EKONOMI KERAKYATAN, DAHULU
DAN SEKARANG
BMT BRINGHARJO, Wujud
Nyata Kekuatan Rakyat dalam Perekonomian di Masa Sekarang
Mursida Rambe, seorang wanita
yang lahir di Pangkalan Brandan, empat puluh sembilan tahun yang lalu. Wanita
berdarah Sumatra ini rela jauh-jauh berhijrah ke Jogja untuk menuntut ilmu. Ada
yang menarik dari wanita yang satu ini. Dia memandang pedagang kecil di pasar
tradisional dengan cara yang berbeda. Kepedulian dan keprihatinannya terhadap
para pedagang mendorongnya untuk mencari cara agar bisa membantu para pedagang.
Begitu wisuda dari S1 nya, dia
dan dua orang temannya mendirikan Baitul Mal wa’ Tammil (BMT), tepatnya pada
tanggal 31 Desember 1994. Sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang
sosial dan bisnis. Aktivitas mereka dilakukan di serambi Masjid Pasar Bring
Harjo. Awal mula didirikannya BMT BRINGHARJO ini, mereka hanya memiliki modal
satu juta. Modal tersebut dipecah menjadi dua, yaitu 50% untuk aktivitas cetak
mencetak, dan yang 50% untuk dipinjamkan kepada para pedagang pasar Bringharjo.
Segala peralatan mulai dari mesin ketik, alat tulis, kertas dan lain-lain
sebagian didapat dari usaha meminjam teman, dan ada juga yang merupakan swadaya
mereka sendiri. Mereka bergerak dengan bekal yang sangat minim. Hampir bisa
dibilang mustahil apabila ingin mendirkan lembaga keuangan dengan modal hanya
sebesar itu. Tapi keyakinan dan kesungguhan mereka kuat. Prinsip mereka adalah
langsung dikerjakan bukan dipikir. Karena apabila mereka terlalu memikirkan
segalanya maka mereka tidak akan pernah bergerak.
Semangat besar mereka bersumber
dari keprihatinan mereka melihat kebiasaan para pedagang yang sebagian besar
tidak jujur (mengurangi timbangan, mencampur barang yang baik dan buruk), para
pedagang yang menderita terlilit rentenir, dan masyarakat—biasanya ibu-ibu—yang
menderita menjadi TKI di luar negri. Itulah yang menjadi tujuan didirikannya BMT
BRINGHARJO dan menjadi fokus mereka yaitu mengedukasi
masyarakat tentang ekonomi syariah, menekan rentenir, dan memberdayakan
masyarakat.
BMT BRINGHARJO merupakan
wujud nyata ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan adalah ekonomi yang
berpihak kepada rakyat dan berbasis pada networking.
Ciri-ciri ekonomi kerakyatan antara lain:
·
Yang menguasai kebutuhan rakyat adalah negara.
Sumber Daya Alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara.
·
Pemerintah dan swasta saling bersinergi untuk
mewujudkan perekonomian yang mensejahterakan rakyat.
·
Masyarakat merupakan bagian paling penting dalam
perekonomian.
·
Meningkatkan efisiensi ekonomi nasional
·
Untuk mendorong ekonomi yang berkesinambungan
·
Ekonomi didasarkan pada asas kekeluargaan
·
Pemerataan kesejahteraan rakyat
Pada masa sekarang ini telah
terjadi kesenjangan ekonomi yang sangat besar di Indonesia. hal ini terjadi
karena hampir sebagian besar masyarakat Indonesia adalah konsumen. Masyarakat
harus berdaya dan berjaya di negri sendiri, dan itu bisa dicapai hanya apabila
masyarakat mampu menjadi produsen. Hal ini lah yang kini diusahakan oleh BMT
BRINGHARJO. BMT BRINGHARJO membantu memberikan pinjaman lunak kepada masyarakat
yang memiliki usaha. Pinjaman ini tanpa bunga—karena bunga itu riba—namun
dengan prinsip bagi hasil, sehingga para pemilik usaha tidak terbebani dan
mampu memajukan usahanya. BMT
BRINGHARJO juga mendidik masyarakat untuk mau menabung ke
BMT BRINGHARJO , karena menabung adalah
fondasi paling dasar keungan masyarakat.
BMT yang tadinya hanya memiliki
modal satu juta rupiah, kini total aset yang dimiliki adalah 119 milyar rupiah.
Keberhasilan Bu Mursida Rambe beserta rekannya tak lepas dari semangat tulusnya
untuk meningkatkan kualitas ekonomi rakyat khususnya di pasar Bringharjo.
Dengan penuh kepercayaan bahwa perbuatan baik pasti akan mendapat pertolongan
dan kemudahan dari Allah SWT, mereka terus berusaha mewujudkan tujuan mereka
tanpa takut akan terjadinya ketidakberhasilan.
