Senin, 22 Desember 2014

#ImajinasiPenutup


Pia


"Aku hamil," katamu sembari tersenyum. Kulihat wajahmu yang ayu itu diselimuti rasa bahagia luar biasa. Namun tak begitu pula denganku. Apa yang baru saja kau katakan membuat hatiku menjadi panas. "Akhirnya aku bisa memenuhi kemauan ibuku,” lanjutmu masih dengan rona kebahagiaan.
 Angin berembus kencang di atas kapal feri ini. Senja di Selat Bali memang tak pernah mengecewakan. Banyak orang yang berlalu-lalang di lantai bawah, namun hanya kami berdua yang berada di atas dek ini. "Apa dengan kamu hamil, ibumu akan merestui hubungan kita?" Mataku tajam menusuk ke dalam mata wanita di depanku ini.
"Hhuhhh.” Dia mendengus pelan. "Sampai mati pun, ibuku tak akan pernah merestui hubungan kita." Ada amarah dalam nada suaranya. Aku tersenyum. Ibumu benar. Hanya ibu gila yang membiarkan anaknya menjalin hubungan tak sehat seperti ini.
"Entah ibumu setuju atau tidak, aku tak peduli. Aku tidak takut jika ibumu akan benar-benar membunuhku seperti yang dia ancamkan waktu itu. Justru yang aku takutkan saat ini adalah kau." Sontak dia menoleh ke arahku. Matanya yang belok seketika membesar. Raut kebingungan merayapi wajahnya.
"Apa maksudmu?” Kulihat bibirnya sedikit bergetar. Aku tertawa hambar. Kusulut sebatang rokok dan mengisapnya berlahan. Asap rokok yang menggumpal kini mengisi kekosongan di antara kami berdua. Aku masih diam. Terlampau malas membicarakan ini semua.
"Laras, jawab aku. Kenapa kau diam saja? " Matanya kembali membulat. Dengan tatapannya itu seakan dia menuntutku untuk mempertanggungjawabkan apa yang baru saja aku katakan. Aku memutar badan. Berusaha menatapnya yang kurasa kini tak lagi sama. Aku merasa dia semakin cantik setelah dijamah oleh laki-laki. Dan semakin bertambah lagi tatkala dia hamil. "Siapa laki-laki yang kau mintai sperma untuk membuahi rahimmu? " Puntung rokok yang sedari tadi masih kuhisap, kusentuhkan pada tangan Pia, membuatnya meringis dan menggigit bibirnya. Aku sangat suka melihat bibirnya seperti itu. Dan ini sudah sering aku lakukan padanya.
"Dia Fadil. Laki-laki yang pernah aku ceritakan padamu. Dia..."
"Kenapa harus dia?” Aku membanting puntung rokokku. Kau tahu dia sangat mencintaimu. Dia bahkan telah berulang kali mencoba membunuhku. Kenapa kau tidak bayar laki-laki lain saja? Aku bisa mencarikan laki-laki lain kalau kau mau,” ucapku penuh amarah. Hatiku telah benar-benar panas kali ini. “Ahh, atau jangan-jangan kau memang telah mencintai dia?”
“Jangan ngawur kamu ini. Satu-satunya orang yang aku cintai ya hanya kau. Andaikan kamu bisa menghasilkan sperma, aku pasti akan memintamu untuk melakukan ini semua. Tapi, aku hanya memberi satu kali saja kesempatan untuk Fadil. Bagaimanapun dia sudah sangat baik kepadaku.” Dia merangkulku, dan merebahkan kepalanya di dadaku.
Mendengar penjelasannya, aku terdiam. Menatap lurus ke hamparan laut yang luas. Kubiarkan waktu berlalu begitu saja dalam dekapanmu. Ku ingin semua ini tak lekas berakhir. Tak peduli ada beberapa pasang mata yang menatap jijik ke arah kami dan kemudian pergi. Pun, tak peduli dengan langit yang berubah semakin gelap seiring dengan  hawa yang bertambah dingin. “Aku mencintaimu Pia, sangat mencintaimu,” bisikku di telinganya.
Dia tersenyum simpul dan semakin mengeratkan dekapannya. “Aku juga mencintamu Laras. Kau adalah wanita terbaik yang pernah kutemui.” Suaranya yang lembut benar-benar menggetarkan hatiku. Kubelai rambutnya yang panjang. Kukecup ujung kepalanya dengan penuh rasa cinta.
“Kau masih ingat kan dengan kata-kataku dulu, bahwa aku akan membunuhmu jika kau berani mencintai laki-laki atau wanita selain aku?” Aku mendongakkan wajahnya menghadap ke wajahku. Aku ingin menatap matanya, agar aku tahu apakah dia jujur atau tidak.
“Te..tentu Laras. Aku hanya mencintaimu. Kita telah tidur di ranjang yang sama selama tiga tahun, apakah itu kurang cukup untuk membuatmu percaya?” Suaranya bergetar, dan kulihat matanya sedikit berkaca-kaca. Entah mengapa, aku merasakan jika saat ini dia sedang berdusta.
“Kau tak main-main kan dengan ucapanmu? Karna sekali pun aku tak pernah bermain-main dengan ucapanku!” tanyaku dengan tegas dan keras. Dia hanya menggeleng pelan.
Angin semakin kencang berhembus, membuat rambut dan rok midi yang Pia kenakan berkibaran. Kupandanginya lekat-lekat. Aku berusaha untuk mempercayai kata-katanya, namun masih saja sebagian hatiku mengatakan bahwa dia telah berdusta. Di tengah lamunanku, tiba-tiba ponsel Pia berbunyi. Buru-buru dia lihat ponselnya, namun kemudian dengan cepat dia tutup kembali ponsel itu. Seketika kuraih ponselnya dengan cepat.
“Apa-apaan kamu Ras! Cepat kembalikan ponselku!” teriak Pia sembari berusaha merebut ponselnya dari tanganku. Sekuat tenaga aku mencegah Pia dan berusaha membaca SMS yang baru saja masuk.

Text Box: Fadil:
Aku sudah sampai di Hotel, sayang. Aku ada di kamar nomer 67, tepat di sebelah kamar yang telah kamu pesan dengan Laras. Sampai jumpa di Bali ya sayang.

Tubuhku tiba-tiba bergetar hebat. Tak kusangka. Belum ada beberapa menit aku memperingatkannya untuk tidak menghianatiku, tapi sekarang dia telah benar-benar melakukannya.
 “Sa...sayang dengarkan aku dulu. Kamu salah sangka. Ini tidak sep...”
“Plak!!” aku menampar pipi kanannya dengan keras. “Kau mau mati, ha? Baru saja kuperingatkan mu, tapi sekarang? Ini sudah cukup menjadi bukti!” Sekuat tenaga kulemparkan ponsel Pia ke tengah laut. Tak peduli dengannya yang terus menjerit meratapi ponselnya yang telah mengapung di laut.
“Aku tak bisa membiarkanmu hidup.”
“Ta..tapi Ras...”
Kudorong tubuh Pia ke dek kapal yang tidak memiliki pagar pengaman. Dia terus saja meronta, membuatku kewalahan. Namun dengan amarah yang memuncak, seakan menambah tenagaku menjadi beberapa kali lipat. Kita sama-sama wanita, namun aku dapat mengalahkannya. Sekuat tenaga aku dorong tubuhnya terjun ke laut.
“La.. Laras!! Tolong!!” Pia berteriak dengan keras sebelum akhirnya...
“Byurr!!” Pia benar-benar jatuh ke laut.
“To...tolong!!” kulihat kepalanya muncul tenggelam di permukaan air. Beberapa orang yang melihat kejadian ini sontak ikut menjerit dan berusaha menolong Pia. Namun sayang mereka terlambat. Tubuh Pia sudah menghilang dari permukaan.

NB: Diikutkan dalam tantangan #KampusFiksi #ImajinasiPenutup.
Kalimat terakhir diambil dari novel Istanbul In Love (Putri Indri Astuti)

Senin, 15 Desember 2014

#Bunyi Puisi


Kembar Mayang

Kembar mayang yang sepasang.
Begitu lihai mengobrak-abrik hatiku yang tengah gusar.
Gelap!
Tak ada tikungan, tak ada pintasan.
Kau terus melaju tanpa mempedulikan.

Janur kuning yang tersampir.
Begitu dasyat memukulku untuk mundur beberapa hasta.
Telah sanggup memberiku kaca benggala.
Bilakah ku tahu diri?
Ataukah memang ku tak punya harga diri?

Jangkar yang telah diangkat.
Bahtera telah siap berangkat.
Kenapa Kau begitu jahat?
Membiarkanku terkapar sekarat.
Dasar keparat.


Diikutkan dalam tantangan Kampus Fiksi #BunyiPuisi.
NB: Ini kisah nyata. :D XD

Minggu, 13 Juli 2014

#EkspresiPuasa



Kupu-kupu Terbang Tak kembali

“Bulan suci Ramadhan sudah tiba. Maka dari itu kita akan menggelar razia prostitusi, miras, dan perjudian. Razia ini akan digelar beberapa kali dan di beberapa tempat di Kota Jati ini.
Kita mulai razia prostitusi malam ini juga. Saya kemarin mendapat laporan dari masyarakat kalau di daerah Semanggi ada kawasan prostitusi liar. Nanti malam pukul sebelas kita akan terjun ke lokasi. Ingat usahakan  jangan sampai ada yang kabur,” ucap Pak Triyatno, Kepala Satpol PP daerah Jati pada apel pagi ini.
Aku hanya bisa menghela nafas berat. Dari semua tugas-tugasku, inilah tugas yang paling tidak aku sukai. Berurusan dengan para kupu-kupu malam. Karena itu membuatku teringat tentang masa laluku.
***
Tepat ketika aku tengah melihat jam tanganku, mobil Satpol PP yang aku tumpangi telah memasuki jalanan  di tengah perkebunan milik warga. Menurut informasi yang diberikan warga, daerah ini merupakan daerah yang sering digunakan untuk kegiatan prostitusi liar. Pasukan yang diterjunkan untuk melaksanakan razia ini ada dua puluh orang. Kami dibagi dalam dua mobil, dan aku ikut dalam rombongan mobil pertama.
“Itu di sana!” seru salah seorang teman yang duduk di sampingku. Dia menunjuk sebuah warung kopi  remang-remang berdinding anyaman bambu. Gubuk itu kukira berukuran lima belas kali sepuluh meter.
Ketika mobil berhenti tepat di depan warung itu, seluruh  pasukan dengan sigap turun dari mobil dan berhamburan masuk ke dalam. Terdengar beberapa teriakan wanita yang sedang duduk-duduk di dalam warung. Beberapa teman praja menangkap wanita-wanita itu dan menggelandangnya ke atas mobil. Sedangkan aku ditugasi untuk menggrebek orang-orang yang sedang melakukan tindakan asusila di bilik-bilik yang ada di warung ini.
Aku berjalan tergesa masuk ke dalam sebuah ruangan yang terdiri dari lima bilik yang hanya di sekat dengan papan tripleks dan berpintu korden. Delapan praja termasuk aku telah bersiap di depan bilik-bilik ini.
“Kita suruh mereka keluar atau kita langsung masuk dan grebek mereka?” tanyaku berbisik pada teman praja yang lain.
“Langsung grebek saja, takutnya mereka akan kabur lewat pintu darurat yang mungkin sudah mereka buat,” ucap Anton, sambil berbisik juga.
“Baiklah. Satu! Dua! Tiga!” hitungku yang langsung merangsek masuk ke dalam bilik yang ada di depanku.
Begitu aku telah berada di dalam bilik, aku menemukan seorang wanita berbikini  merah tengah menindihi seorang laki-laki yang bertelanjang dada.  Mereka tidak melakukan hubungan intim, belum lebih tepatnya. Hanya saja ketika aku masuk mereka tengah berciuman. Ciuman yang seketika mereka akhiri ketika mendengar hentakan kakiku ketika masuk ke bilik. Kedua orang itu menoleh ke arahku.
“Riska!” pekikku ketika melihat wajah wanita yang menindih laki-laki tadi. Seketika tubuhku bergetar hebat, jantungku berdegup beberapa kali lebih cepat, kurasakan nyeri yang teramat sangat di ulu hatiku.
Wanita itu sama terkejutnya seperti aku. Dia tidak banyak berubah. Hidung bangirnya, kulit putihnya, pipi tirusnya, tubuh langsingnya, dan ahh bibir merah mudanya masih persis seperti ketika terakhir kali kulihat.
“Ma..mas Rizal,” ucapnya terbata. Dengan jelas kulihat bibir tipis itu bergetar ketika mengucap namaku. Bibir merah muda yang telah dinodai oleh laki-laki bejat di sampingnya itu.
Aku masih diam terpaku. Tak mampu berucap, pun tak mampu menggerakkan tubuhku. Ini seperti mimpi . Tak mungkin, ini tak mungkin terjadi.
“Ada apa Zal?” tanya Anton khawatir karena melihatkku seperti orang yang kesurupan. Aku masih diam mematung, tak menjawab sepatahkata pun. “Hei kalian berdua, cepat keluar dan ikut kami ke kantor polisi!” hardik Anton sembari memukul dinding tripleks yang ada di sampingnya.
