Kamis, 27 Oktober 2016

MOCAS 4



MANAJEMEN AKSI
Oleh: Gilang Garendi (Menko Eksternal BEM UNS 2015)

Kapan awal mula aksi itu ada? Kenapa harus melakukan aksi? Sejatinya apa tugas mahasiswa? Apa hal yang paling mendasar ketika melakukan aksi? Pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan mungkin perlu diketahui para mahasiswa yang masih awam dengan aksi ini. Mahasiswa perlu mengetahui apa sebenarnya aksi itu agar tidak ada salah persepsi. Banyak yang menganggap bahwa aksi itu anarki, aksi itu menyusahkan para pengguna jalan, rusuh, meresahkan, aksi itu hanya menyuarakan kritik tanpa solusi. Mari kita simak beberapa uraian dibawah ini.
Aksi sudah ada sejak awal-awal Indonesia merdeka. Sedangkan apabila ditilik dari buku karangan Soe Hok Gie—Catatan Seorang Demonstran—aksi sudah ada sejak tahun 1930-an. Sebenarnya belum ada sumber yang menyatakan dengan pasti kapan awal mula aksi ini. Terlepas dari kapan awal mula adanya aksi, Mahasiswa Indonesia telah menorehkan catatan penting. Yaitu pada tahun 1966 pergerakan mahasiswa mampu menurunkan Ir. Soekarno dan Soeharto pada tahun 1998 dari singgasana presiden. Peristiwa tersebut menandakan bahwa pergerakan mahasiswa bukan hal yang main-main. Bila mahasiswa sudah bersatu dan menyatukan tujuan, maka pergerakan besar akan tercipta.
Tugas mahasiswa adalah sebagai Agent of Change, mahasiswa sebagai pengantar perubahan. Dikatakan pengantar—bukan pembuat—perubahan karena memang mahasiswa tidak memiliki wewenang untuk merubah undang-undang atau membuat kebijakan. Yang bisa melakukan semua itu adalah pemerintah, namun mahasiswa memiliki peranan penting yaitu mengantarkan perubahan dengan cara melakukan aksi. Misalnya, mahasiswa berkumpul untuk melakukan aksi penolakan penggusuran passar tradisional yang akan digantikan dengan mall, karena hal tersebut tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan terhadap masyarakat kecil yang juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. karena aksi mahasiswa tersebut pemerintah membatalkan pembangunan mall di atas tanah pasar tradisional. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa berperan penting dalam mengantarkan perubahan.
Mahasiswa juga berperan sebagai Iron Stock. Artinya suatu hari nanti mahasiswa akan menjadi pemangku kebijakan yang membuat perubahan di negri ini. Suatu hari nanti mahasiswa dituntut untuk menjadi pemangku kebijakan yang amanah dan berpihak kepada perubahan yang menuju kepada perbaikan.
Aksi jika diibaratkan dalam perhitungan fisika dapat ditarik sebuah analogi sebagai berikut:
V = X . t
Ket.   - X : (jarak) pergerakan posisi mahasiswa
          - t  : waktu
          - V : (kecepatan) kemampuan pergerakan mahasiswa untuk menuju posisi yang lebih                    baik terhadap waktu.
F = m . a
Ket.   - m : (massa) jumlah/ banyaknya masa yang dibawa
- a : (percepatan) dimana terjadinya sebuah integrasi yang besar
- F : gaya/ kemampuan yang ditimbulkan dari aksi yang dilakukan
Dari dua persamaan rumus fisika tersebut dapat disimpulkan bahwa kecepatan kemampuan pergerakan mahasiswa untuk menuju posisi yang lebih baik membutuhkan waktu dan jarak yang tidak dekat. Serta gaya atau kemampuan yang ditimbulkan dari aksi yang dilakukan mahasiswa bergantung pada jumlah mahasiswa dan percepatan pergerakannya. Yang pasti aksi merupakan sebuah proses menuju sesuatu yang lebih baik.
Lantas kenapa harus aksi? Sebenarnya tujuan aksi adalah untuk mewujudkan atau mencapai cita-cita. Misalnya cita-cita untuk mencapai kesejahteraan di bumi Indonesia. segala cita-cita yang baik dan sehati dengan rakyat. Kenapa masyarakat kecil percaya kepada para kaum mahasiswa sebagai perpanjangan mulut mereka untuk menyuarakan keadilan? Karena mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual. Mahasiswa juga dianggap memiliki independensi atau tidak bisa dipengaruhi oleh pihak manapun, seperti partai politik, pemerintah, atau kalangan elit. Masyarakat percaya bahwa mahasiswa berpihak kepada mereka.
Namun sayangnya aksi sekarang tidak memiliki jaket idiologi yang kuat. Sehingga pertempuran yang terjadi sekarang bukan pertempuran melawan musuh melainkan pertempuran dengan idiologi sendiri. Aksi harus didasari oleh idiologi yang kuat. Ketita aksi telah didasari idiologi yang kuat maka pergerakan yang dihasilkan akan berbeda dengan pergerakan yang lain. Pergerakan akan mencapai tujuan yang baik.
Lintasan pikiran dapat dibentuk apabila kita memiliki pengetahuan akan hal itu. Banyak-banyak latihan dan terjun langsung ke masyarakat untuk mengasah diri dan kepekaan terhadap permasalahan yang ada di dalamnya, sehingga akan terbentuk pemikiran yang bisa digunakan dalam berdiskusi.
Dan ingatlah, ketika sendiri kita membaca, berdua kita diskusi, bertiga kita aksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar