MANAJEMEN
AKSI
Oleh:
Gilang Garendi (Menko Eksternal BEM UNS 2015)
Kapan awal mula aksi
itu ada? Kenapa harus melakukan aksi? Sejatinya apa tugas mahasiswa? Apa hal
yang paling mendasar ketika melakukan aksi? Pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan mungkin perlu
diketahui para mahasiswa yang masih awam dengan aksi ini. Mahasiswa perlu
mengetahui apa sebenarnya aksi itu agar tidak ada salah persepsi. Banyak yang
menganggap bahwa aksi itu anarki, aksi itu menyusahkan para pengguna jalan,
rusuh, meresahkan, aksi itu hanya menyuarakan kritik tanpa solusi. Mari kita
simak beberapa uraian dibawah ini.
Aksi sudah ada sejak awal-awal Indonesia merdeka. Sedangkan
apabila ditilik dari buku karangan Soe Hok Gie—Catatan Seorang Demonstran—aksi sudah ada sejak tahun 1930-an. Sebenarnya
belum ada sumber yang menyatakan dengan pasti kapan awal mula aksi ini. Terlepas
dari kapan awal mula adanya aksi, Mahasiswa Indonesia telah menorehkan catatan
penting. Yaitu pada tahun 1966 pergerakan mahasiswa mampu menurunkan Ir. Soekarno
dan Soeharto pada tahun 1998 dari singgasana presiden. Peristiwa tersebut
menandakan bahwa pergerakan mahasiswa bukan hal yang main-main. Bila mahasiswa
sudah bersatu dan menyatukan tujuan, maka pergerakan besar akan tercipta.
Tugas mahasiswa adalah sebagai Agent of Change, mahasiswa sebagai pengantar perubahan. Dikatakan
pengantar—bukan pembuat—perubahan karena memang mahasiswa tidak memiliki
wewenang untuk merubah undang-undang atau membuat kebijakan. Yang bisa
melakukan semua itu adalah pemerintah, namun mahasiswa memiliki peranan penting
yaitu mengantarkan perubahan dengan cara melakukan aksi. Misalnya, mahasiswa
berkumpul untuk melakukan aksi penolakan penggusuran passar tradisional yang
akan digantikan dengan mall, karena hal tersebut tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan keadilan terhadap masyarakat kecil yang juga merupakan
bagian dari bangsa Indonesia. karena aksi mahasiswa tersebut pemerintah
membatalkan pembangunan mall di atas tanah pasar tradisional. Hal ini
membuktikan bahwa mahasiswa berperan penting dalam mengantarkan perubahan.
Mahasiswa juga berperan sebagai Iron Stock. Artinya suatu hari nanti mahasiswa akan menjadi
pemangku kebijakan yang membuat perubahan di negri ini. Suatu hari nanti
mahasiswa dituntut untuk menjadi pemangku kebijakan yang amanah dan berpihak
kepada perubahan yang menuju kepada perbaikan.
Aksi jika diibaratkan dalam perhitungan fisika dapat ditarik
sebuah analogi sebagai berikut:
V = X . t
Ket. - X : (jarak) pergerakan posisi mahasiswa
- t : waktu
- V : (kecepatan) kemampuan pergerakan
mahasiswa untuk menuju posisi yang lebih baik
terhadap waktu.
F = m . a
Ket. - m : (massa) jumlah/ banyaknya masa yang
dibawa
- a : (percepatan) dimana terjadinya sebuah integrasi yang besar
- F : gaya/ kemampuan yang ditimbulkan dari aksi yang dilakukan
Dari dua persamaan rumus fisika
tersebut dapat disimpulkan bahwa kecepatan kemampuan pergerakan mahasiswa untuk
menuju posisi yang lebih baik membutuhkan waktu dan jarak yang tidak dekat.
Serta gaya atau kemampuan yang ditimbulkan dari aksi yang dilakukan mahasiswa
bergantung pada jumlah mahasiswa dan percepatan pergerakannya. Yang pasti aksi
merupakan sebuah proses menuju sesuatu yang lebih baik.
Lantas kenapa harus aksi? Sebenarnya
tujuan aksi adalah untuk mewujudkan atau mencapai cita-cita. Misalnya cita-cita
untuk mencapai kesejahteraan di bumi Indonesia. segala cita-cita yang baik dan
sehati dengan rakyat. Kenapa masyarakat kecil percaya kepada para kaum
mahasiswa sebagai perpanjangan mulut mereka untuk menyuarakan keadilan? Karena
mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual. Mahasiswa juga dianggap memiliki independensi
atau tidak bisa dipengaruhi oleh pihak manapun, seperti partai politik,
pemerintah, atau kalangan elit. Masyarakat percaya bahwa mahasiswa berpihak kepada
mereka.
Namun sayangnya aksi sekarang tidak
memiliki jaket idiologi yang kuat. Sehingga pertempuran yang terjadi sekarang
bukan pertempuran melawan musuh melainkan pertempuran dengan idiologi sendiri.
Aksi harus didasari oleh idiologi yang kuat. Ketita aksi telah didasari
idiologi yang kuat maka pergerakan yang dihasilkan akan berbeda dengan
pergerakan yang lain. Pergerakan akan mencapai tujuan yang baik.
Lintasan pikiran dapat dibentuk
apabila kita memiliki pengetahuan akan hal itu. Banyak-banyak latihan dan terjun
langsung ke masyarakat untuk mengasah diri dan kepekaan terhadap permasalahan
yang ada di dalamnya, sehingga akan terbentuk pemikiran yang bisa digunakan
dalam berdiskusi.
Dan ingatlah, ketika sendiri kita membaca, berdua kita diskusi, bertiga kita aksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar