Stasiun Balapan
Mataku liar memandangi segala yang ada di sini dari sudut ke sudut, bahkan hingga celah terkecil sekalipun. Kuhirup udara di tempat ini dengan sangat haus. Dan aku tajamkan telinga, berusaha mendengar dengungan-dengungan suara mirip rombongan lebah yang di hasilkan oleh mulut-mulut manusia yang tengah berjejal. Juga suara bising dari roda besi yang beradu dengan besi. Aku rasakan sensasi yang selalu aku rindukan. Udara pengap, makhluk-makhluk yang berlalu-lalang mengurusi urusannya masing-masing, suara bising, dan apapun yang telah mampu menjadi candu untukku. Candu yang membuatku ketagihan untuk bisa datang ke sini lagi, lagi, dan lagi.
Ini sudah tanggal tujuh
belas yang ke tiga puluh enam kalinya, dan aku hanya melewatkan satu kali
rotasi bumi ini dengan duduk menekur seorang diri. Ya, tak pernah ku lewatkan
sekalipun, sejak tanggal tujuh belas tiga tahun yang lalu. Inilah tempat
terakhirku melihatnya dulu. Ketika dia berjanji untuk kembali pada tanggal yang
sama. Entah pada tahun yang keberapa, dia tak bisa memastikan. Waktu itu aku
hanya mengangguk. Percaya bahwa ia akan kembali. Tak peduli walaupun aku harus
menghitung tanggal tujuh belas hingga beratus kali, aku akan tetap menunggunya
di sini.
Hingga hari ini, aku
sedang melakukan ritual yang sama seperti tanggal tanggal tujuh belas sebelumnya.
Tak peduli tatapan sinis para petugas yang silih berganti berjalan di depan
atau di belakangku. Aku hanya terduduk, terpaku sembari melihat ular-ular besi
mega besar itu berseliweran di depan mataku. Aku pandangi setiap manusia yang
keluar dari perut-perutnya, siapa tahu dia muncul dengan sorotan matanya yang
bagai rembulan gading itu . Namun hingga detik ini sudut-sudut mataku belum juga
menemukan sosok gagah itu.
Aku bangkit dari
dudukku dan berjalan gontai menyusuri area ini. Kupasrahkan kemanapun kakiku
akan berpijak dan membawaku pergi. Otakku sudah terlalu lelah untuk berfikir, hati
ini sudah terlalu lelah untuk merasa, dan mata ini sudah terlalu jenuh untuk
meneteskan air mata.
Aku terus berjalan,
berusaha mencari kelonggaran hati dan ketenangan fikiran. Hingga langkahku tiba-tiba
terhenti tatkala melihat seorang wanita paruh baya tengah menjajakan
dagangannya. Dengan tangguh dia menggendong bakul
besar yang entah isinya apa, di tangan kanannya dia menenteng keranjang berisi
berbagai macam jajanan pasar, dan lagi, tampah
dari anyaman bambu itu dengan patuh bertahta di atas kepalanya. Aku mendekat ke
arah wanita itu. Kemudian sedikit berlari karena wanita itu hendak meninggalkan
tempat itu.
“Bu beli!” sahutku
sebelum wanita itu enyah dari pandanganku.
“oh iya neng.” Wanita itu
tersenyum dan menurunkan bakulnya kembali ke lantai tatkala iya akan
mengangkatnya ke dalam gendongannya. “beli apa neng?” lanjut wanita itu ketika mengetahui
aku sudah ada di sampingnya.
“aku beli semua jajanan
pasar ini Bu, tapi masing-masing makanan dua ya Bu.” Kataku sembari sibuk
mengamati masing-masing dari makanan itu.
“wah kok beli banyak
banget neng?” tanya ibu itu penasaran, sembari memasukkan makanan yang tadi aku
pesan ke dalam plastik.
“hahaha pacar saya suka
banget jajanan pasar Bu.”
“oh berarti pacarmu ada
juga di sini.”
“iya.” Jawabku berbohong
sembari tersenyum hambar.
Setelah transaksi jual
beli itu berakhir, aku putuskan untuk rehat sejenak di sebuah bangku sunyi di
sebelah utara rel kereta. Aku buka bungkusan makanan yang baru saja aku beli
tadi. Aku ambil salah satunya, serabi. Ahh, ini adalah makanan yang paling dia
sukai, dan aku ingat ketika dia mebisikkan sesuatu padaku pada waktu senja di
gazebo rumahnya dulu. Kamu tahu nggak,
kamu itu layaknya kue serabi ini. Cantik di luar dan nikmat di dalamnya. Nikmatnya
bahkan sampai nembus ke hati dan menyeruak ke ubun-ubun. Hmm kamu itu putih,
halus, lembut, wangi, dan mempesona seperti serabi ini. hehehe candanya
dulu kepadaku.
Aku terus mengunyah
serabi ini sedikit demi sedikit. Ketika lidah baru saja mencecap makanan ini
memang rasanya begitu manis, namun semakin lama aku mengunyah rasanya semakin
hambar bahkan hampir menjurus ke pahit. Ada apa ini? tidak biasanya aku
merasakan serabi yang seperti ini, hambar, getir, pahit. Hmmm memang semuanya
tak semanis tatkala dia ada di sini. Tiba-tiba ada air bening yang terdorong
ingin keluar dari naungannya. Tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku gigit bibirku
kuat-kuat agar tangis ini tidak menjadi-jadi, tak peduli jakalau ada darah
segar yang mungkin akan membuat bibir pucatku ini menjadi merah. Aku tak ingin
ketika dia nanti datang, dia akan melihatku menangis. Aku tak ingin dia
berspekulasi bahwa aku telah jemu menantinya.
Berulang kali aku
enyahkan bisikan-bisikan setan yang selalu saja menggodaku. Bodoh!! Apa yang kau lakukan? Ini tak ada
gunanya! Apakah dengan kau selalu menunggunya, selalu merindunya, dan selalu
menangisinya dapat membuat dia segera pulang? Apakah kau tidak sadar, bahwa
saat ini dia telah melupakanmu, dia telah bahagia dengan wanita lain yang jauh
lebih menarik darimu? Aduhai malangnya kau, menunggu cinta yang tak pasti
selama bertahun-tahun. Andaikan kau sadar sedari dulu, tentu kau tak akan
merana seperti ini. Bisikan itu terus saja datang, menghujam dan menikam keyakinanku.
Kukerahkan seluruh ketulusan perasaanku untuk menghalau bisikan hina itu, namun
logikaku terus saja membenarkan bisikan itu dan tak mau bersinergi dengan
perasaanku.
Aku tak kuat, aku
rapuh. Segera saja kupejamkan mataku. Kuhirup dalam dalam udara pengap ini,
mencoba merasakan udara yang sama seperti tiga tahun lalu. Perlahan kubuka kenangan
yang terpatri rapi dalam fikiranku. Kuputar kembali rekaman suaranya di memori
otakku. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan tiga tahun yang lalu.
Aku
berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus
ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak
menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
Ahhh.. kata-kata itu
selalu bisa membuat hatiku ringan, terbang melayang. Aku sibakkan kesedihan
yang tengah menggelayutiku. Aku ukir senyum indah di dasar lubuk hatiku. Aku kecanduan.
Aku ulangi mengingat kata-kata itu lagi....
Aku
berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus
ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak
menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
dan
saat ini aku bayar lunas segala janjiku Putri...
Aku terkejut.
Sepertinya ada yang salah dengan otakku. Kenapa ada kata tambahan yang tak
pernah ia ucapkan dulu? Ahh mungkin aku mengigau karena terlalu keras berfikir.
Aku ulangi sekali lagi mengingat kata-kata itu.
Aku
berjanji akan kembali ke pelukanmu Putri. Janji adalah hutang dan hutang harus
ada jaminannya. Dan jaminan atas hutangku ini adalah nyawaku. Jika aku tak
menepati janjiku berarti nyawaku hilang bersama janjiku....
dan
saat ini aku bayar lunas segala janjiku Putri...
Kurasakan hembusan
hangat di telinga kananku. Bau nafas yang sepertinya aku kenal, sangat kenal.
Aku singkap kelopak mataku buru-buru. Aku tengok sesuatu yang ada di atas
pundak kananku. Hidungku menyentuh lembut hidungnya yang mancung. Matakku
beradu dengan matanya. Senyumnya terkembang, membuat cekungan indah yang ada di
pipi kanannya terlihat kentara.
“ROYYYY!!!” Jeritku
menyebutkan namanya. Tak ada balasan suara yang keluar dari mulutnya, hanya
tangan kekarnya yang bertindak cepat menarikku ke dalam rengkuhannya. Aku
membeku seolah tak percaya. Apakah mataku sudah benar-benar terbuka? Aku takut
aku hanya sedang bermimpi dan ketika kubuka mataku, semua ini akan hilang dan
kembali seperti sediakala. Tapi, hei lihatlah! Aku bisa merasakan betapa sesak
tubuhku dicengkeram oleh tubuhnya. Aku benar-benar bisa merasakan kehangatan
tubuhnya. Ini nyata, ini bukan maya!
“Aku menepati janjiku
Putri. Dan sekarang hutangku sudah lunas.” Bisiknya kepadaku di sela-sela rengkuhannya.
“Lantas kau mau
mengambil kembali jaminannya?” Tanyaku
di sela isak tangis.
“Hmm jaminannya nyawaku
bukan?” Tanyanya kemudian. Aku mengangguk.
“Kalau begitu jaminan
ini akan ku serahkan padamu saja. Dan tak akan kuambil selamanya. Kau tahu
kenapa?” Dia bertanya lagi dan aku
hanya menggeleng.
“Karna aku berjanji tak
akan pernah lagi meninggalkanmu Putri, karna nyawaku ada pada dirimu.” Tandasnya.
Aku tersenyum
mendengarnya, hatiku tersenyum, mataku tersenyum, bahkan ku rasakan semuanya
yang ada di tempat ini ikut tersenyum melihat kebahagiaanku.
Aku tak ingin
melepasnya lagi. Dan Stasiun Balapan ini menjadi saksi betapa panjang
panantianku selama ini.