Laut
Belantara
Lana
Dari dulu aku selalu ingin
menjadi seperti Lufi, si bajak laut One Peace. Bisa menjelajahi seluruh lautan
di dunia dan bisa hidup bebas di tengah lautan.
Masih kuingat lekat semua keinginanmu
dulu yang kau katakan padaku. Dulu mungkin kita masih pubertas dan aku sama
sekali tak menganggap semua keinginanmu itu adalah masalah besar. Hingga saat ini, aku benar-benar mengutuki apa
yang kau ucapkan itu. Aku benci laut yang telah menggodamu dan membuatmu selalu
ingin bercumbu dengannya.
Kini aku tengah menginjakkan
kaki di atas kapal pesiar berbintang lima, JackStar. Selama seminggu aku dan si
kapal molek ini akan menjelajahi tubuh salah satu kekasihmu, lautan Hindia. Keberadaanku
di atas kapal milik Australia ini untuk menghadiri acara pertemuan para
pemegang saham, tapi terlepas dari itu aku juga ingin mencarimu. Kabar yang
terakhir aku dengar adalah bahwa kau bekerja di kapal pesiar ini.
Aku berjalan sendirian di atas
geladak utama kapal. Kemudian bersandar pada pagar besi pengaman sisi kapal. Kusapu
pandangan ke sekeliling. Dan sepanjang mata memandang yang kulihat hanya
hamparan lautan. Menyebalkan! Betapa cantiknya kekasihmu ini, pantas saja kau
begitu mencintainya.
***
Alan
Masih ada tiga gelas minuman di
atas nampan yang aku bawa. Aku masih harus menawarkan minuman ini pada tamu-tamu
yang mungkin saja kehausan. Cuaca di samudra Hindia pada puncak musim kemarau
seperti ini memang sangat panas.
“excuse me miss, do you want
to have some drink?” Dengan sopan aku menawarkan minuman pada wanita yang
sedang melamun di atas geladak utama. Begitu mendengar suaraku dia langsung
berbalik menghadap ke arahku.
“Softdrink please...” wanita
itu menghentikan kata-katanya mendadak setelah melihatku. Beberapa detik
berlalu , namun wanita itu tetap saja diam. Keningku seketika berkerut, dia
melihatku seperti bukan melihat manusia.
“Alan...” pekiknya kemudian.
“Anda orang Indonesia? Kok anda
tahu nama saya?” Aku bingung apakah aku pernah kenal dengan orang ini sebelumnya
atau tidak. Demi dapat mengingat ingat siapa orang ini, mataku menjamahi
seluruh senti tubuhnya.
***
Lana
Aku tak menyangka akan secepat
ini bisa bertemu denganmu Alan. Padahal baru saja aku akan bergerak mencarimu,
tapi kau malah yang menghampiriku.
“Berarti benar kau Alanku yang
dulu?” Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri.
“Alanmu yang dulu? Maksudmu apa?”
kebingungan terlihat jelas menguasai raut wajahmu.
“Apa kamu sudah menjadi seperti
keinginanmu waktu SMP dulu? Menjadi Lufi yang menguasai lautan?” Kerutan di
keningmu semakin kentara. Aku tersenyum kecut.
“Sebenarnya apa yang kamu ka..?”
Dia menghentikan kata-katanya. Matanya membulat. “Apa mungkin kamu Lana,
sahabatku waktu SMP dulu?”
“Hah, basi. Dari dulu kau selalu
menganggapku tak lebih dari sahabatmu.” Aku membuang muka.
***
Alan
Kalau kata orang Biar waktu
yang mengubah semuanya, menurutku itu benar. Lihat saja Lana. Dulu dia
tidak seperti ini. Dulu panjang rambutnya tak pernah melebihi bahu, dia selalu
memakai kaca mata minus dan kulitnya tak sebening seperti sekarang ini. Dia
benar-benar berubah.
Kuletakkan nampan berisi minuman
tadi di atas meja yang berada tak jauh di belakangku. Aku mengambil dua gelas
minuman, yang satu untuk Lana, dan yang satu untukku. Kuangsurkan gelas berisi
jus melon kepadanya.
“Apa kabar kamu Lan? Sudah Lama kita
tak bertemu.” Kataku basa basi, tapi mungkin ini memang benar-benar basi.
“Apa menurutmu aku akan baik-baik
saja setelah ditinggal seseorang tanpa pernah ada kabar?” Dia memandangku lekat.