Pesan yang beliau sampaikan
adalah, ketika menjadi mahasiswa jangan hanya menjadi mahasiswa sekedarnya yang
hanya kuliah pulang kuliah pulang, tapi tingkatkan softskill dengan mengikuti
berbagai kegiatan dan menjadi aktivis. Jadilah generasi pembangun ekonomi
kerakyatan selanjudnya.
SAREKAT DAGANG ISLAM,
Pelopor Ekonomi Kerakyatan Pada Zamannya
(oleh Roesnendya Yudha Wiguna. Alumni Fakultas Hukum UNS)
Semangat Sammanhudi, Semangat Kemandirian dan Kemerdekaan Negri. Kalimat
tersebut sangat tepat karena SDI lah yang menjadi pelopor kemandirian
perekonomian rakyat Indonesia tanpa campur tangan Belanda. SDI juga meupakan
akar kemajuan politik modern dengan munculnya Sarekat Islam (SI) sebagai wujut
transformasi Sarekat Dagang Islam. Sebenarnya SDI lebih pantas dijadikan
patokan hari kebngkitan nasional daripada Budi Utomo. Mengapa demikian? Karena
SDI lahir jauh sebelum Budi Utomo yaitu pada 16 Oktober 1905, lebih awal 23
tahun dibanding BU. Selain itu SDI memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia,
sedangkan BU hanya ada di Jawa dan Madura. SDI merupakan organisasi pergerakan
yang memiliki anggota terbesar di Indonesia. Pada kongres pertama SI yang
diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913, masa yang hadir
mencapai 10 ribu orang. Dan fakta yang paling mencengangkan adalah bahwa Budi
Utomo merupakan organisasi bentukan Belanda.
Cita-cita luhur SDI adalah untuk
memajukan semangat dagang bangsa Indonesia yang selama ini tenaga dan hasil
jerihpayahnya diperas habis-habisan oleh penjajah. SDI mengharapkan kemandirian
bisnis rakyat tanpa bisa lagi dimonopoli oleh Belanda. Kemandirian bisnis ini
demi mewujutkan dominasi pribumi dalam perekonomian di negaranya sendiri. Misi
terbesar lain dari SDI adalah mencerdaskan rakyat Indonesia, mendidik rakyat
agar hidup menurut perintah agama, serta menghilangkan faham-faham keliru
tentang agama Islam.
Pada kongres pertama Sarekat
Islam, KH Tjokroaminoto berpidato mengenai tujuan SI, antara lain, “...membangun kebangsaaan, mencari hak-hak
kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh Allah, menjunjung derajat yang
masih rendah, memperbaiki nasib yang masih jelek dengan jalan mencari tambahan
kekayaan ekonomi...” Dari pidato KH
Tjokroaminoto tersebut sudah jelas bahwa didirikannya SDI tidak hanya bertujuan
meningkatkan kualitas perekonomian rakyat saja melainkan juga untuk mempelopori
kebangkitan nasional dan berjuang menghilangkan penjajahan di Indonesia.
Sedangkan Program Kerja dari SDI
antara lain,
1.
Menuntut didirikannya dewan daerah
2.
Menuntut penghapusan kerja rodi dan sistem ijin
untuk berpergian
3.
Menuntut penghapusan diskriminatif dalam
penerimaan murid di sekolah-sekolah.
4.
Menuntut dihapuskannya peraturan yang menghambat
tersiarnya Agama Islam
5.
Menuntut pemisahan lembaga eksekutif dan
yudikatif
6.
Menuntut perbaikan di bidang agraria dan
penghapusan sistem kultur stelsel
7.
Menuntut sistem perpajakan yang berdasar pada
proporsional
8.
Memerangi minuman keras, prostitusi, dan
perjudian
9.
Melarang eksploitasi pada anak dan menuntut
adanya peraturan perburuhan yang tidak merugikan rakyat.
Dari semua fakta dia atas telah jelas bahwa SDI merupakan
organisasi pelopor pergerakan di Indonesia. Segala sejarah yang salah ini harus
diluruskan agar bisa mendefinisikannya jelas. Karena apabila sesorang salah
mendefinisikan sejarah maka ia akan tersesat dalam beradaban.
Namun yang terpenting adalah Indonesia kini sangat merindukan
Samanhudi-samanhudi baru. Kita sebagai generasi muda harus bisa meneruskan
perjuangan Samanhudi baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, agama, dan
lain sebagainya. NGO Filantropi Dompet
Duafa, Muhammadiyah, Nahdatu Ulama, Asosiasi Bisnis “Beli Indonesia” merupakan
sebagian kecil contoh Samanhhudi baru yang ada pada masa saat ini. kita harus
memperbanyak lagi Samanhudi Samanhudi baru di Indonesia agar tercipta
kedikdayaan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar