Minggu, 13 Juli 2014

#EkspresiPuasa



Kupu-kupu Terbang Tak kembali

“Bulan suci Ramadhan sudah tiba. Maka dari itu kita akan menggelar razia prostitusi, miras, dan perjudian. Razia ini akan digelar beberapa kali dan di beberapa tempat di Kota Jati ini.
Kita mulai razia prostitusi malam ini juga. Saya kemarin mendapat laporan dari masyarakat kalau di daerah Semanggi ada kawasan prostitusi liar. Nanti malam pukul sebelas kita akan terjun ke lokasi. Ingat usahakan  jangan sampai ada yang kabur,” ucap Pak Triyatno, Kepala Satpol PP daerah Jati pada apel pagi ini.
Aku hanya bisa menghela nafas berat. Dari semua tugas-tugasku, inilah tugas yang paling tidak aku sukai. Berurusan dengan para kupu-kupu malam. Karena itu membuatku teringat tentang masa laluku.
***
Tepat ketika aku tengah melihat jam tanganku, mobil Satpol PP yang aku tumpangi telah memasuki jalanan  di tengah perkebunan milik warga. Menurut informasi yang diberikan warga, daerah ini merupakan daerah yang sering digunakan untuk kegiatan prostitusi liar. Pasukan yang diterjunkan untuk melaksanakan razia ini ada dua puluh orang. Kami dibagi dalam dua mobil, dan aku ikut dalam rombongan mobil pertama.
“Itu di sana!” seru salah seorang teman yang duduk di sampingku. Dia menunjuk sebuah warung kopi  remang-remang berdinding anyaman bambu. Gubuk itu kukira berukuran lima belas kali sepuluh meter.
Ketika mobil berhenti tepat di depan warung itu, seluruh  pasukan dengan sigap turun dari mobil dan berhamburan masuk ke dalam. Terdengar beberapa teriakan wanita yang sedang duduk-duduk di dalam warung. Beberapa teman praja menangkap wanita-wanita itu dan menggelandangnya ke atas mobil. Sedangkan aku ditugasi untuk menggrebek orang-orang yang sedang melakukan tindakan asusila di bilik-bilik yang ada di warung ini.
Aku berjalan tergesa masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdiri dari lima bilik yang hanya di sekat dengan papan tripleks dan berpintu korden. Delapan praja termasuk aku telah bersiap di depan bilik-bilik ini.
“Kita suruh mereka keluar atau kita langsung masuk dan grebek mereka?” tanyaku berbisik pada teman praja yang lain.
“Langsung grebek saja, takutnya mereka akan kabur lewat pintu darurat yang mungkin sudah mereka buat,” ucap Anton, sambil berbisik juga.
“Baiklah. Satu! Dua! Tiga!” hitungku yang langsung merangsek masuk ke dalam bilik yang ada di depanku.
Begitu aku telah berada di dalam bilik, aku menemukan seorang wanita berbikini  merah tengah menindihi seorang laki-laki yang bertelanjang dada.  Mereka tidak melakukan hubungan intim, belum lebih tepatnya. Hanya saja ketika aku masuk mereka tengah berciuman. Ciuman yang seketika mereka akhiri ketika mendengar hentakan kakiku ketika masuk ke bilik. Kedua orang itu menoleh ke arahku.
“Riska!” pekikku ketika melihat wajah wanita yang menindih laki-laki tadi. Seketika tubuhku bergetar hebat, jantungku berdegup beberapa kali lebih cepat, kurasakan nyeri yang teramat sangat di ulu hatiku.
Wanita itu sama terkejutnya seperti aku. Dia tidak banyak berubah. Hidung bangirnya, kulit putihnya, pipi tirusnya, tubuh langsingnya, dan ahh bibir merah mudanya masih persis seperti ketika terakhir kali kulihat.
“Ma..mas Rizal,” ucapnya terbata. Dengan jelas kulihat bibir tipis itu bergetar ketika mengucap namaku. Bibir merah muda yang telah dinodai oleh laki-laki bejat di sampingnya itu.
Aku masih diam terpaku. Tak mampu berucap, pun tak mampu menggerakkan tubuhku. Ini seperti mimpi . Tak mungkin, ini tak mungkin terjadi.
“Ada apa Zal?” tanya Anton khawatir karena melihatkku seperti orang yang kesurupan. Aku masih diam mematung, tak menjawab sepatahkata pun. “Hei kalian berdua, cepat keluar dan ikut kami ke kantor polisi!” hardik Anton sembari memukul dinding tripleks yang ada di sampingnya.
Mereka berdua lalu bangkit dari posisinya semula dan beranjak keluar dengan kepala menunduk. Namun sebelumnya Si laki-laki hidung belang itu mengenakan bajunya terlebih dahulu. Aku dan Anton menggiring mereka berdua dan pasangan bejat yang lainnya ke luar, untuk kemudian menaiki mobil Satpol PP. Aku membuntuti Riska tepat di belakangnya. Bahunya bergetar dan sayup-sayup kudengar suara sesenggukan. Oh Tuhan Riska menangis. Kutatap nanar punggung putih mulus yang bergetar itu.
“Woi! Yang pakai baju merah kabur!” seru salah seorang teman yang membuyarkan lamunanku. Sejak detik  itu aku sadar bahwa Riska telah kabur.
Sekelebat aku masih bisa melihat Riska yang berlari menuju kebun milik warga. “Biar aku saja yang ngejar!” ucapku pada teman praja yang lain. Dengan sigap aku berlari sekencang yang aku bisa agar tidak kehilangan jejak Riska.
Awalnya aku memang kehilangan jejak wanita itu karna di kebun ini  tak ada lampu yang menerangi. Hanya temaram cahaya bulan yang memberiku sedikit pencerahan. Namun beberapa saat aku mencari, ujung mataku menemukan sesuatu berwarna merah yang bersembunyi dibalik pohon asem. Kupelankan langkahku agar tidak terdengar olehnya. Dan hap! Kuraih tangannya dan kutarik ia ke dalam pelukanku. Pelukan yang sangat erat, seakan ia tak akan pernah kulepaskan.
Tangisnya pecah dipelukku. Aku semakin mengencangkan rengkuhanku. Kuciumi ubun-ubunnya. Kuelus lembut rambutnya.
“Kamu ke mana saja Ris? Setahun ini aku mencari kamu. Kenapa kamu malah menghilang dan membuatku jadi gila setengah mati?” ucapku dengan suara parau, ada air yang menggenangi bola mataku.
Tak ada jawaban. Dia hanya menangis dan terus menangis, membuatku semakin merasa iba.
“Apa ini pekerjaanmu sekarang? Ini pekerjaan keji  dan penuh dosa! Segeralah bertobat Ris selagi ini bulan puasa, bulan penuh pengampunan. Kembalilah padaku dan kita mulai semuanya dari awal lagi. Hapus semua kesalahan kita yang dulu, yaa.”
Mendengar perkataanku seketika dia meronta dan mendorong tubuhku ke belakang. Tak ayal aku terpaksa melepaskan rengkuhanku.
“Hah dosa? Keji? Puasa? Bulsyit Mas! Dasar munafik! Kamu sekarang bisa bilang begitu sama aku? Terus perbuatan kamu yang dulu itu harus dibilang apa?” ucap Riska setengah berteriak. Matanya nyalang, emosinya meletup-letup tak terkendali.
“Ta..tapi Masmu ini sudah tobat Ris, aku sudah bukan Rizal yang dulu. Aku berjanji untuk tidak mengulangi itu semua. Aku ingin menjalani bulan Ramadhan ini secara damai, dengan kamu tentunya. Aku ingin bisa tadarus, sholat berjamaah, dan sahur bersama kamu Ris. Aku ingin kamu kembali seperti Riska yang dulu, istriku yang manis dan sholekhah.” Tangisku benar-benar berderai.
“Hahaha dasar bodoh kau Mas! Kamu tidak ingat ya, siapa yang meninggaalkan aku ngaji, sholat, buka, dan sahur sendirian di rumah? Bahkan  kamu pernah seminggu tidak pulang demi bercumbu dengan banyak kupu-kupu malam, haa?
Dasar laki-laki bodoh! Bahkan aku menjadi seperti sekarang ini karena aku iri dengan wanita-wanita jalang itu yang selalu mendapatkan cintamu, sedangkan aku? Hah kurasa kau pun sama sekali tak pernah mencintaiku  Mas.”
Segala ucapan Riska telah mampu membuatku bertekuk lutut di depannya. Semua yang dia katakan begitu menohok dan memang semua itu benar.
“Riska.. mas minta ma..af.”
“Tak perlu minta maaf Mas karna semuanya sudah terlambat. Cukup kau biarkan aku bebas menikmati duniaku yang sekarang, aku bahagia seperti ini,” ucap Riska dan kemudian dia berlari masuk ke dalam rimbunnya semak-semak hingga tak terlihat lagi oleh mataku. Meninggalkanku bersimpuh sendirian dengan setumpuk penyesalan.
Kini kupu-kupu manisku telah pergi jauh ke dunia gelap yang menenggelamkannya ke dalam lumpur dosa dan kenistaan.


Diikutkan dalam tantangan menulis @KampusFiksi #EkspresiPuasa.

Minggu, 06 Juli 2014

#DramatisasiPolitik


Siapa yang Waras?

Saat ini aku memacu motor Tiger-ku pelan, membelah jalanan kota yang mulai sepi. Pikiranku buncah, tak tahu harus pergi ke mana sekarang. Biasanya jika aku memiliki suatu masalah, maka berbicara dengan istriku merupakan jalan keluar yang tepat. Namun saat ini tidak. Aku bahkan hampir bersitegang dengan istriku karena paham kami berbeda.
Masalah yang benar-benar menguras emosi. Aku harus segera menentukan pilihan yang sulit. Tak hanya aku dan istriku yang tak saling sependapat, tapi bahkan aku sendiri pun bingung harus memilih yang mana. Keduanya sama-sama berat.
Aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. Hmm ternyata sudah tengah malam. Gumamku. Sebenarnya aku sudah sangat lelah dan ingin istirahat, namun aku sedang tak ingin ada di rumah. Takut dihujani pertanyaan oleh istriku yang menuntutkku segera menentukan keputusan.
Aku memacu motorku pelan. Jika tadi aku berkeliling pusat kota yang masih terlihat sibuk, kini aku belokkan halauan ke arah gang kecil di sebuah perkampungan. Di belokan pertama ada gapura masuk kampung tersebut. Aku disambut oleh dua orang laki-laki yang tengah mabuk di pos ronda. Aku mengira mereka baru setengah mabuk. Aku putuskan untuk menghentikan motorku di depan pos ronda itu dan turun menghampiri mereka.
“Permisi Mas, boleh saya numpang istirahat di sini?” tanyaku berhati-hati. Dua orang itu memelototiku dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki. Aku memiringkan kepalaku bingung dengan apa yang mereka lakukan.
“Bawa ciu1  enggak?” tanya salah satu yang bertubuh kerempeng.
“Hmm maaf saya nggak bawa ciu, saya hanya bawa kacang ini.” Aku mengangsurkan satu bungkus besar kacang kulit yang sengaja aku bawa dari rumah, untuk berjaga-jaga jika aku harus terdampar di pinggir jalan semalaman ini.
“Ahh yowes, lumayan buat ngemil,” ujar yang satunya lagi. Dia bertubuh gempal dan mempunyai tato naga di tangan kirinya.
Aku tersenyum, kemudian membaringkan tubuhku di dekat mereka yang masih terduduk memegang gelas ciu mereka masing-masing. Aku mencoba memejamkan mata untuk sejenak merenggangkan otot dan syarafku yang sedari tadi menegang.
“Mau rokok Mas?” tanya Si Gempal sembari mengangsurkan satu bungkus rokok yang isinya tinggal separuh kepadaku. Aku menggeleng.
“Hahaha wong lanang kok nggak mau rokok, nggak mau ciu, apa ya pantes dibilang laki-laki tulen.” Dua orang itu terpingkal, membuatku sedikit geram, namun kubiarkan saja.
Aku masih memejamkan mataku ketika aku mendengar tayangan berita dini hari yang ditayangkan salah satu stasiun televisi. Pos ronda ini memang dilengkapi sebuah televisi berukuran empat belas inci dengan teralis besi yang melindungi tv ini dari tangan-tangan penjarah.
Aku sebenarnya tak benar-benar tidur, hanya sekedar memejamkan mata. Aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang disiarkan oleh reporter berita itu dan celotehan nggak jelas dari dua orang yang tengah mabuk ini.
“Sudarto Kartosuwiryo telah resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus mengadaan buku gratis Kementrian Pendidikan, karena telah menggelapkan  uang negara senilai tiga puluh milyar. Jaksa Penunutut Umum menuntut Sudarto harus dipenjara minimal dua puluh tahun dan denda minimal lima puluh milyar,” kata pembawa acara di tv itu.
“Halah wong pejabat itu semuanya maling. Nggak buku, nggak raskin semua dikorupsi. Wong kaya kok mental kere!” Si Gempal berkata begitu menggebu.
“Itu presidennya gimana kok anak buahnya korup semua? Kalau nggak bisa jadi presiden jangan jadi presiden. Ngatur anak buah sendiri aja nggak bisa, mana mungkin bisa ngatur rakyat segini banyak?” kata Si Kerempeng. Sesaat aku heran kenapa dia bisa berkata kritis padahal dia sedang mabuk.
“Hahaha, Ndul..Ndul. Emang kamu bisa apa kalau jadi presiden? Palingan kamu malingnya lebih banyak.” Si Gempal menimpali.
“Ya Saya bakal mendirikan pabrik-pabrik ciu dan lokalisasi di seluruh pelosok negri ini sebagai wujud ekonomi berdikari dan agar tercipta swasembada pangan di negri ini.” mendengar perkataan Si Kerempeng aku langsung terkekeh. Dia mengacungkan tangan ke atas persis seperti capres  yang sedang berorasi.
“Hahaha dasar bocah gemblung! Presidenya modelnya kayak kamu gini negara hancur Le,” Si Gempal tertawa sembari meminum ciunya, menyebabkan hujan lokal di mana-mana alias muncrat.
“La kalau Sampean yang jadi presiden, Sampean mau ngapain Mas?” tanyaku pada Si Gempal. Haha aku sudah seperti moderator handal yang ingin tahu visi misi kedua capres gila ini.
“Kalau saya jadi presiden, saya akan cari istri sebanyak banyaknya! Bila perlu Sarah Azhari dan Julia Perez akan saya jadikan istri saya!” ujarnya sembari mengangkat botol ciu layaknya mikrofon dan mengangkat tangannya yang dikepalkan tinggi-tinggi. Sontak aku dan Si Kerempeng tergelak.
Kuambil beberapa kacang kulit dan memakannya sembari menonton berita tengah malam ini.
“Walikota Serengan, Anwar Santoso Adi mengaku tidak memikirkan masalah wacana tentang pencalonan dirinya menjadi Presiden dari partai PHP. Menurudnya dia ingin fokus menata kota Serengan menjadi kota yang lebih baik lagi. Inilah keterangan yang disampaikan Anwar ketika ditemui wartawan di sela kesibukannya,” ucap pembaca berita berbibir tipis itu. Beberapa saat kemudian muncul tayangan tentang wawancara si walikota nyentrik itu.
“Saya nggak mikirin masalah copras-capres itu. Biar mereka yang lebih pinter dari saya yang maju jadi presiden. Wong ndeso kayak saya kok dicalonkan jadi presiden, yo ngawur Sampean,” ucap seseorang bertubuh ceking dan tinggi yang ada di tv itu.
“Orang bodoh ya gitu itu. Lawong kebanyakan orang pengen jadi presiden kok dia yang dicalonkan malah nggak mau. Tuh liat, rakyat pada dukung dia buat jadi presiden tapi dia nggak mau. Dasar goblok! Kalau rakyat mendukung dia berarti dia emang pantes jadi presiden,” ujar Si Kerempeng mengebu-nggebu.
“Heh, sejak kapan otakmu bener Ndul? Minum ciu malah otakmu jadi bener, kalau nggak minum malah konslet, mending kamu minum terus saja hahaha,” ucap Si Gempal.
Seketika aku beranjak dari dudukku dan segera menaiki motorku. Kini aku tahu apa yang harus aku pilih. Aku tahu jalan keluar dari semua masalahku.
“Mau ke mana Mas?” tanya Si Gempal yang terheran melihat aku yang tiba-tiba hendak meninggalkan mereka.
“Mau jadi presiden. Daripada yang jadi presiden nanti orang yang suka menggalakkan ciu, lokalisasi, dan poligami, mending saya saja yang jadi presiden, hahaha.” Perkataanku sontak membuat mereka bingung, namun seketika tergelak sendiri. Sebelum aku menghidupkan mesin motorku, aku sempat mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Dia siapa sih Mbloh?”
“Goblok! Dia itu Anwar, calon presiden yang kamu goblok-goblokin tadi,”
“Goblok! Kok kamu nggak bilang aku Mbloh?”
“Lawong aku juga goblok, hahahaha.” Tawa mereka meledak mengiringi senyum dan deru mesin motor yang aku pacu.
***