“Ah sudahlah, kamu nggak akan pernah ngerti. Kamu juga nggak akan pernah mengerti
isi surat yang aku hanyutkan ke laut dulu.” Lanjutnya sembari menahan tangis.
“Aku tahu isi surat itu. Begitu
pula dengan isi hatimu.”
“Apa maksudmu?” tanyanya
terkejut.
“Angin yang budiman telah
berbaik hati mengantarkan botol berisi surat itu padaku.” Aku tersenyum simpul.
“Kenapa bisa? Bahkan kamu pergi
tanpa pernah membalas surat itu jika kamu benar-benar membacanya. Walau aku
tahu kamu tak pernah mencintaiku, tapi setidaknya jangan membuatku berharap
lebih padamu.” Satu dua tetes airmatanya mulai luruh.
Aku menghela nafas berat. “Aku
mencintai laut karna dulu kupikir dia bisa menjadi temanku, tempatku berlari
dari kenyataan hidupku yang tidak menyenangkan. Kau tahu sendiri ibuku adalah
pelacur, dan ayahku pengangguran kasar yang suka mabuk-mabukan. Aku pikir di
sini aku bisa berteman dengan laut dan apapun yang ada di sekitarnya. Tetapi aku
salah, ternyata laut sangat kejam. Aku tak punya teman di sini. Sepi dan
dingin. Aku kadang merindukan ibu dan ayah. Tapi lebih sering merindukan kamu,
Lana.”
***
Lana
Mataku membelalak. Berulang kali
memastikan apakah kata-kata itu benar diucapkan Alan. Kukira selama ini dia sangat
mencintai lautan. Tapi kenyataannya lautanlah musuh terbesarnya.
“Angin berhembus menerbangkan
dedaunan kering kemanapun ia sukai, dan daun kering tak mampu melawannya. Ia hanya
mampu pasrah menerima takdir, entah kemana angin akan membawanya. Bila angin
itu baik, ia akan membawa daun kering ke taman yang indah. Sedangkan angin yang
jahat, dia akan menerbangkan daun kering ke tempat sampah yang sangat
menjijikkan. Begitu pula denganku. Angin telah menerbangkanku ke tempat yang
sama sekali tak pernah aku ketahui sebelumnya. Pada awalnya kukira angin yang
membawaku adalah angin yang baik, namun sayang, angin ini adalah angin jahat
yang membawaku jauh dari orang-orang yang aku cintai.” Belum sempat aku
menanyakan apa yang baru saja dia katakan, dia kembali berkata panjang lebar.
***
Alan
Aku sebenarnya muak mengatakan
ini semua, tapi entah kenapa mata Lana mampu menghipnotisku dan membuatkku
mengakui semuanya.
“Apakah salah satu orang yang
kamu cintai itu adalah aku?” Pertanyaan yang aku takutkan keluar dari bibir
tipisnya, akhirnya terucap juga.
Aku tak kuasa menatap matanya. Aku
merasa hina setiap kali ada air bening yang menggenangi matanya. “Ya, aku
mencintaimu. Sangat mencintaimu?” Jawabku kemudian.
“Lalu kenapa dulu...” Lana menghentikan
kata-katanya, membuatku tak kuasa menolak untuk kembali memandang wajahnya. “Ah
sudahlah, tak usah membahas masalah yang lalu. Sekarang kita mulai semuanya
dari awal saja. Anggap kita baru saja ketemu dan kita menjalin hubungan yang
lebih serius dari awal. Bagaimana?” matanya yang berbinar menyiratkan
kebahagiaan yang teramat sangat, kurasa.
“Tidak. Tidak mungkin.”
“Loh kenapa tidak? Kita
sama-sama mencintai, apakah tidak mungkin kita bisa sama-sama menjalin cinta
yang serius?” Dia memegang lenganku dengan erat.
“Kau tahu Lana, kehidupan di
laut itu seperti kehidupan di hutan belantara. Liar, sangat liar seperti hewan.”
“Apa maksudmu?” Dia semakin
memburu ku.
“Aku mengidap HIV, dan aku telah
berhubungan dengan banyak laki-laki....”
#Diikutkan dalam tantangan menulis Kampus Fiksi #KaramDalamKata
#Diikutkan dalam tantangan menulis Kampus Fiksi #KaramDalamKata