Mereka berdua lalu bangkit dari posisinya semula dan beranjak keluar dengan kepala menunduk. Namun sebelumnya Si laki-laki hidung belang itu mengenakan bajunya terlebih dahulu. Aku dan Anton menggiring mereka berdua dan pasangan bejat yang lainnya ke luar, untuk kemudian menaiki mobil Satpol PP. Aku membuntuti Riska tepat di belakangnya. Bahunya bergetar dan sayup-sayup kudengar suara sesenggukan. Oh Tuhan Riska menangis. Kutatap nanar punggung putih mulus yang bergetar itu.
“Woi! Yang pakai baju merah kabur!” seru salah seorang teman yang membuyarkan lamunanku. Sejak detik  itu aku sadar bahwa Riska telah kabur.
Sekelebat aku masih bisa melihat Riska yang berlari menuju kebun milik warga. “Biar aku saja yang ngejar!” ucapku pada teman praja yang lain. Dengan sigap aku berlari sekencang yang aku bisa agar tidak kehilangan jejak Riska.
Awalnya aku memang kehilangan jejak wanita itu karna di kebun ini  tak ada lampu yang menerangi. Hanya temaram cahaya bulan yang memberiku sedikit pencerahan. Namun beberapa saat aku mencari, ujung mataku menemukan sesuatu berwarna merah yang bersembunyi dibalik pohon asem. Kupelankan langkahku agar tidak terdengar olehnya. Dan hap! Kuraih tangannya dan kutarik ia ke dalam pelukanku. Pelukan yang sangat erat, seakan ia tak akan pernah kulepaskan.
Tangisnya pecah dipelukku. Aku semakin mengencangkan rengkuhanku. Kuciumi ubun-ubunnya. Kuelus lembut rambutnya.
“Kamu ke mana saja Ris? Setahun ini aku mencari kamu. Kenapa kamu malah menghilang dan membuatku jadi gila setengah mati?” ucapku dengan suara parau, ada air yang menggenangi bola mataku.
Tak ada jawaban. Dia hanya menangis dan terus menangis, membuatku semakin merasa iba.
“Apa ini pekerjaanmu sekarang? Ini pekerjaan keji  dan penuh dosa! Segeralah bertobat Ris selagi ini bulan puasa, bulan penuh pengampunan. Kembalilah padaku dan kita mulai semuanya dari awal lagi. Hapus semua kesalahan kita yang dulu, yaa.”
Mendengar perkataanku seketika dia meronta dan mendorong tubuhku ke belakang. Tak ayal aku terpaksa melepaskan rengkuhanku.
“Hah dosa? Keji? Puasa? Bulsyit Mas! Dasar munafik! Kamu sekarang bisa bilang begitu sama aku? Terus perbuatan kamu yang dulu itu harus dibilang apa?” ucap Riska setengah berteriak. Matanya nyalang, emosinya meletup-letup tak terkendali.
“Ta..tapi Masmu ini sudah tobat Ris, aku sudah bukan Rizal yang dulu. Aku berjanji untuk tidak mengulangi itu semua. Aku ingin menjalani bulan Ramadhan ini secara damai, dengan kamu tentunya. Aku ingin bisa tadarus, sholat berjamaah, dan sahur bersama kamu Ris. Aku ingin kamu kembali seperti Riska yang dulu, istriku yang manis dan sholekhah.” Tangisku benar-benar berderai.
“Hahaha dasar bodoh kau Mas! Kamu tidak ingat ya, siapa yang meninggaalkan aku ngaji, sholat, buka, dan sahur sendirian di rumah? Bahkan  kamu pernah seminggu tidak pulang demi bercumbu dengan banyak kupu-kupu malam, haa?
Dasar laki-laki bodoh! Bahkan aku menjadi seperti sekarang ini karena aku iri dengan wanita-wanita jalang itu yang selalu mendapatkan cintamu, sedangkan aku? Hah kurasa kau pun sama sekali tak pernah mencintaiku  Mas.”
Segala ucapan Riska telah mampu membuatku bertekuk lutut di depannya. Semua yang dia katakan begitu menohok dan memang semua itu benar.
“Riska.. mas minta ma..af.”
“Tak perlu minta maaf Mas karna semuanya sudah terlambat. Cukup kau biarkan aku bebas menikmati duniaku yang sekarang, aku bahagia seperti ini,” ucap Riska dan kemudian dia berlari masuk ke dalam rimbunnya semak-semak hingga tak terlihat lagi oleh mataku. Meninggalkanku bersimpuh sendirian dengan setumpuk penyesalan.
Kini kupu-kupu manisku telah pergi jauh ke dunia gelap yang menenggelamkannya ke dalam lumpur dosa dan kenistaan.


Diikutkan dalam tantangan menulis @KampusFiksi #EkspresiPuasa.