitu
memojokkanku dan membuatku seolah seperti pesakitan. Namun, yang aku benci,
semua kata yang dia ucapkan memang benar.
“Tapi, apasih yang kamu
suka dari dia Han? Menurutku dia nggak cantik, dia juga bukan anak populer. Dia
itu anak kutu buku, mana mungkin dia bisa pacaran?
Lagian jauh lebih
cantik si Seila. Bahkan sampai sekarangpun dia masih mengharapkan kamu. Kenapa
kamu nggak sama Seila saja Han?” Gilang
terus saja berarguentasi tanpa meberiku kesempatan untuk mengajukan pembelaan.
Bola matakku berputar
tiga ratus enam puluh derajat. Aku hirup udara banya-banyak dan kuhembuskan
kuat-kuat. Aku semakin tak suka dengan apa-apa yang dia katakan.
“Akankah cinta butuh
alasan? Jika cinta beralasan, maka jika alasan itu hilang maka bukankah cinta
itu juga akan ikut hilang?” aku bangkit dari bangku itu dan berjalan masuk ke
dalam kelas meninggalkan Galang sendirian. Ketika kakiku telah menjejak di ambang
pintu kelas, aku membalikkan badan menghadap ke arah Gilang yang masih belum
beranjak dari tempat duduknya.
“Mungkin bagimu dia nggak
istimewa, dia nggak sempurna. Tapi asal kamu tahu, aku suka sama dia bukan
karna dia sempurna ataupun karna dia istimewa. Tapi karna aku mencintainya, dia
jadi istimewa.” Pungkasku yang langsung masuk ke dalam kelas.
***
“Aku tahu pasti kamu akan
mengatakan itu dek,” aku tatap wajahnya sekilas, dan aku paksakan mengukir
senyuman di bibirku. Namun kurasa semua itu tak mampu menutupi gemuruh hatiku. Detik
ini aku benar-benar merasa diriku begitu munafik. Aku paksakan diriku untuk
terlihat tegar di depannya, namun sungguh saat ini hatiku benar-benar begitu
rapuh. Rasanya aku ingin menangis, namun kehormatanku sebagai laki-laki
mencegahku untuk melakukannya.
“Maafkan aku mas....”
bibir tipisnya bergetar ketika mengatakan itu.
Ahh,
itu bukan salahmu dek. Gumamku dalam hati.
“tak apa dek, aku
paham.” Kataku kemudian.
Sepersekian puluh detik
keheningan tercipta di antara kami berdua. Suara gemericik air dan gesekan
dedaunan kian menambah syahdu suasana di tempat ini. Memang taman belakang aula sengaja kupilih untuk
mengungkapkan rasa ini pada Disya. Aku butuh suasana tenang agar rasa grogiku
tidak semakin menjadi-jadi. Lagi pula
suasana di tempat ini begitu romantis. Aku tahu benar ini tempat favorit dia ketika
ada di sekolah. Maka tak salah jika aku memillih tempat ini untuk menjadi saksi
bisu peristiwa maha penting ini.
“Kenapa Mas?” ucapnya
memecah keheningan di antara kami.
“Kenapa apanya?”
tanyaku bingung.
“Kenapa kamu suka sama aku?”
“Entahlah, aku juga
tidak tahu.” Aku mengedikkan bahu
pertanda tak mengerti.
“Loh kok gitu mas?”
tanyanya heran.
“Cinta itu tak beralasan
dek. Cinta tidak bisa ditanyakan dengan kata mengapa. Jika cinta beralasan,
maka jika alasan itu hilang, cintanya juga ikut hilang bersamanya.” aku ulus
mengatakan itu.
Disya
diam terpaku meresapi kata-kataku. Sejenak hening kembali merasuk di antara
kami. Lama kami saling diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing. Hingga
kuberanikan diri menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganjal di hati.
“Kamu suka sama orang
lain ya? Apa sama sekali nggak ada harapan untuk aku?” tanyaku akhirnya.
“bukan, mas. Aku... aku
cuman nggak mau pacaran dulu. Aku pengen sekolah dulu, nggak mau mikirin yang
aneh-aneh. Aku pengen ngejar cita-citaku dulu.”
Aku menghela nafas
panjang. Benar juga kata Gilang, Disya tipe cewek yang nggak bisa pacaran. Tapi
ya sudahlah, aku lega karna telah mengungkapkan semua yang ada di hatiku. Aku
lega karena Disya telah mengetahui semuanya. Dan anehnya, rasa malu yang aku
takutkan akan muncul tatkala aku
mengungkapkan semuanya, kini nyatanya tidak ada. Yang ada hanya rasa lega, dan
puas. Walau tak dapat dipungkiri, sakit hati itu pasti ada.
“Ehmmm... baiklah, aku
bakal nunggu kamu sampai kamu siap buat nerima aku. Sampai lulus SMA, atau
bahkan sampai kamu lulus kuliah pun aku bakal tetep nunggu kamu dek.” Jawabku
mantap sembari tersenyum dan membelai rambutnya lembut. “Tapi kamu janji, kalau
cita-cita kamu udah kesampaian, kamu harus kembali ke aku. Janji?” kataku
sembari mengangkat jari kelingkingku. Disya tak menjawab, dia terdiam beberapa
saat.
“Janji!” jari
kelingkingnya cepat menyambar jari kelingkingku. Ada seulas senyum yang kulihat
di bibirnya. Seperti pelangi yang kini menggantung memayungi kami berdua.
***
Mataku nanar menatap
kenyataan pahit yang terpampang jelas di depan mataku. Betapa tidak, di depan
aula Disya kini tengah duduk bercanda dengan akrapnya bersama dua cowok yang
sangat aku kenal. Bian dan Tama, dua anak kelas XI IPS 3 yang bisa dibilang anggota
genkku.
Sedang apa mereka
bersama Disya? Aku tahu benar Disya bukanlah tipe cewek yang mudah akrap dengan
cowok, tapi ini dia begitu akrap dengan Bian dan Tama. Apa jangan-jangan twitt
di twitternya kemarin itu memang untuk salah satu dari mereka berdua?
@dI_Sya17
Hanya ingin melihatmu dari dekat, mencecap manisnya
senyumanmu, menyapu indahnya parasmu
dengan sepasang mataku. J BSP.
|
Apa mungkin Disya suka
sama Bian? Bian Satya Pambudi?
***
Kudengar suara riuh
rendah tepuk tangan yang memenuhi seantero ruangan ini. Dengan langkah gemetar
aku mendekat ke depan, ke arah kerumunan
orang dan wartawan yang sibuk menyiramkan blitz
kameranya ke arah seseorang di depan sana. Aku berhasil menembus barikade
manusia itu. Kini aku berapa pada barisan paling depan, dengan sangat jelas aku
dapat melihat seseorang yang tengah duduk di dipan sana.
Aku menelan ludah
dengan sangat haus. Membuat jakunku bergerak naik turun. Dia, dia kini yang
duduk di atas panggung itu, masih sama seperti dia yang kulihat lima tahun yang
lalu. Hanya mungkin bedanya kini dia
telah mengenakan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya, membuatnya semakin terlihat
anggun.
Dia sedang membawa
sebuah buku dan mengoceh ngalor-ngidul yang mungkin aku tidak paham maksutnya.
Hanya orang-orang yang memiliki ilmu tinggi dalam bidang sastralah yang paham
apa yang dia katakan. Mataku tak henti memperhatikan setiap lekuk siluet
wajahnya. Aku benar-benar merindukannya. Dia yang telah membuatku gila. Pun
demikian saat ini rasa itu juga masih ada.
Hatiku bergetar, inilah
mimpinya yang dulu sempat ia ceritakan padaku. Mimpi yang akhirnya menjadi
sebuah kenyataan. Betapa dulu dia begitu menggebu-nggebu menceritakan semua
tentang cita-citanya padaku. Aku masih ingat sorot matanya yang tajam dan
begitu bersinar acapkali dia mengatakan “aku
ingin jadi novelis terkenal mas”. Dan kini aku kembali mampu menatap mata
itu, mata yang tajam dan bersinar. Sorot mata yang mengisyaratkan kebahagiaan
luar biasa.
Nampaknya aku terlambat
menghadiri acara ini. Memang di undangan seminar yang dia kirimkan ke rumahku
tertera waktu pelaksaan dimulai pukul tujuh malam. Sebenarnya aku pun telah
siap sedari sebelumnya, namun ada suatu hal yang membuatku terlambat menghadiri
acara ini.
Aku melihat dia telah
turun panggung, disambut riuh tepuk tangan hangat dari para hadirin yang
datang. Aku membalikkan badan, berniat hendak ke luar dan bergegas untuk
pulang.
“Mas Handi!” kudengar
ada yang memanggilku. Aku membalikkan badan dan ahh....
“Hai Mas, apa kabar?”
ucapnya sembari tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku lemah.
Aku hanya bisa
tersenyum kikuk, tak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Melihat senyumnya
saja sudah mampu membuat mulutku terbungkam.
“Mas!” hentaknya
menyentuh tangan kiriku, membuatku sedikit terlonjak kaget.
“Ohh, eh.. Disya, ehmm
a..ku baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?” jawabku dengan sangat gugup.
Canggung luar biasa tengah merambati seluruh tubuhku.
“Hahaha, aku baik Mas.
Mas lihat ini,” ucapnya sembari mengulurkan sebuah novel sekuel dan selembar
piagam Khatulistiwa Literary Award
yang sudah terlaminating.
Aku mengambil
novel-novel itu dari tangannya. Membolak-baliknya dan membaca blurbnya sekilas. “Ini keren dek. Salut
deh sama kamu, akhirnya kamu dapat mewujutkan mimpi kamu ya.” Aku tersenyum
sembari mengangkat satu jempolku untuknya.
“Itu buat mas Handi.”
Katanya, ringan. Masih dengan senyum yang terus saja merekah. Aku tak menduga
aku akan mendapatkan karya terbaiknya ini dengan cuma-cuma. Tak perlu harus
mengantri di toko buku, ataupun harus berdesakan untuk sekedar meminta tanda
tangan di cover depannya. Trilogi novel plus tanda tangan ini free untukku. Ya
untukku.
“Serius dek ini buat
aku?” tanyaku masih tak yakin. Dia tak menjawab, hanya anggukan kecil yang
begitu meyakinkan.
“makasih ya Dek.” Hanya
kata itu yang keluar. Aku mengutuki diriku sendiri yang terlihat begitu bodoh
di depannya.
“Justru novel ini aku
berikan sebagai ucapan terimakasih buat kamu Mas. Kamu sudah banyak memberikan
dukungan untuk aku. Kamu yang selalu memberikan semangat untukku. Kamu sudah
berkorban banyak kurasa, Mas.” Ucapnya tulus. Kurasa ada gurat penyesalan yang
terpancar dari sorot matanya.
“tak masalah Dek.
Sampai kapan pun aku akan tetap dukung kamu. Kamu jangan patah semangat ya, aku
berdiri di belakangmu,”
“Ehmm, soal janjiku ke
kamu waktu itu...”
“Janji apa dek?”
“janji waktu di taman
belakang aula sekolah dulu,”
Aku berusaha mengingat
ingat janji apa yang pernah dia ucapkan di taman sekolah lima tahun yang lalu.
Hingga akhirnya aku kembali ingat...
“M as Handi! Kamu di
sini juga? Eh ini novelnya Mbak Disya kok bisa kamu bawa? Kamu dikasih Mbak Disya
ya Mas?” seorang wanita berkulit putih dan berambut panjang kini tengah
merangkulkan tangannya ke pinggangku. Sebenarnya ini sudah biasa kuaalami di
depan umum, namun kali ini aku merasa risih, mungkin karena aku tak enak pada
Disya.
“Rere, kamu kenal mas
Handi juga?” tanya Disya dengan polosnya, membuat diriku semakin bersalah saja.
