Senin, 19 Mei 2014

Secarik Kertas Untuk Pangeran


Kini ku berjalan menjauh
Meninggalkan sebersit kenangan indah yang baru saja kulalaui
Aku merutuki kebodohanku sendiri
Yang bisa dengan mudahnya terjatuh dalam waktu sesingkat ini
Kau yang ku lihat dengan mataku hanyalah kau
Salahku adalah mengizinkan mata hati ku melihat terlalu dalam ke hatimu
Hati yang sederhana, berwibawa , ceria dan apa adanya
Wahai engkau yang selalu bisa membuat hati ini bergetar
Apakah kau mendengar suara gemertak pilu kaca yang retak itu
Ketahuilah, kaca yang selalu tampak jumawa dan berkilau di hadapanmu itu
Sebenarnya dia rapuh dan mudah patah
Apakah kau mendengar tangisan bunga layu yang terhujam bulir-bulir tajam air hujan
Ketahuilah, bunga-bunga yang selalu nampak indah dan ceria di hadapanmu itu
Sebenarnya layu dan merana
Dan apakah kau mendengar suara rintihan malam yang kesepian ditinggal sang bintang
Ketahuilah malam yang selalu terlihat perkasa dan tegar di hadapanmu
Sebenarnya dia kesepian dipeluk awan hitam yang angkuh

Aku hanya bisa terdiam, namun hatiku terus saja berbisik
Sanggupkah kau menjawab semua itu
Atau harus kah aku berteriak memecah lautan agar kau sadar
Bahwa kaca yang retak, bunga yang layu, dan malam yang merintih itu aku
Tahukah engkau mengapa aku selalu memalingkan diri dari tatapanmu
Tahukah engkau mengapa aku selalu terdiam tatkala ada di dekatmu
Dan Tahukah engkau mengapa aku selalu menunduk ketika kau tersenyum kepada ku
Ketahuilah, dan bahkan semut-semut hitam itu menjadi saksi
Betapa tatapanmu itu mampu menegangkan nadi dan menggetarkan hatiku
Betapa berada di dekatmu itu telah mampu membuat lidahku kelu
Betapa senyumanmu mampu menggoyahkan akal sehatku

Wahai engkau pangeran bermata layaknya purnama
Maafkan aku yang telah terlalu lancang berkata-kata
Aku si anak ingusan tak selayaknya berkata tentang rasa
Tapi bukankah ada pujangga berkata demikian:
“jangan simpan kata-kata cinta untuk orang tersayang hingga ia meninggal dunia dan kamu terpaksa harus mencatatkan kata-kata cinta itu di atas pusaranya. Ucapkan kata-kata cinta itu sekrang, selagi masih ada hayat.”
Untuk itulah ku beranikan diri menuliskan segala isi hati dengan penaku
Mungkin ini terlihat konyol
Tapi inilah aku yang kau kenal
Gadis pendiam yang lebih senang menari dengan kertas dan penanya daripada banyak berkata-kata
Kau boleh saja menertawakanku
Tapi ketahuilah, di setiap goresan tinta ini terselip luka

Duhai engkau pangeran yang memiliki senyuman emas
Aku tak menuntutmu memiliki rasa seperti apa yang ku rasa
Ini salahku karena menginginkan hati yang telah termiliki
Namun salahkah jika aku ingin belajar untuk jujur
Entahlah, perasaan dan logikaku masih terlalu kecil untuk menafsirkan semuanya
Aku hanya ingin berucap terimakasih atas kebahagiaan yang singkat ini
Maafkan aku yang seakan tak punya harga diri
Aku hanya mencoba berkata dengan bahasa hati
Ku harap kau memahaminya dengan hati pula
Jika tetap tidak faham
Maka abaikanlah saja




                                                      ~lilin kecil~

Minggu, 04 Mei 2014

#Maliobaru


                                                 Temaram di Malioboro

Mati!!! Baru sepersekian detik aku mengalihkan pandanganku pada sebaris pernak-pernik yang tertata rapi di atas meja berukuran satu kali satu setengah meter di emperan toko itu, aku sudah kehilangan jejak teman-temanku. Aku mulai panik. Walaupun ini bukan kali pertamaku menjejaki tanah para pelajar ini tapi aku tetap saja tak tahu arah jalan. Segera saja aku ambil hp dari saku jinsku, berusaha mencari nomer telefon teman-temanku. Aku tekan tombol call  berkali-kali pada beberapa nomer, namun tetap saja nihil. Aku berusaha berjalan pelan sembari melihat ke kanan dan ke kiri secara awas. Aku raba wajah orang-orang yang ada di sini dengan sorot mata menelisik.
Suasana sore di Malioboro memang menjadi candu bagi para wisatawan. Tak heran jika saat ini begitu banyak manusia berjejal menyesaki tempat ini,  membuatku sulit mencari wajah-wajah yang aku kenal. Aku telusuri sepanjang jalan Malioboro ini. Di sepanjang jalan, terus saja kudengar banyak Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang menjajakan dagangannya padaku, seakan tak peduli  kepanikanku saat ini.
Jean.. Fanny.. Doni.. kalian di mana? Bisikku dalam hati. Aku hampir frustasi. Berkali-kali aku telfon mereka, namun tetap saja misscalled. Aku berhenti termangu di depan sebuah toko  batik. Di teras toko itu banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya secara lesehan. Aku hirup nafas dalam-dalam, mencoba menghilangkan rasa panikku. Namun bukannya ketenangan yang aku dapatkan, malahan paru-paruku sesak karena kemasukan asap rokok yang dihembuskan seorang sopir dokar yang mangkal di tak jauh dariku.
