KENALILAH DIRI KALIAN
WAHAI PARA PENERUS
BANGSA!!!
MATERI
1: Konsep Diri, oleh Kak Hasan Fahrezi
Dari mana kamu berasal?
Dimana kamu sekarang? Dan hendak kemana kamu akan pergi? Pertanyaan sederhana
namun cukup membuat galau bila dipikirkan secara serius. Pertanyaan yang sangat
tepat ditanyakan kepada para mahasiswa generasi sekarang. Mayoritas mahasiswa
saat ini telah kehilangan jati diri dan hakekat dirinya yang menyandang status
mahasiswa. Alangkah indahnya bila kita mendengar jawaban seperti, Saya berasal dari desa terpencil, sekarang
saya kuliah di UNS, dan saya akan kembali ke desa saya untuk mengaplikasikan
ilmu yang saya dapatkan agar desa saya
menjadi lebih maju, namun jawaban mainstream
yang biasanya kita dapatkan adalah, misalnya, saya berasal dari kampung, saya sekarang kuliah di UNS, dan saya akan
ke kota besar untuk bekerja agar menjadi kaya. Paradigma yang salah yang
ada selama ini.
Oleh karena itu pengenalan
yang mendalam akan diri sendiri sangat dibutuhkan. Temukan satu saja kata dan mantapkan
diri untuk menjawab pertanyaan “siapa
diri Anda?” Agar anda benar-benar mengenal siapa diri anda yang sebenarnya.
Pada dasarnya untuk menjawab pertanyaan tersebut, jawaban dari masing-masing
kita intinya adalah beberapa point, yaitu:
1) Citra
Tubuh
Misalnya: Saya Wanita,
Saya Kuat, Saya Tinggi, Saya gemuk, dll
2) Diri ideal (hal yang diinginkan)
Misalnya: Saya Cantik,
dll
3) Harga Diri (menilai diri masing-masing)
Tentang segala hal yang
sebenar-benarnya ada pada diri kita.
4) Peran
Peran yang kita
lakukan.
Perlu juga membuat
analisis SWOT untuk lebih memahami kekuatan dan kelemahan diri. Analisis
tersebut antara lain, strength (kekuatan)
yang berasal dari dalam sendiri. Weakness
(kelemahan) yang berasal dari dalam diri sendiri. Opportunities (peluang) ini adalah kekuatan yang muncul dari luar
diri. Dan yang terakhir adalah threat (hambatan)
merupakan hambatan yang berasal dari luar diri. Misalnya:
Setelah kita benar
benar mengetahui apa kelebihan dan kekurangan kita, maka kita bisa menangani
kekurangan kita dengan memaksimalkan kelebihan yang kita miliki.
Sebagai manusia kita
memiliki banyak sekali identitas. Identitas disini dapat diartikan juga sebagai
tanggung jawab. Misalnya, terhadap Tuhan, identitas kita adalah sebagai hamba
yang mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya; dalam lingkungan sosial,
identitas kita adalah sebagai anggota masyarakat yang memiliki kewajiban untuk
mendatangkan kebermanfaatan bagi lingkungan; dan kewajiban bagi diri sendiri
adalah pemenuhan kesejahteraan diri. Dan masih banyak lagi identitas diri yang
kita miliki. Pada dasarnya segala bentuk identitas diri tersebut adalah tentang
kebermanfaat. Tidak mungkin setiap waktu kita bisa mengingat dari setiap
identitas yang kita miliki, jadi biarlah semuanya berjalan secara otomatis
sesuai alurnya, dan pastikan bahwa identitas yang kita miliki mendatangkan
kebermanfaatan.
MATERI
2: Peran Mahasiswa, oleh Kak Edo (IPB)
Sudahkah
sadar? Sekarang kita adalah seorang mahasiswa. Segala
bentuk kegiatan dan tanggung jawab sudah barang tentu berbeda dengan anak-anak
yang masih sekolah. Lantas muncul pertanyaan, apa bedanya antara mahasiswa dan siswa? Jawabannya adalah
kemandirian. Seorang mahasiswa harus bisa mengatur dirinya sendiri. Mungkin
apabila mahasiswa tersebut sudah tinggal jauh dengan orang tua atau ngekos, maka
dia sudah belajar untuk mengurusi dirinnya sendiri. Namun apabila mahasiswa
tersebut masih tinggal bersama orang tua, maka harus merubah perilaku jangan
seperti anak SMA.
Pada dasarnya mandiri
bukan hanya peduli dengan diri sendiri, tetapi juga peduli dengan orang lain. Individual Social Responsibility atau
tanggung jawab sosial individu adalah peran apa yang bisa kita lakukan sebagai
mahasiswa untuk masyarakat. Misalnya saja apabila dalam suatu kampung terdapat
beberapa pemuda, namun hanya diri kita saja yang kuliah, maka para pemuda
tersebut menjadi tanggung jawab kita. Intinya jangan memperkecil tujuan hanya
untuk diri sendiri, tapi perluas tujuan agar menjadi bermanfaat untuk orang
tua, keluarga, teman, kota, dan Indonesia.
Peran mahasiswa dapat
diklasifikasikan ke dalam empat hal, yaitu:
1) Agent of Change (membangun
kesadaran)
Ambilah
peran mulai dari sekarang. Misalnya dalam hal sederhana mengikuti acara
kampung. Lebih mengenal Pak RT dan Pak RW untuk kemudian bekerjasama membuat
suatu program yang berguna bagi kampung tersebut. Mungkin program masyarakat
melek internet, atau membuat usaha bersama tambak lele.
2) Iron stock (kekuatan
kepemimpinan)
Masing
masing diri kita adalah pemimpin bagi diri sendiri. Apalagi bagi kaum
laki-laki, memang sudah fitrahnya untuk menjadi imam atau pemimpin. Sebagai mahasiswa
hendaknya kita bisa menjadi pemimpin atau teladan dimanapun kita berada.
3) Social Control
(Aksi mahasiswa)
Sebagai
mahasiswa kita harus peka terhadap masalah-masalah yang terjadi baik di
sekeliling kita maupun di negara ini. ketika terjadi ketidakberesan dalam
sistem masyarakat atau pemerintahan maka kita harus berani menyuarakannya dan
harus mampu memberi solusi atas masalah tersebut. Namun jangan asal melakukan
aksi, kita harus mengkaji secara mendalam terhadap masalah tersebut agar
diketemukan solusi yang benar-benar tepat untuk mengatasi masalah yang terjadi.
4) Moral Force (penggerak
moral)
Mahasiswa
pada dasarnya adalah orang-orang yang terdidik dan memiliki budi pekerti yang
baik. Hendaknya mahasiswa mampu memberi teladan moral yang baik bagi setiap
orang yang ada di sekitarnya.
Intinya, kenali dulu lingkungannya, baru setelah itu
temukan apa yang bisa kamu lakukan. Terus berupaya berperan aktif dalam segala
lini masyarakat. Sebagai mahasiswa, sarjana itu pasti, tetapi sarjana yang
memiliki banyak cerita itu pilihan.
MATERI
3: Kepenulisan, oleh Kak Yuli Ardika Prihatama (alumni UNS)
Jika kita menganggap diri kita adalah generasi
penerus bangsa, maka bangsa seperti apakah yang akan kita teruskan? Sebelum
menjadi generasi penerus bangsa, baiknya meluruskan fikiran kita, baik mengenai
titik asal diri kita dan titik yang akan kita tuju. Karena fikiran yang ditusuk
dengan suatu faham yang salah akan jauh lebih berbahaya dibandingkan tubuh yang
tertusuk pisau mematikan. Tubuh yang tertusuk pisau akhirnya hanya akan mati,
namun fikiran yang tertusuk faham yang salah akan tersesat lalu mati dalam
peradapan. Raganya memang masih hidup namun pada hakekatnya dia telah mati.
Sesuatu yang diteruskan harus ada titik awalnya. Begitu
juga dengan menulis. Sebenarnya apasaja yang ada dalam kepenulisan? Berikut ini
beberapa hal terkait kepenulisan.
v Tujuan Menulis
a. Mengawal
pikiran masyarakat
b. Membangun
kesadaran nasional
c. Menentang
penyimpangan dan ketidakadilan
d. Membangun
persatuan
v Kriteria sebuah tulisan yang baik
a. Mudah
dimengerti
b. Komunikatif
d. Memenuhi
standar etika dan keadilan
v Modal agar bisa menulis dengan baik
-
Mendengarkan semua hal dan menyaring
dengan kesadaran akal.
-
Optimasi mekanisme pandang (menurut
Sobrong “Neo Letto”)
1. Sudut
Pandang
2. Cara
Pandang
3. Jarak
Pandang
4. Resolusi
Pandang
-
Kreativitas dan keberanian ekspresi jiwa
dalam bahasa
v Mari menulis...