“Ya kenal lah Mbak,
diakan pacar saya. Iya kan Mas?” Rere mengeratkan rengkuhannya di di pinggangku,
membuatku semakin tidak nyaman.
“Apa-apaan sih kamu
ini,” kilahku. Aku yakin benar saat ini Disya tidak nyaman dengan pemandangan
yang terhampar di depan matanya.
“Ya biarin to. Yaudah
aku kenalin kalian aja. Mbak Disya, ini Mas Handi pacar saya, dan Mas Handi ini
Mbak Disya senior aku di kampus.” Aku memalingkan muka, terlalu muak dengan
penjelassan Rere.
“hahaha bahkan kami
sudah saling kenal sebelum ini Rere.” Disya tertawa hambar, bukan tawa riang
yang biasa aku dengar darinya.
“loh kalian sudah
kenal? kok nggak bilang-bilang?” Rere melepaskan tangannya dari pinggangku dan
menatap aku dan Disya bergantian.
“Bahkan lebih dari
sekedar kenal. Dek aku pergi dulu ya,” ucapku pada Disya. Aku menggamit tangan
Rere dan menariknya menuju keluar gedung ini tanpa menoleh lagi ke arah Disya.
***
Aku sungguh lupa jika
Disya satu universitas dengan Rere. Dan aku tak menyangka ternyata Rere juga
menghadiri acara itu. Sungguh, aku tak suka acara ‘reoni’ku dengan Disya harus
diganggu dengan datangnya Rere. Aku masih ingin berlama-lama berbincang dengan
Disya, namun sayang Rere menghancurkan semuanya.
Kini aku tengah
berbaring di tempat tidurku sembari memandang lurus-lurus ke luar jendela yang
terbuka. Ini bulan ke limabelas, bulan purnama. Lama aku memandangi rembulan
itu hingga aku teringat pada paket novel yang diberikan Disya padaku tadi pagi.
Ahh ya itu dia, paperbag yang terbuat dari karton tebal
ini di luarnya tertulis tulisan besar-besar, SANDILANA. Itu merupakan judul
novel pertama dari trilogi novel yang dia tulis. Aku membuka paperbag itu dan mengeluarkan ketiga
novel dari dalamnya. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang terjatuh dan
menyentuh kakiku. Ternyata sebuah kertas berwarna coklat kemerahan dan telah
terlipat rapi. Aku mengambilnya dari lantai dan membukanya.
Dulu
aku bercerita kepadamu tentang fajar dan senja,
tentang
bumi yang terus berputar
dan
tentang aku yang ingin berlari mengejar matahari.
Akulah
si gadis pengembara perengkuh mentari yang setia.
Kini
aku sejenak pulang, tuk menepati sebuah janji yang dulu sempat kuucapkan.
Disya
089697575876
(Hubungi aku mas )
|
Tanganku bergetar, air
mataku hampir-hampir mau menetes. Aku dekap kertas itu kuat-kuat. Ada nyeri di
dadaku setelah membaca surat ini. Dengan gusar aku menyambar hanphone yang
tergeletak di atas tempat tidurku. Aku menekan angka-angka yang tertera pada
surat Disya. Lama kudengar RBT Disya mengalun menemani kegundahanku. aku mencintaimu Disya! Aku mencintaimu! Pekikku
dalam hati.
Setelah aku mengulang menekan
nomor itu beberapa kali, tiba-tiba ada suara lembut yang menyembul dari ujung
telephone sana.
“Hallo!” katanya
lembut, membuat jantungku serasa ingin mencelos keluar.
Hampir saja aku
menjawab ‘hallo’, seketika aku teringat sesuatu. Aku langsung menutup telephone
itu secara sepihak.
“Arrrrggg kenapa baru
sekarang kamu kembali Disya? Andaikan kamu datang lebih awal sedikit saja,
pasti kejadiaannya tak akan sepelik ini. Dan andai aku bisa bertahan menunggumu
sedikit saja lebih lama.“
Aku angkat jemari
tangan kiriku ke depan muka, dan menemukan cincin perak tersemat di jari
manisku. Cincin pertunanganku dengan Rere minggu lalu.
END