Sabtu, 01 Oktober 2016

MOCAS 1



EKONOMI KERAKYATAN, DAHULU DAN SEKARANG

BMT BRINGHARJO, Wujud Nyata Kekuatan Rakyat dalam Perekonomian di Masa Sekarang
Mursida Rambe, seorang wanita yang lahir di Pangkalan Brandan, empat puluh sembilan tahun yang lalu. Wanita berdarah Sumatra ini rela jauh-jauh berhijrah ke Jogja untuk menuntut ilmu. Ada yang menarik dari wanita yang satu ini. Dia memandang pedagang kecil di pasar tradisional dengan cara yang berbeda. Kepedulian dan keprihatinannya terhadap para pedagang mendorongnya untuk mencari cara agar bisa membantu para pedagang.
Begitu wisuda dari S1 nya, dia dan dua orang temannya mendirikan Baitul Mal wa’ Tammil (BMT), tepatnya pada tanggal 31 Desember 1994. Sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang sosial dan bisnis. Aktivitas mereka dilakukan di serambi Masjid Pasar Bring Harjo. Awal mula didirikannya BMT BRINGHARJO ini, mereka hanya memiliki modal satu juta. Modal tersebut dipecah menjadi dua, yaitu 50% untuk aktivitas cetak mencetak, dan yang 50% untuk dipinjamkan kepada para pedagang pasar Bringharjo. Segala peralatan mulai dari mesin ketik, alat tulis, kertas dan lain-lain sebagian didapat dari usaha meminjam teman, dan ada juga yang merupakan swadaya mereka sendiri. Mereka bergerak dengan bekal yang sangat minim. Hampir bisa dibilang mustahil apabila ingin mendirkan lembaga keuangan dengan modal hanya sebesar itu. Tapi keyakinan dan kesungguhan mereka kuat. Prinsip mereka adalah langsung dikerjakan bukan dipikir. Karena apabila mereka terlalu memikirkan segalanya maka mereka tidak akan pernah bergerak.
Semangat besar mereka bersumber dari keprihatinan mereka melihat kebiasaan para pedagang yang sebagian besar tidak jujur (mengurangi timbangan, mencampur barang yang baik dan buruk), para pedagang yang menderita terlilit rentenir, dan masyarakat—biasanya ibu-ibu—yang menderita menjadi TKI di luar negri. Itulah yang menjadi tujuan didirikannya BMT BRINGHARJO   dan menjadi fokus mereka yaitu mengedukasi masyarakat tentang ekonomi syariah, menekan rentenir, dan memberdayakan masyarakat.
  BMT BRINGHARJO   merupakan  wujud nyata ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang berpihak kepada rakyat dan berbasis pada networking. Ciri-ciri ekonomi kerakyatan antara lain:
·        Yang menguasai kebutuhan rakyat adalah negara. Sumber Daya Alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara.
·        Pemerintah dan swasta saling bersinergi untuk mewujudkan perekonomian yang mensejahterakan rakyat.
·        Masyarakat merupakan bagian paling penting dalam perekonomian.
·        Meningkatkan efisiensi ekonomi nasional
·        Untuk mendorong ekonomi yang berkesinambungan
·        Ekonomi didasarkan pada asas kekeluargaan
·        Pemerataan kesejahteraan rakyat
Pada masa sekarang ini telah terjadi kesenjangan ekonomi yang sangat besar di Indonesia. hal ini terjadi karena hampir sebagian besar masyarakat Indonesia adalah konsumen. Masyarakat harus berdaya dan berjaya di negri sendiri, dan itu bisa dicapai hanya apabila masyarakat mampu menjadi produsen. Hal ini lah yang kini diusahakan oleh BMT BRINGHARJO. BMT BRINGHARJO   membantu memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat yang memiliki usaha. Pinjaman ini tanpa bunga—karena bunga itu riba—namun dengan prinsip bagi hasil, sehingga para pemilik usaha tidak terbebani dan mampu memajukan usahanya.   BMT BRINGHARJO   juga mendidik masyarakat untuk mau menabung ke BMT BRINGHARJO  , karena menabung adalah fondasi paling dasar keungan masyarakat.
BMT yang tadinya hanya memiliki modal satu juta rupiah, kini total aset yang dimiliki adalah 119 milyar rupiah. Keberhasilan Bu Mursida Rambe beserta rekannya tak lepas dari semangat tulusnya untuk meningkatkan kualitas ekonomi rakyat khususnya di pasar Bringharjo. Dengan penuh kepercayaan bahwa perbuatan baik pasti akan mendapat pertolongan dan kemudahan dari Allah SWT, mereka terus berusaha mewujudkan tujuan mereka tanpa takut akan terjadinya ketidakberhasilan.
Pesan yang beliau sampaikan adalah, ketika menjadi mahasiswa jangan hanya menjadi mahasiswa sekedarnya yang hanya kuliah pulang kuliah pulang, tapi tingkatkan softskill dengan mengikuti berbagai kegiatan dan menjadi aktivis. Jadilah generasi pembangun ekonomi kerakyatan selanjudnya.