1) Ciu adalah minuman keras dalam bahasa Jawa (Solo).

NB: Menjawab tantangan Mimin @KampusFiksi tentang politik. ^^

Kamis, 03 Juli 2014

Tips Nulis


8 Kesalahan Penulisan Novel
Ada 8 Kesalahan Penulisan Novel yang umum dilakukan oleh penulis, walaupun sudah beberapa kali menghasilkan novel. Jangan khawatir, kesalahan itu bisa dihindari, atau diperbaiki, kok. Namun, ada 1 kesalahan fatal yang kamu lakukan saat menulis novel, yaitu gagal menyelesaikannya. Yeap, kesalahan yg lainnya dpt diperbaiki, kecuali satu itu. Gagal menyelesaikan cerita novel.

1.      Kamu mencoba mengetik dan mengedit pada saat yang sama.
Saat kamu menulis, di otak kamu direcoki oleh berbagai aturan, jangan ini, lakukan itu, dll. Semua aturan itu menggerogoti tulisanmu. Jadi, saat kamu menulis, tulis saja. tinggalkan saja aturan-aturan itu, tinjau lagi saat proses editing. Memang ada beberapa penulis yang bisa mengedit selagi menulis. Ini tergantung gaya penulismu, sih. Pilih mana yang sesuai dengan gayamu.

2.      Tidak ada konfilk. Semua tokohmu baik-baik saja. Kisahnya lemper--eh lempeng aja.
Dalam novel Anna Karenina, Tolstoy mengawali: Keluarga bahagia semua serupa, setiap keluarga tak bahagia, tak bahagia dalam jalannya sendiri. Orang bahagia, tak peduli betapa bagusnya mereka dalam dunia nyata, namun dalam fiksi itu membosankan. Jika semua tokoh dalam novelmu bahagia, para pembaca tak punya alasan untuk membacanya. Tentu saja boleh memiliki akhir bahagia, tapi pastikan bahwa karaktermu menderita, buat mereka berusaha meraih kebahagiaannya. Sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Dan bagaimana mereka meraihnya. Seperti dalam kehidupan nyata, tak peduli betapa pun kita menyayangi orang, meski demikian kita terkadang jengkel pada mereka. Pikirkan hubunganmu dengan saudara, atau kekasihmu. Berapa sering kamu setuju pada setiap tindakan dan ucapan mereka?

3.      Novelmu mudah ditebak.
Beberapa waktu lalu, dalam fiksi roman, kisah idol jatuh cinta dengan penggemarnya sedang in. Kalau ingin tulis novel bertema kayak gini, lakukan. Namun, ingat pembaca roman fiksi, mereka pasti banyak baca cerita serupa. Mereka tahu kecenderungan kisah novel seperti itu. Berilah kejutan pada kisah novelmu.

4.      karakter tokohmu klise, atau stereotipikal
Dalam setiap genre dalam fiksi pasti punya kekliseannya. Hindarilah, jika bisa. namun terkadang mereka tak terelakkan. Apa jadinya teenlit tanpa tokoh ketua OSIS, pemain basket, gadis super populer dan gadis culun, lugu? Jika kamu harus menggunakan karakter tokoh yang klise, buatlah tokohmu itu klise tapi spesial.

5.      Karakter utamamu nyebahi, nyebelin.
Jika karakter utama novelmu perengek, penggerutu, pembaca akan lempar novelmu ke dinding. Karakter utamamu punya kualitas yang bisa dibanggakan. beri masalah yang berat pada karaktermu dan kekuatan untuk mengatasinya. Dalam dunia nyata, kualitas seseorang dapat dilihat dari bagaimana dia menghadapi masalah, cara dia mengatasi masalah itu. Begitupun dalam fiksi.
6.      Kamu menulis saat kamu bosan.
Well, saat kamu bosan dengan naskahmu, para pembacamu kemungkinan besar juga akan bosan.

7.      Kamu menulis apa yang tak kamu baca, apa yang tak kamu kuasai.
Menggiurkan untuk beralih pada genre yang kini sedang in, apa pun itu. Kalau kamu nggak bisa—suka—baca kisah genre fantasy, kamu nggak akan menulis kisah bergenre fantasy. Jika memang kamu ingin menulis sebuah tema yang tidak kamu kuasai, maka pelajari dulu, riset, tanya pada orang yang lebih tahu. Lewat data yang lengkap dan komprehensif, maka tulisanmu akan hidup.

8.      Semua karakter tokoh-tokohmu serupa.
Dalam naskah pertama, tugasmu adalah menulis hingga novelmu selesai.

Naskah kedua, sudah waktunya berpikir tentang karakter2 tokoh dan pastikan setiap karakter bertindak dan berbicara seperti dirinya sendiri. Perhatikan dalam setiap dialog antar tokoh.

Menulis novel memang pekerjaan yang besar, namun hasilnya sepadan. Mudah banget bikin kesalahan saat menulis. Segera setelah kamu menyadarinya, lakukan yang terbaik untuk memperbaikinya. Mudah banget bikin kesalahan saat menulis, Segera setelah kamu menyadarinya, lakukan yang terbaik untuk memperbaikinya. Oke?
Sumber: http://www.lifehack.org/articles/lifestyle/8-common-novel-writing-mistakes-even-good-writers-may-make.html  https://twitter.com/de_teens  https://twitter.com/misni_parjiati