Aku hembuskan nafas berat. Aku berusaha menenangkan fikiranku untuk mencari jalan keluar. Ahhh!! Kenapa aku nggak ke pos polisi saja?  Pekikku dalam hati. Aku hendak membalikkan badan dan menuju ke arah selatan menuju pos polisi yang ada di perempatan jalan. Namun tiba-tiba aku merasakan pundakku disentuh sebuah tangan kekar. Seketika bulu romaku meremang. Aku langsung membalikkan badan.
“DONIIII???” pekikku seketika tatkala  melihat siapa yang tadi menyentuhku. Laki-laki itu tersenyum kepadaku. Tapi... hey sebentar, ku rasa tadi ketika terakhir kali aku melihat Doni, dia memakai sweter belang abu biru tua, tapi kenapa dia sekarang memakai kaos kuning yang dibalut jaket jins kumal? Apa dia benar Doni? Tapi wajahnya benar-benar mirip. Untuk beberapa detik mataku lurus mengamati seluruh tubuh laki-laki yang ada di hadapanku ini. belum sempat aku menemukan jawaban, laki-laki itu telah angkat bicara.
“kamu pasti Rena kan? Pacarnya Doni?” kata laki-laki itu sembari tersenyum. Aku mengerutkan kening semakin tak faham.
“hahaha. Jangan bingung gitu dong. Kenalkan aku Alifan, sepupunya Doni. Kamu pasti bingung karna aku mirip banget sama Doni.” Kata laki-laki itu lagi masih dengan senyuman  yang aku tak faham maksudnya.  Aku mengangguk. Aku benar-benar tak tahu Doni punya saudara sepupu yang semirip ini.
“hmmm kayaknya aku harus cerita banyak hal ke kamu tentang Doni, aku, keluarga kita, dan masa lalu...” dia menekankan pada kata ‘masa lalu’. “ayo kita singgah ke rumahkku!” ajak Alifan sembari menarik tanganku begitu saja tanpa merasa perkewuh.
“ta..tapi..” aku tak yakin apakah aku harus mengikuti laki-laki yang baru saja kukenal ini.
“jangan takut. Kamu pasti tersesat kan? Dan Kamu kebingungan nyari Doni?” kata Alifan  yang seperti mampu membaca fikiranku. “tenang. Doni dan teman-temannya udah sampai duluan di rumahku. Kata dia, kamu hilang. Dia sekarang lagi nyariin kamu, dan dia juga minta aku buat bantu nyari  kamu.” Kata Alifan lembut. Aku bingung. Dengan segala tanda tanya yang masih menyumpal di kepala, aku ikuti saja apa mau Alifan.
Kami berdua menyusuri jalanan Malioboro ini dengan diam. Aku sedikit terseok mengikuti langkah kakinya yang panjang dan juga cepat. Baru beberapa menit kami berjalan, tiba-tiba dia berhenti mendadak.  Membuat aku menabrak punggungnya yang lebar dan berotot. Tanpa basa-basi dia menggamit lenganku untuk menyeberangi jalan Malioboro ini.
“kita mau ke mana?” tanyaku yang sudah tak kuat lagi menahan rasa penasaran. Alifan menatapku dan tersenyum sekilas kepadaku. Telunjuknya dengan cekatan menunjukkan arah yang akan kita tuju. Aku tarik garis lurus dari telunjuk itu ke sebuah bangunan yang berjarak tidak jauh dari tempat kami sekarang berdiri.
“kita mau ke musium?” tanyaku tatkala aku telah melihat bangunan apa yang ditunjuk Alifan.
“hahaha.” Dia tertawa sekilas, menunjukkan barisan gigi-gigi putihnya yang tersusun rapi. “bukan! Kita akan pulang ke rumahku.” lanjutnya dengan muka serius yang mengerikan.
“hah rumah? Kok aneh gitu bentuknya?” komentarku apa adanya.
“nanti aku jelaskan!” serunya ketus sembari menarik tanganku dan berjalan cepat ke arah bangunan tua itu.
Setelah aku berdiri tepat di depan gedung itu, ada sensasi aneh yang menggelayutiku. Gedung itu merupakan sebuah rumah berbentuk Joglo . bangunan ini berdiri tepat di depan Malioboro. Halamannya bersentuhan langsunng dengan jalan Raya Malioboro. Aku pandangi bangunan ini seinci demi seinci. Bangunan ini lebih tinggi dari jalan raya. Ada kisaran sepuluhan anak tangga yang tersusun untuk mencapai pintu masuk rumah ini.
“ayo masuk.” Kata Alifan yang berjalan menaiki anak tangga di depanku. Aku menelan ludah, sedikit tidak yakin untuk memasuki bangunan tua ini. Namun apa boleh buat, sudah kepalang tanggung aku ikuti saja Alifan.
Satu demi satu aku menaiki anak tangga yang terbuat dari batu marmer berwarna gading ini. “KREKKKKK!!” terdengar suara pagar kayu yang berderit. Di tangga paling atas terdapat pagar kayu berukuran setengah badan orang dewasa yang mengelilingi teras rumah. Aku melihat Alifan berjalan dengan santainya membelah ruang teras ini. Aku perhatikan ruang ini. Di sudut kanan ruangan ini terdapat seperangkat meja kursi berukiran dari kayu jati, dan di atasnya ada sebuah lampu petromaks yang sudah sangat usang. Sedangkan atap teras ini sendiri ditopang empat pilar kayu ukuran sedang yang di cat dengan warna hijau tua. Sisi-sisinya penuh dengan ukir-ukiran bercat emas.
Di ujung sana Alifan tengah sibuk mencari sesuatu, kurasa dia sedang mencari kunci. Benar saja, setelah dia menemukan kuncinya dia langsung membuka pintu dan memberikan sebuah kode dengan kepalanya, menyuruhku untuk masuk. Aku berjalan dengan waspada, takut akan terjadi sesuatu.
“duduklah di sini dulu! Aku akan ambilkan minuman. Kamu mau minum apa?” tanya Alifan sembari menyalakan lampu bolam 10 watt yang tergantung di tengah ruangan.
“apa aja deh.” Kataku sembari memaksakan sebuah senyuman untuknya.
“oke! Tunggu ya!” katanya kemudian, sembari berlalu pergi.
Aku ambil hpku yang sedari tadi hanya aku taruh di dalam tas. Aku buka kuncinya dan kudapati di pojok kiri atas layar hp itu tak ada satupun garis yang muncul. Itu artinya di sini tidak ada sinyal. Aku letakkan kembali hpku pada posisinya semula. Untuk mengusir rasa jenuh, aku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan yang temaram ini. Ruang tamu ini tak seluas ruang teras yang ada di depan. Hanya ada satu seat meja kursi tamu berukuran kecil, sebuah dipan kecil di bawah jendela, dan dua buah lukisan berfigura yang lumayan besar. Perhatianku terpusat pada dua lukisan itu. Aku berdiri dan berjalan ke arah salah satu lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan seorang kakek yang duduk di kursi goyang sembari  memegang sebuah tongkat. Aku bisa melihat dari sorot matanya yang tajam dan terkesan angkuh, kakek ini  pasti memiliki sifat yang jumawa.  Perhatianku beralih pada sebuah lukisan yang satunya. Lukisan dua pasang suami istri yang berdiri berjajar. Sedangkan di depannya ada dua bocah laki-laki yang berdiri saling berangkulan. Dahiku berkerut melihat dua bocah laki-laki itu.
“astaga! Doni, Alifan!” pekikku tiba-tiba saat mengetahui bahwa dua bocah di lukisan itu adalah Doni dan Alifan.
“iya, memanng itu aku dan sepupuku Doni.” Alifan tiba-tiba menyahut, dia letakkan dua cangkir teh yang dia bawa di atas meja. Dia lalu mendekat ke arahku dan menghadap lukisan  itu juga.
“ini ketika kami masih berumur tiga tahun. Yang di sebelah kanan itu Ibu dan Ayah Doni, mereka Budhe dan Pakdheku. Nah, yang di sebilah kiri itu Ibu dan Ayahku.” Kata Alifan sembari menunjuk masing-masing orang di foto itu.
“kalo itu siapa?” tanyaku sembari menunjuk dengan daguku lukisan kakek tua itu.
Alifan tertawa kecil lalu melanjutkan tuturannya. “dia kakekku. Aku sayang banget sama dia. “ raut muka Alifan berubah menjadi mendung.
“maaf. Kakekmu masih hidup atau...?” aku tak berani melanjutkan pertanyaanku, takut menyinggung perasaanya.
Dia menatapku lekat-lekat, membuatku harus mengalihkan pandanngan darinya. “bahkan aku belum pernah sama sekali bertemu kakekku. Dia meninggal sebelum aku lahir.” Perlahan air mata Alifan jatuh di kedua pipinya. Aku merasa bersalah telah menanyakan sesuatu yang membuatnya bersedih.
Aku belai lembut bahu Alifan. “aku juga sayang banget sama kakekku. Aku juga baru saja kehilangan beliau. Beberapa minggu lalu kakekku meninggal. Jadi kamu nggak sendiri Alifan.” Aku beranikan diri mengucap seperti itu kepada Alifan.
Alifan menghentikan tangisannya. Seketika dia memandangku lekat-lekat. “kakekmu seorang TNI?” tanyanya kemudian yang sedikit membuatku terheran. Aku lantas mengangguk.
Dia mengibaskan tanganku yang masih merangkul bahunya. Dengan tiba-tiba dia memegang kedua pundakku dan melemparkanku ke kursi ruang  tamu. Dia mendekat dengan tatapan mata yang mencekam. Dia berlari ke arahku seperti orang yang kesetanan.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!! KAU MAU APA ALIFAN? APA YANG KAU LAK....” suaraku tercekat karena tangan Alifan mencekik leherku sekuat tenaga. Aku berontak, namun tetap saja tenaganya jauh lebih kuat dari tenagaku. Aku terus saja berontak sekuat tenaga. Aku tendang perut Alifan dan dia terdorong ke belakang, sekonyong-konyong aku bangkit dan berlari menuju pintu. Namun sial, pintunya terkunci.
“TOLOOOOOOOOOOOOOONG!!!” aku berteriak sekeras mungkin. Aku yakin pasti ada orang yang mendengarku karna di depan adalah Malioboro yang sangat ramai. Namun berkali-kali aku berteriak, tetap saja tak ada satu orangpun yang mendekat. Ada apa dengan ini sebenarnya?
Aku masih menggedor-gedor pintu sembari berteriak tatkala Alifan telah bangkit dan tersenyum licik kepadaku. Tangannya dengan sigap membuka laci meja di sampingnya. Dia mengambil sebuah pisau tajam . Mataku terbelalak, jantungku berdegup beribu kali lebih cepat.
“kau harus mati  Rena!!” teriak Alifan.
“ke..kenapa? bahkan ak..aku baru saja mengenalmu.” Aku rasakan sekujur badanku bergetar hebat.
“hah!! Ini semua untuk membayar dendam kakekku yang mati di tangan kakekmu!”
“maksudmu?” aku benar-benar tidak paham dengan apa yang dibicarakan Alifan. Rasa takut benar-benar membuntu otakku untuk berfikir.
“kakekmu adalah tentara yang telah membunuh puluhan PKI, dan salah satunya adalah Kakekku!” jeritnya disela isak tangisnya. Aku hanya bisa termangu mendengar semua penjelasan Alifan.
“ta..tapi. ke.na.pa Doni tidak pernah cerita semua ini? dan kenapa dia justru memacariku?”
“hahaha. Itu dia lakukan demi membalaskan dendam kami semua kepada kakekmu. Namun sayang Doni begitu lamban. Mungkin memang harus aku yang turun tangan membunuhmu Rena!” tanpa banyak bicara lagi, Alifan berlari ke arahku dan bersiap menghujamkan pisaunya ke arahku.
“AAAAAAAAAAAAAA!!!!” seketika aku terjatuh dan semuanya menjadi gelap.
***
“Ren! Rena! Bangun ren!” sayup-sayup kudengar sebuah suara. Samar-samar aku melihat bayangan beberapa orang yang mengerubungiku. Aku kerjap-kerjapkan mataku untuk memulihkan segenap kesadaranku.
“Rena kamu nggakpapa kan?” kudengar suara seorang laki-laki yang sepertinya sudah familiar di telingaku.
“Doni!!!” aku memeluk laki-laki yang ada di  depanku ini. Aku lihat sekelilingku. Banyak orang-orang yang mengerubungiku. Aku bingung sebenarnya ada apa ini?
“ada apa ini Don?” tanyaku setelah kesadaranku benar-benar pulih.
“kamu tadi hilang dari rombongan. Kita nyariin kamu tapi nggak ketemu-ketemu. Tiba-tiba ada warga yang lapor polisi, katanya ada wanita pingsan di dalam Pasar Bringharjo.” Mendengar penjelasan Doni, aku tiba-tiba tercekat. Teringat sesuatu yang baru saja aku alami.
“aku tadi ketemu dengan sepupumu, namanya Alifan.” Kataku dengan suara bergetar.
Mendengar pekataanku, kening Doni berkerut, seakan memikirkan sesuatu. “aku memang punya saudara sepupu namanya Allifan, tapi dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena bunuh diri.” Jelas Doni yang membuatku termangu beberapa waktu.

AJARI AKU TUK BISA...


“happy b’day to you... happy b’day to you... happy b’day happy b’day. Happy b’day to you...!” Masing-masing orang yang berada di dalam ruangan ini bersoraksorai dan bernyanyi sesuai kemauan  hati mereka masing-masing. Ya, Saat ini aku berada di antara euforia sebuah perayaan ulang tahun. Kami bersama-sama meniupkan ruh kebahagiaan bagi seseorang yang saat ini tengah merayakan hari pertambahan umurnya. Dia, yang kini sedang berdiri memegang kue tart coklat dan berada satu garis lurus di depanku itu tengah mengumbar senyum. Aku mencuri sebersit pandangan kepadanya. Ya, hanya sebersit. Karena memang aku tak mau sampai dia mengetahui aku sedang memperhatikannya.
Rambut jabriknya yang menjulang bagai pucuk Monas terlihat begitu mengkilap bermandikan gadsby. Tubuh jangkung dengan dada bidang membuat siluet tubuh sixpacknya terlihat kentara dalam balutan hem kotak merah bata yang agak ngepas.  Yin dan Yang bagai telah bersinergi menyatukan diri mereka menjadi  bulatan indah yang  bersembunyi di balik kaca mata mins tebalnya.  Kaki jenjang berlapis  celana jens abu-abu dan sepatu fantovel hitam mengkilap adalah penutup dari keindahan dirinya dari ujung sel hingga ujung sel yang lain.
Sejak mendapat kejutan ini, senyumnya yang bagai gula aren murni itu tak pernah lepas dari bibir tipisnya. Berulang kali kata terimakasih ia lontarkan kepada segenap sahabat yang telah membuat segala kejutan ini terlaksana. Satu persatu kawan-kawannya menjabat tangan dan mengucapkan selamat ulang tahun. Namun aku? Aku hanya berdiri terpekur tanpa memiliki keberanian secuilpun untuk sekedar mengucapkan kata selamat. Bahkan  paperbag yang sedari tadi tergenggam erat di tanganku, aku biarkan saja  menempel permanen di tanganku. Hadiah yang telah aku persiapkan sejak sebulan yang lalu ini, kini bagaikan sampai yang kurasa tak pantas aku berikan untuk pangeran seperti dirinya.
Dia masih sibuk membalas segala ucapan selamat dari segenap teman-temannya. Aku menyerah, mau dipaksakan bagaimanapun aku tak akan pernah memiliki nyali untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiah kecil ini. Aku mundur beberapa langkah. Aku balikkan badan dan berniat kembali ke ruanganku, ruang PKL. Belum sempat langkah pertama aku jejakkan ke lantai, ku dengar sebuah suara memanggilku.
“EH..DEK PKL!!” aku membalikkan badan dan kudapati laki-laki itu menatap lurus ke arahku. Dia tersenyum padaku. Ahhh... senyuman itu, senyuman yang selalu bisa membuat hatiku berdesir keras. Aku paksakan membalas senyumannya walau agak kikuk. Aku tak percaya, senyuman yang mampu merontokkan segala akal sehat  itu kini khusus ditujukan kepadaku, hanya untukku! Bagaikan terkena sihir, tubuhku tak mampu merespon segala perintah otakku. Tubuhku membeku, sampai sepersekian detik aku hanya bisa berdiri terpaku menatap sepasang mata indah itu lurus-lurus. Lihatlah! Betapa mata itu mampu membekukan seluruh peredaran darahku dan menghentikan seluruh denyut nadiku.
Karna aku tak memberikan respon apapun, dia lalu menghampiriku. Tubuhku  terkesiap, jantungku berdetak lima kali lebih cepat dari biasanya. Astaga mau apa dia bisikku.
“nih dek buat kamu. Kamu belum dapet kuenya kan? Oh iya nama kamu siapa?” tanyanya dengan enteng kepadaku sembari mengangsurkan sebuah piring kertas berisi sepotong tart.
“oh..eh...ehhmm ma..makasih mas. Namaku Anggun mas.” Jawabku dengan menahan rasa gugup yang amat sangat. Aku terima tart yang dia berikan untukku dengan tangan yang sedikit bergetar. Aku tertunduk tak berdaya menahan segala hujaman perasaanku sendiri.
“oh nama kamu Anggun.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya bertanda paham. “oh iya, itu di kokat kamu ada namanya ya? Kenapa aku masih tanya ya? Hehehe” tawanya renyah tanpa beban, seakan tak memperdulikan badai yang saat ini terjadi di dalam ruang hatiku. Aku hanya membalas guyonannya itu dengan senyum malu.
“yaudah deh dek, dimakan ya rotinya! Roti enak lho itu, kalau gak mau sini aku aja yang makan hehehe.” Sekali lagi dia membercandaiku. Dia membalikkan badan tanpa peduli bagaimana tanggapanku. Aku bagai tersentak. Seketika aku ingat paperbag yang sedari tadi menggantung manis di tanganku. Aku paksakan suaraku agar keluar dari kerongkongannya.
“MA...MAS ADIT!!!” baru sampai tiga, empat langkah dia berjalan , dia lalu membalikkan badannya lagi menghadap ke arahku.
“ada apa dek?” tanyanya dengan kening agak dikerutkan, membuat ekspresinya menjadi sangat lucu.
Aku berjalan ke arahnya dan perlahan mengangsurkan paperbag itu kepadanya. “selamat ulang tahun ya mas. Maaf kalau hadiahnya tidak berharga.” Akhirnya keberanian itu muncul juga. Aku pejamkan mata, benar-benar tidak siap menerima tanggapan darinya.
“wah apa ini dek? Hem..hem.. makasih banyak ya dek. Ah kamu ini pakai repot-repot ngasih hadiah segala.” Senyumnya terkembang lagi, membuat tulang pipinya terlihat jelas dan menghasilkan siluet wajah yang sangat mengagumkan.
“iya mas sa...” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba aku mendegar suara seorang wanita yang mendekat.
“hallo sayang!! Maaf ya aku telat, tadi macet soalnya. Happy birthday ya sayang! Wish you all the best. Tambah sayang sama aku pastinya!” kata wanita itu merajuk. Tangan kanannya merangkul leher Mas Adit dan tangan kirinya memegang totebag yang lumayan besar. Semua pemandanngan ini membuat dadaku terasa sesak, namun anehnya aku sama sekali tak beranjak dari tempat ini.
“hmmmm...nggak mau tahu, pokoknya aku ngambek!!!” jawab Mas Adit dengan muka cemberut yang dibuat-buat. Kata-katanya pun juga merajuk. Ah.. hati ini semakin perih saja.
“loh kok gitu sayang? Yaudah deh aku pulang aja. Hadiahnya gak jadi tak kasihin ke kamu nih.” Kata wanita itu sembari melepaskan rangkulannnya dari leher Mas Adit dan bersiap untuk pergi.
“eeehhhh!!! Jangan dong, iya iya deh gak jadi marah. Sini sini hadiahnya mana?” jawab Mas Adit sembari menarik pergelangan tangan wanita berambut panjang nan berkilau itu.
“halah, kamu ini kalau ada maunya aja jadi baik. Kalau enggak aja....” wanita itu melirik nakal ke arah Mas Adit. Matanya yang bening berkilat-kilat diterpa cahaya lampu neon di ruangan ini. Mas Adit tak menjawab, hanya lirikan tajam yang dia lemparkan. Kemudian tersenyum.
Mereka terus saja bermesraan tanpa menganggap ada makhluk hidup yang berdiri tercenung tepat di depan mereka. Hingga salah seorang staf administrasi sales menegur keduanya.
“woy!!! Jangan pacaran di sini woy! Ayo kerja..kerja... party nya udah selesai.” Kata admin sales itu.
“yee.. sirik aja kamu mah. Dasar jones, gak ngenakin orang pacaran aja!” gerutu Mas Adit. Dengan cekatan tangannya mengenggam tangan wanita yang ada di sampingnya itu dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan kantor. Si admin sales hanya tertawa cekikikan melihat tingkah temannya itu. Sedangkan aku,, aku masih sama seperti beberapa menit yang lalu, berdiri terpekur menatap nanar ke arah punggung Mas Adit yang semakin lama semakin hilang ditelan tembok ruangan. Tatkala Mas Adit benar-benar hilang dari pandangan, kusapu pandanganku ke seisi ruangan kantor ini. Hingga pandanganku membentur  pada seonggok benda tak berharga yang tergeletak di bawah kursi tempat Mas Adit tadi duduk. Paperbag itu....
***
Begitu penatnya hari ini karena tugas-tugas di tempat PKL sangatlah banyak. Tidak heran sebenarnya, karena memang ini adalah akhir bulan. Waktu di mana segala deatline perusahaan harus terpenuhi sebelum dijatuhkanya sanksi dari manager berupa pemotongan gaji. Walau kami hanya pelajar lapangan dan hanya bertugas membantu karyawan, tak ayal kami juga terkena dampak dari kebiasaan deatliner para karyawan kantor ini. Karena itulah aku dan teman-teman memutuskan rehat sejenak untuk melepas lelah dan penat di sebuah kaffe.
Kami mengambil seat di bagian pojok kaffe sisi barat. Kami duduk di sebuah soffa panjang berwarna kuning gading yang bersanding dengan meja kaca yang lumayan panjang. Seorang pelayan berjalan ke arah kami dan setelah sampai sejurus kemudian dia mengangsurkan sebuah daftar menu. Masinng-masing dari kami memesan makanan yang berbeda-beda. Tujuannya agar kami bisa joinan makanan satu dengan yang lainya.
Pelayan itu dengan patuh membawa pesanan kami untuk diserahkan kepada koki. Tinggal menunggu beberapa saat lagi makanan yang kami pesan akan segera terhidang dengan manis di atas meja. Untuk membunuh beberapa menit ini, kami menggunakan waktu  untuk bercerita tentang segala hal. Kudengarkan segala celotehan teman-temanku sembari menyisir segala yang ada di tempat ini. Kali ini memang aku menjadi jauh lebih pendiam dari yang biasanya. Pikiran dan hatiku berkecamuk akibat peristiwa tadi pagi di kantor.
Aku gelengkan kepala, berusaha merontokkan segala ingatan pahit yang begitu menyiksaku. Aku tenggelamkan diriku pada arus perbincangan teman-temanku, namun tetap saja kejadian itu menjadi topik yang tak dapat dihapus dari memori otakku. Aku edarkan pandanganku ke seluruh isi ruangan, mungkin dengan aku melihat-lihat seluruh sudut kaffe bergaya etnik ini mampu menghilangkan sedikit kegundahan hatiku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan meminta izin kepada teman-temanku bahwa aku ingin mencari udara segar. Teman-temanku yang tak mencium adanya perubahan derastis yang terjadi pada diriku mengiyakan saja apa kemauanku.
Aku berjalan pelan dan sesekali berhenti pada tiap-tiap lukisan klasik yang dipajang di dinding dengan figura berukir dari kayu jati. Aku mengagumi segala keindahan dan estetika seni, aku sangat mengapresiasi keseluruhan karya cipta ini, walau sejujurnya aku sama sekali tak memiliki bakat untuk melukis. Semakin lama aku semakin terhanyut dalam pengagumanku pada barisan figura yang terpajang rapi di sepanjang dinding dan di segala sudut kaffe ini. Hingga aku benar-benar lupa dengan rasa perih yang sejak pagi aku ratapi.
“hai sayang! Udah lama ya nunggu di sini? Maaf ya, aku tadi ada urusan sama si bodoh Adit itu dulu.” Kudengar lamat-lamat suara seorang wanita yang nampaknya aku kenal. Aku balikkan badan mencari dari mana sumber suara. Dan ketika mataku menangkap sesuatu yang janggal, aku terperanjat. Dia, orang yang telah mendapatkan hati yang begitu aku dambakan, kini tengah berangkulan dengan laki-laki lain. Betapa biadapnya dia yang telah menghianati seseorang yang sangat aku cintai. Aku tidak terima ini, hampir-hampir aku akan bergerak mendekati wanita jalang itu dan mengguyurkan segelas air yang ada di mejanya. Bila perlu aku ingin membanting gelas kaca itu tepat di kepalanya agar dia sadar atas apa yang telah dia lakukan. Namun aku mengurungkan niatku, aku harus melakukan hal lain yang lebih penting dari sekedar melabrak wanita tak tahu diri itu. Aku harus menelfon Mas Adit agar dia tahu dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah dilakukan wanita pujaannya itu di belakangnya.
Aku menekan sebaris nomer telefon yang sangat aku hafal, walaupun sebenarnya aku sama sekali belum pernah menelfonnya. Demi apapun aku korbankan segala harga diri dan aku  enyahkan anggapan bahwa aku telah mencampuri urusan orang lain. Semua ini agar Mas Adit tahu tentang sebuah mutiara berkilau yang sebenarnya busuk.
Aku tekan tombol call berulang kali namun selalu saja misscalled. Mas Adit kemana? Kenapa hpnya dimatiin? bisikku dalam hati. Di tengah kegusaran hatiku yang kian membuncah, aku putuskan untuk benar-benar melabrak wanita itu dengan tanganku sendiri. Namun belum sempat aku menjejakkan kakiku untuk pertamakali, sudut mataku menangkap bayangan laki-laki yang membuka pintu depan kaffe secara tergesa dan memasuki ruang kaffe dengan langkah gusar. Dengan cepat laki-laki itu mengahampiri meja wanita yang hendak aku labrak itu, dan...
“PLAKKKKKK!!!!” terdengar suara kulit yang beradu dengan kulit. Wanita itu seketika terduduk di kursi memegangi mukanya yang panas terkena tamparan keras sorang laki-laki yang ternyata adalah Mas Adit itu.
“HEI COYY!!! JANGAN KASAR SAMA PEREMPUAN!!!” bentak laki-laki yang tak lain adalah selingkuhan wanita itu. Laki-laki itu lalu bersiap mengepalkan tinjunya dan sejurus kemudian telah melayangkannya ke arah muka Mas Adit. Dalam sepersekian detik sebelum tinjuan itu mengenai kulit ari wajahnya, Mas Adit telah terkesiap dan menangkap kepalan tangan laki-laki itu dengan tangannya.
“BUKKKKKK!!!!” sekali lagi terdengar suara debaman keras. Laki-laki asing itu jatuh membentur meja akibat menerima tinjuan tangan kanan Mas Adit. Pelipis kanannya yang membentur meja seketika mengeluarkan darah segar. Laki-laki itu ingin membalas namun sudah tidak memiliki daya sedikitpun untuk mengeluarkan pukulan.
“aku nggak nyangka... aku bener-bener nggak nyangka kamu tega ngelakuin semua ini ke aku Din. Aku sayang banget sama kamu, tapi apa balasan kamu ke aku? Cuih, kamu malah selingkuh sama laki-laki lain setelah mendapatkan semua uang aku.” Mas Adit membuang muka, sekilas mengedarkan pandangan dan baru tersadar saat ini dia tengah mejadi pusat perhatian. Matanya kembali tajam menatap ke arah wanita yang sedang tertunduk menangis di depannya. “terimakasih untuk semuanya!! Aku rasa memang seharusnya kita berakhir di sini saja.”  Mas Adit berbalik badan dan meninggalkan dua orang pesakitan yang hanya bisa membisu itu. Ketika Mas Adit telah memegang gagang pintu kaffe, wanita yang ternyata bernama Dinandra itu berteriak memecah keheningan di tempat itu.
“A....ADITTT, MAAFIN AKU!!!” suaranya tercekat.
Mendengar kata-kata itu, Mas Adit menghentikan langkahnya dan seketika melemparkan sekilas pandangan kepada wanita yang dulu sangat dicintainya itu. “TERLAMBAT!” balasnya sembari bergegas meninggalkan ruangan itu. Dari pintu kaca kaffe ini, aku bisa melihat mas Adit menyetarter motor Ninjanya yang terparkir tepat di depan kaffe. Tanpa berfikir panjang aku berlari keluar dan dengan sigap aku starter motor Varioku untuk mengikuti Mas Adit yang telah lebih dulu berlalu. Tak peduli akan sampai manapun aku akan pergi. Yang jelas, yang ada di fikiranku untuk saat ini adalah aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.
***
“Plung...plung...” suara batu yang dilemparkan ke dalam air begitu nyaring menyambut kedatanganku. Senja telah tiba. Langit jingga yang begitu mempesona bermandikan semburat cahaya matahari yang keemasan dan serombongan burung-burung yang kembali ke peraduannya menambah syahdu suasana senja kali ini.
Jembatan ini begitu sepi karena memang letaknya yang agak jauh dari jalan raya. Di ujung-ujung jembatan yang membelah sungai kecil ini terhampar taman-taman bunga yang begitu indah. Sejenak mataku takjub melihat pemandangan yang nampaknya telah langka di kawasan perkotaan seperti ini. Hingga aku kembali tersadar dan memusatkan pandanganku pada seorang pria yang tengah terpekur di atas jembatan itu. Matanya merah dan ada air bening yang menyeruak dari kantung matanya. Dia menatap nanar ke arah riak-riak kecil air sungai yang mengalir. Sesekali dia lemparkan beberapa kerikil ke dalam air sungai. Aku memandang miris terhadapnya. Dia yang aku kenal  begitu gagah dan perkasa, kini begitu lemah dan rapuh oleh takdir cinta yang tak berpihak padanya.
Dengan ragu, perlahan aku berjalan mendekat kepadanya. Hampir dekat, tinggal beberapa langkah lagi aku sampai kepadanya, namun kuurungkan niatku. Kubalikkan badan seketika. Aku pejamkan mata dengan amat-sangat, aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku begitu ingin memeluknya dan menguatkannya, tapi aku faham posisiku saat ini. Mungkin sebaiknya aku  biarkan dia menenangkan fikiran dan menyendiri dulu di sini. Cukuplah aku mengamatinya dari jauh, memastikan bahwa dia baik-baik saja.
“dekkk??!!” aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya. Dia tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya agar aku mendekat kepadanya. Aku tidak yakin, namun aku tetap saja menuruti perintahnya.
“aku bodoh ya dek.” Katanya tiba-tiba tatkala aku telah berada tepat di sampingnya. Aku hanya terdiam karena tak tahu harus berkata apa.
“aku mungkin sudah tahu sejak awal bagaimana tabiat dia. Tapi aku tetep kekeuh mempertahankanya. Aku yakin aku bisa membuatnya berubah. Aku bertahan atas nama cinta. Tapi pada akhirnya pengorbanan ini harus sia-sia karena aku sudah tidak sanggup menanggung semua.” Dia terus saja berujar tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari sungai yang ada di depannya.
Sejenak aku terdiam, berusaha menyelami sisi hati laki-laki yang ada di samapingku ini. aku ingin benar-benar mengerti segala isi hatinya. “kamu enggak bodoh mas, yang bodoh itu Dia yang tidak bisa melihat segala pengorbanan dan ketulusanmu. Bodohnya dia yang malah memberikanmu segelas nila, padahal kamu telah memberinya satu ember penuh susu. Ck!” aku berdecak. Terdiam untuk beberapa saat. Entah angin apa yang meniupkan ruh keberanian kepadaku hingga aku  bisa berkata seperti itu. “mmmhh.. maafkan aku Mas. Maafkan kata-kataku yang lancang....”
“enggak dek... kamu benar. Mungkin dia bukan jodohku yang sebenarnya. Cinta tak bisa dipaksakan. Sebesar apapun pengorbanan yang aku lakukan, tetap tak mampu membeli harga sebuah cinta. Haha, ternyata umur tak menentukan tingkat kedewasaan seseorang.” Ucapnya ringan sembari tersenyum kepadaku. Kurasakan air mukanya kini tak lagi mendung seperti sediakala. Wajahnya yang tampan terkena bias cahaya matahari senja yang menjadikan parasnya layaknya patung dewa bersepuh emas. Aku lega sekaligus bahagia melihat bibir tipisnya itu kini berukirkan rembulan gading.
“kadang kita sebaiknya belajar mencintai orang yang mencintai kita daripada mengharapkan seseorang yang tak pernah mengharapkan kita. Kadang tanpa kita sadari, di belakang kita saat ini ada seseorang yang dengan segenap ketulusannya berdiri  memasang badan untuk membela kita. Dan tanpa kita sadari, tatkala kita menangis karena disakiti oleh orang yang kita cintai, ada seseorang yang hatinya berkali lipat lebih sakit daripada diri kita sendiri. Kebanyakan orang menyadari hadirnya seseorang  itu tatkala dia telah pergi.” Aku terperangah sejadi-jadinya. Aku tidak menyadari apa yang baru saja terucap dari sepasang bibirku. Semua ini terjadi begitu saja di bawah alam bawah sadarku. Aku palingkan muka menghadap ke arah Mas Adit. Dia menukikkan pandangan mata yang begitu tajam. Antara sorot mata tak mengerti dan menuntut sebuah penjelasan.
“maksudmu apa dek?” pertanyaannya membuatku tergeragap. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa.
“emmhh,, mungkin, suatu hari nanti, setelah orang itu pergi dari belakangmu, kau akan mengetahuinya mas.” Jawabku singkat dan bergegas meninggalkan Mas Adit yang masih terheran-heran dengan segala tingkah konyolku. Tapi aku tak peduli, bagaimanapun bubur tak akan pernah menjadi nasi.
***
Aku mengendarai motor maticku dengan perasaan campur aduk, antara gelisah membayangkan tindakan bodohku tadi di atas jembatan dan ketakutan akan mendapat azab dari Ayah karena telah pulang terlambat. Pikiranku carut marut, membuat konsentrasi mengemudiku menjadi pecah. Hingga kurasakan saku blazerku bergetar keras. Aku menepi dan mengecek hpku. Di layar hp tertera sebaris nomer telefon yang sudah kuduga akan segera menelfonkku.
Hah...bismillah.. gumamku dalam hati. Aku angkat telfon itu dan kuucapkan salam.
“Nggun, ini Ayah sama Ibu mau ke rumah sakit njenguk tetangga yang lagi lahiran. Kamu bawa kunci rumahkan?”  kata Ayahku dari seberang sana.
“iya Yah, Anggun bawa kunci rumah.”
“yaudah. Hati-hati di rumah ya. Assalamuallaikum.”
“waalaikumsalam.” Terdengar line telefon ditutup dari seberang sana. kulanjutkan perjalananku pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lega. Setidaknya hari ini aku tidak mendapat omelan dari orang tuaku.
Tidak berselang lama aku telah sampai di depan gang menuju rumahku. Dari kejauhan aku bisa melihat ada seorang laki-laki berdiri bersandar pada motor ninja hijaunya tepat di depan gerbang rumahku. Hatiku berdesir. Kutajamkan penglihatanku. Kupastikan benar-benar siapa orang itu. Ya tak salah lagi.
Motorku semakin mendekat ke rumahku. Hingga tatkala motorku telah berhenti tepat di depan motornya, dia tersenyum sumringah kepadaku. Aku balas tersenyum samar. Senyum yang jelas menyiratkan tanda tanya yang besar.
Tatkala aku berdiri tepat di hadapannya, dia langsung merengkuhku erat. Seakan aku baru saja hilang dari negri antah berantah selama berpuluh-puluh tahun dan baru ditemukan saat ini. Dadaku sesak karena badannya yang begitu  tinggi besar merengkuh tubuhku secara haus. Namun tak dapat kupungkiri, ada rasa hangat yang mengaliri seluruh nadi dan syarafku. Jantungku berpacu tujuhkali lebih cepat dari biasanya. Mataku basah oleh genangan air mata. Untuk beberapa saat lamanya aku hanya bisa terdiam tak memberontak. Di dalam rengkuhanya aku merasakan kenyamanan, sehingga aku tak ingin melepaskannya. Selamanya tak ingin melepaskannya.
“dek.. maafkan aku yang telah dibutakan oleh cinta yang fana. Sehingga aku tak sanggup untuk melihat cinta lain yang sebenarnya begitu besar dan suci. Maafkan aku yang telah terlalu bodoh mencampakkanmu. Maafkan aku yang bahkan sampai saat ini tidak bisa mencintaimu. Maafkan aku dek, kumohon... ajari aku tuk mencintaimu...” kata-kata itu dia ucapkan di sela rengkuhannya. Tepat di sebelah telinga kiriku, suaranya menjalar ke seluruh tubuhku. Membuat seluruh bulu romaku berdiri. Aku pejamkan mataku dengan amat sangat, dan kubalas merengkuh tubuhnya erat-erat. Seerat yang aku bisa. Aku tak ingin melepaskannya.
“sampai akhir nafas ini berhembus, aku akan mengajarimu untuk mencintaiku. Dan jikapun tetap tidak sanggup, aku sudah cukup bahagia karena bisa mencintaimu sepenuh usiaku.”
Kubuka mataku perlahan, memberanikan diri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Dan tatakala kubuka mataku, kulihat paperbag itu tergantung manis di atas montor ninjanya. Ya,, paperbag yang beberapa jam yang lalu pernah ia campakkan....
~END~