SAREKAT DAGANG ISLAM, Pelopor Ekonomi Kerakyatan Pada Zamannya
(oleh Roesnendya Yudha Wiguna. Alumni Fakultas Hukum UNS)
Semangat Sammanhudi, Semangat Kemandirian dan Kemerdekaan Negri. Kalimat tersebut sangat tepat karena SDI lah yang menjadi pelopor kemandirian perekonomian rakyat Indonesia tanpa campur tangan Belanda. SDI juga meupakan akar kemajuan politik modern dengan munculnya Sarekat Islam (SI) sebagai wujut transformasi Sarekat Dagang Islam. Sebenarnya SDI lebih pantas dijadikan patokan hari kebngkitan nasional daripada Budi Utomo. Mengapa demikian? Karena SDI lahir jauh sebelum Budi Utomo yaitu pada 16 Oktober 1905, lebih awal 23 tahun dibanding BU. Selain itu SDI memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia, sedangkan BU hanya ada di Jawa dan Madura. SDI merupakan organisasi pergerakan yang memiliki anggota terbesar di Indonesia. Pada kongres pertama SI yang diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913, masa yang hadir mencapai 10 ribu orang. Dan fakta yang paling mencengangkan adalah bahwa Budi Utomo merupakan organisasi bentukan Belanda.
Cita-cita luhur SDI adalah untuk memajukan semangat dagang bangsa Indonesia yang selama ini tenaga dan hasil jerihpayahnya diperas habis-habisan oleh penjajah. SDI mengharapkan kemandirian bisnis rakyat tanpa bisa lagi dimonopoli oleh Belanda. Kemandirian bisnis ini demi mewujutkan dominasi pribumi dalam perekonomian di negaranya sendiri. Misi terbesar lain dari SDI adalah mencerdaskan rakyat Indonesia, mendidik rakyat agar hidup menurut perintah agama, serta menghilangkan faham-faham keliru tentang agama Islam.
Pada kongres pertama Sarekat Islam, KH Tjokroaminoto berpidato mengenai tujuan SI, antara lain, “...membangun kebangsaaan, mencari hak-hak kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh Allah, menjunjung derajat yang masih rendah, memperbaiki nasib yang masih jelek dengan jalan mencari tambahan kekayaan ekonomi...”  Dari pidato KH Tjokroaminoto tersebut sudah jelas bahwa didirikannya SDI tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas perekonomian rakyat saja melainkan juga untuk mempelopori kebangkitan nasional dan berjuang menghilangkan penjajahan di Indonesia.
Sedangkan Program Kerja dari SDI antara lain,
1.      Menuntut didirikannya dewan daerah
2.      Menuntut penghapusan kerja rodi dan sistem ijin untuk berpergian
3.      Menuntut penghapusan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah.
4.      Menuntut dihapuskannya peraturan yang menghambat tersiarnya Agama Islam
5.      Menuntut pemisahan lembaga eksekutif dan yudikatif
6.      Menuntut perbaikan di bidang agraria dan penghapusan sistem kultur stelsel
7.      Menuntut sistem perpajakan yang berdasar pada proporsional
8.      Memerangi minuman keras, prostitusi, dan perjudian
9.      Melarang eksploitasi pada anak dan menuntut adanya peraturan perburuhan yang tidak merugikan rakyat.

Dari semua fakta dia atas telah jelas bahwa SDI merupakan organisasi pelopor pergerakan di Indonesia. Segala sejarah yang salah ini harus diluruskan agar bisa mendefinisikannya jelas. Karena apabila sesorang salah mendefinisikan sejarah maka ia akan tersesat dalam beradaban.
Namun yang terpenting adalah Indonesia kini sangat merindukan Samanhudi-samanhudi baru. Kita sebagai generasi muda harus bisa meneruskan perjuangan Samanhudi baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, agama, dan lain sebagainya. NGO Filantropi Dompet Duafa, Muhammadiyah, Nahdatu Ulama, Asosiasi Bisnis “Beli Indonesia” merupakan sebagian kecil contoh Samanhhudi baru yang ada pada masa saat ini. kita harus memperbanyak lagi Samanhudi Samanhudi baru di Indonesia agar tercipta kedikdayaan ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar